Ayura terbangun dengan seluruh tubuh yang amat nyeri terutama di bagian sendinya. Matanya terasa bengkak dan panas hasil menangis semalaman. Girsa tidak pernah memberi jeda, meski pertengkaran mereka telah mereda, sikap dinginnya tetap terasa seperti di awal. Tanpa bisa ditahan, air matanya kembali mengalir. Sesekali pria itu menyebut nama Heidy, tapi bukan itu yang membuatnya sakit, melainkan cara pria itu memperlakukannya. Itu menyakitkan. Ia memegangi pipinya yang semalam ditampar. Ayura masih lemas untuk bergerak, namun mata Girsa terbuka saat dirinya begitu berharap pria itu akan tertidur lama. Ayura was-was, ia menunduk kala Girsa hanya menatapnya intens. Tubuhnya berjengit ketika Girsa menyingkap selimut mereka, memperlihatkan tubuhnya yang lemah. Dengan cepat, pria itu kembali mendekat. "Tubuhku masih sakit, jangan lakukan ini lagi, Tuan, kumohon." Ayura memohon dengan suaranya yang bergetar. Girsa tidak merespons, ia justru mendekatkan wajahnya dan menghapus jej
Huling Na-update : 2026-02-14 Magbasa pa