Dering ponsel membuat Ayura tersentak kecil, dia lantas menghentikan kegiatannya merangkai buket bunga untuk mengisi waktu, lalu mengangkat telepon tersebut. Melihat nama bibinya tertera di layar, membuat Ayura mengambil napas sejenak. Mendekatkan ponselnya ke telinga, suara ketus Pamela yang sangat ia kenal terdengar. "Bagaimana kabarmu?" Ayura tahu pertanyaan itu bukan ditujukan untuk dirinya, melainkan bayinya. Ia mengusap perutnya yang kini sudah sedikit menonjol. "Baik, Bi." "Kenapa kau belum mengirimkan uangnya?" Ayura sudah menduganya. "Aku masih mengusahakannya, tolong tunggu sebentar lagi, Bibi." ucapnya hati-hati. "Bukankah uang yang kuberikan waktu itu cukup banyak?" "Sampai kapan, Yura?" Nada suara bibinya meninggi. "Uang banyak bukan berarti tidak bisa habis. Uangmu hanya cukup untuk membayar biaya selama empat bulan, kami juga perlu makan! Kami sudah tua, Yura, sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Sudah sepatutnya kau membalas budi pada kami." Ayura terdi
Last Updated : 2026-03-04 Read more