LOGINLima tahun bersembunyi, Aruna terpaksa kembali ke pelukan Dewa Adiwangsa demi menyelamatkan nyawa ibunya, meski ia harus membawa Elang, putra rahasia mereka. Namun, Dewa yang kini penuh dendam telah menyiapkan penjara emas untuk menghancurkan hidup Aruna sebagai balasan atas pengkhianatan masa lalu. Di tengah intrik keluarga yang kejam, Aruna harus memilih antara melindungi identitas anaknya atau menyerah pada obsesi posesif sang CEO.
View MoreLautan awan di bawah Labirin Tanpa Nama tampak bergejolak, seolah olah mencerminkan badai informasi yang sesaat lagi akan dilepaskan oleh Aruna ke seluruh penjuru bumi. Di dalam ruang kendali utama stasiun atmosfer itu, suasana terasa sangat dingin namun penuh dengan ketegangan yang terukur. Aruna duduk di tengah lingkaran monitor holografik yang memancarkan cahaya biru neon, jari jarinya bergerak dengan ritme yang hampir menyerupai melodi kematian bagi mereka yang mencoba menyembunyikan kebenaran. Di sampingnya, Julian berdiri kaku, tangannya terhubung ke sensor biometrik yang berfungsi sebagai antena penguat sinyal, menyalurkan algoritma uniknya untuk menembus dinding api militer yang paling kuat sekalipun.'Ini adalah kalimat terakhir yang akan aku tulis untuk dunia. Bukan sebagai fiksi yang menghibur, tapi sebagai kenyataan yang akan membebaskan atau justru menghancurkan mereka,' batin Aruna sambil menarik napas panjang,
Salju pertama di musim dingin mulai turun dengan lembut, menyelimuti lembah Alpen dalam keheningan yang serba putih. Rumah kayu keluarga Adiwangsa kini tidak lagi hanya menjadi tempat persembunyian, melainkan sebuah ruang rehabilitasi bagi jiwa yang telah lama mati rasa. Di sudut beranda, Julian duduk diam dengan selimut tebal melingkari bahunya. Matanya yang dulu sedingin es kini tampak kosong, namun sesekali menunjukkan kilatan kebingungan saat ia melihat kepingan salju yang mencair di telapak tangannya. Tanpa perangkat Iris dan tanpa klon digital Sofia yang membisikkan instruksi, Julian harus belajar kembali bagaimana menjadi manusia yang benar-benar merasakan sensasi fisik dan emosional yang murni.'Aku telah membangun menara kaca untuk menghindari kesepian, namun di sini, di tengah kesunyian pegunungan, aku baru menyadari bahwa selama ini aku hanya sedang berteriak di dalam ruangan hampa,' batin Julian sambil menghela na
Menara Harmoni Digital menjulang di pusat London seperti sebilah pedang perak yang menghujam awan mendung. Di puncaknya, lantai yang seluruhnya terbuat dari kaca memberikan ilusi bahwa siapa pun yang berdiri di sana sedang berpijak di atas dunia yang kian rapuh. Aruna melangkah keluar dari lift berkecepatan tinggi dengan langkah yang tetap tenang meskipun jantungnya berdentum keras di balik rusuknya. Di sampingnya, Dewa bersiaga dengan kewaspadaan seorang predator yang sedang memasuki wilayah lawan. Ia tidak membawa senapan panjang, namun tangannya selalu berada di dekat sabuk taktis yang menyembunyikan senjata jarak pendek yang mematikan.Di tengah ruangan yang luas dan minimalis itu, Julian Adiwangsa duduk di sebuah kursi ergonomis yang menghadap ke arah panorama kota. Ia tidak berbalik saat pintu lift terbuka, seolah-olah ia sudah menghitung frekuensi langkah kaki kakaknya sejak mereka memasuki lobi gedung. Di sekelilingny
Angin musim gugur yang tajam menusuk melewati celah jaket tebal yang dikenakan Elang saat ia melangkah keluar dari stasiun kereta bawah tanah King's Cross di London. Kota ini tampak sangat berbeda dari keheningan pegunungan Alpen yang selama ini menjadi dunianya. Di setiap sudut jalan, layar LED raksasa memancarkan cahaya biru lembut yang menenangkan, menampilkan logo Harmoni Digital sebuah lingkaran sempurna yang saling bertautan. Orang-orang berjalan dengan langkah yang sangat teratur, hampir semuanya mengenakan perangkat ramping di pelipis mereka yang dikenal sebagai Iris. Perangkat itu memberikan antarmuka visual yang menyesuaikan warna dunia sesuai dengan suasana hati pemakainya, mengubah kelabu London menjadi pemandangan yang selalu tampak seperti matahari terbenam yang indah.'Bunda benar, ini bukan lagi tentang paksaan. Mereka secara sukarela menyerahkan kendali atas persepsi mereka hanya demi menghindari rasa sedih,'
Raungan mesin mobil SUV yang dipacu Dewa membelah kesunyian jalanan pesisir menuju teluk barat dengan kecepatan yang mengerikan. Ban mobil berdecit tajam setiap kali melewati tikungan tajam yang berbatasan langsung dengan tebing karang. Di dalam kepalanya, suara tangisan Aruna yang memohon pertolong
Dingin yang menusuk seketika menyergap seluruh pori-pori kulit Aruna saat air laut yang asin dan pekat menerjang masuk ke dalam kabin helikopter. Suara dentuman logam yang menghantam permukaan air masih berdenging hebat di telinganya, menciptakan rasa pening yang luar biasa. Cahaya lampu darurat di
Dada Dewa terasa seperti dihantam godam raksasa saat ia menyadari lampu indikator keamanan di atas pintu ruang kerjanya padam total. Ruang rahasia di balik lemari buku itu seharusnya menjadi tempat paling aman di seluruh jagat raya, sebuah benteng kedap suara dan kedap udara yang hanya bisa diakses
Lantai marmer yang dingin terasa menusuk telapak kaki Aruna saat ia berdiri mematung di depan pintu ruang kerja Dewa. Kata-kata Dewa di dalam telepon tadi masih terngiang jelas di telinganya, berputar-putar laksana kaset rusak yang menyiksa batinnya. 'Tembak di tempat'. Kalimat itu bukan sekadar anc












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews