Amaya meremas sprei sutra di bawah jemarinya, mencoba mencari tumpuan saat dunianya seolah jungkir balik. Di bawah remang lampu tidur yang menyala kekuningan, ia melihat puncak kepala Brian yang bergerak teratur di antara kedua kakinya. Pria itu, yang biasanya begitu kaku dan penuh kuasa di meja kantor, kini tengah berlutut dengan pengabdian yang menyesakkan napas. "Bri... Brian, apa yang kamu..." kalimat Amaya terputus, berubah menjadi lenguhan panjang saat lidah Brian kembali menyapu titik paling sensitifnya dengan tekanan yang pas. Sensasi basah dan panas itu menjalar dengan cepat, mendaki hingga ke tulang belakangnya. Amaya merasa seolah-olah seluruh saraf di tubuhnya meledak serentak. Ia mencoba menutup rapat kedua pahanya karena rasa malu yang menyerang secara tiba-tiba, namun tangan Brian yang besar dan kuat mencengkeram pangkal pahanya, menahan posisi Amaya agar tetap terbuka untuknya. "Diamlah, Amay. Nikmati saja," bisik Brian dengan suara yang sangat serak, hampir meny
آخر تحديث : 2026-02-20 اقرأ المزيد