Brian membeku sejenak, memberikan waktu bagi tubuh Amaya untuk beradaptasi dengan kehadirannya yang dominan. Ia mengecup kening Amaya, menghapus air mata kecil yang merembes di sudut mata istrinya. "Bernafaslah, Sayang... aku di sini," gumamnya lembut, sebuah kontradiksi dari tatapannya yang tetap tajam dan posesif. "Brian... aku takut," bisik Amaya lirih, jemarinya mencengkeram bahu Brian yang keras. Ia mengangkat wajahnya, menatap Amaya dengan kelembutan yang jujur. Ia bisa melihat ketulusan dan kemurnian di mata istrinya. Ia tahu, ia adalah yang pertama. Dan kesadaran itu memicu rasa posesif yang luar biasa di dalam dadanya. "Aku akan pelan, Amay. Percayalah padaku," bisik Brian. Ia mengecup kening, hidung, lalu berakhir di bibir Amaya dengan sangat lembut, mencoba meredam ketakutan yang merajai hati istrinya. Sentuhan Brian berubah menjadi lebih sabar, lebih mendalami set
Baca selengkapnya