Dinginnya ruangan isolasi di fasilitas medis Alpen itu terasa membeku, namun bukan karena salju yang turun di balik jendela kaca besar, melainkan karena tatapan mata Aruna yang kini tertuju pada Dewa. Ujung laras pistol hitam yang digenggam Aruna tampak sangat stabil, tanpa getaran sedikit pun, menunjukkan bahwa wanita itu bukan lagi sosok lembut yang dulu takut menyentuh benda tajam. Cahaya biru dari perangkat di bawah kulit lengannya berkedip dengan ritme yang menghipnotis, seolah-olah sedang mendikte setiap detak jantung dan tarikan napasnya.'Aruna, ini aku. Suamimu. Ayah dari anakmu,' batin Dewa sambil mengangkat kedua tangannya perlahan, menunjukkan bahwa ia tidak memegang senjata apa pun."Aruna, letakkan senjatanya. Ini aku, Dewa. Aku datang untuk membawamu pulang ke Elang," ucap Dewa dengan suara yang diusahakan setenang mungkin, meskipun dadanya terasa seperti dihantam palu godam mel
Read more