Pagi itu di panti asuhan yang kini telah bersolek mewah terasa begitu kontras dengan badai yang mulai bergejolak di dalam dada Abram Sidarta. Langkah kakinya yang ragu tertahan di ambang pintu, matanya menyapu setiap sudut ruangan yang kini tampak asing baginya. Kemewahan yang dipaksakan masuk ke bangunan sederhana itu terasa seperti tamparan keras bagi harga diri Abram. “Waalaikumsalam, pagi Nak Bram,” sapa Rahmi dengan senyum yang selalu sama, hangat dan menenangkan, meski kini ia berdiri di tengah-tengah ruangan yang tampak seperti lobi hotel berbintang. “Kemarin ruangannya belum berubah, sekarang tiba-tiba semakin bagus, Bu,” puji Abram, namun suaranya terdengar hambar, ada nada getir yang terselip di balik pujian itu. Rahmi tersenyum lebar, ada rona kebanggaan saat menceritakan perubahan ini. “Iya, Bram. Suaminya Maya yang tiba-tiba merapikan semuanya kemarin siang. Ibu sendiri sampai pangling, gak nyangka bisa secepat itu.”
آخر تحديث : 2026-03-01 اقرأ المزيد