MasukLima tahun bersembunyi, Aruna terpaksa kembali ke pelukan Dewa Adiwangsa demi menyelamatkan nyawa ibunya, meski ia harus membawa Elang, putra rahasia mereka. Namun, Dewa yang kini penuh dendam telah menyiapkan penjara emas untuk menghancurkan hidup Aruna sebagai balasan atas pengkhianatan masa lalu. Di tengah intrik keluarga yang kejam, Aruna harus memilih antara melindungi identitas anaknya atau menyerah pada obsesi posesif sang CEO.
Lihat lebih banyakKilau lampu kristal yang menggantung megah di langit-langit lobi Adiwangsa Group terasa begitu menyilaukan mata Aruna pagi itu. Ia berdiri kaku di atas lantai marmer Italia yang sangat bersih, hingga ia bisa melihat pantulan wajahnya sendiri yang tampak kuyu, pucat, dan penuh kecemasan. Aruna meremas tali tas selempangnya yang sudah mengelupas di beberapa bagian, berusaha keras menekan gemuruh di dadanya yang terasa seperti ingin meledak. Setiap embusan napas yang ia keluarkan terasa berat, seolah udara di gedung pencakar langit ini terlalu mahal untuk dihirup oleh orang sepertinya.
Sudah lima tahun berlalu sejak ia melarikan diri dari kota ini dengan luka yang menganga di hatinya. Aruna pernah bersumpah di bawah rintik hujan malam itu bahwa ia tidak akan pernah sudi menginjakkan kaki lagi di Jakarta, apalagi di gedung yang menjadi simbol kekuasaan keluarga Adiwangsa ini. Namun, takdir sepertinya sedang senang bercanda dengan hidupnya yang malang. Biaya operasi jantung ibunya yang membengkak di rumah sakit daerah memaksa Aruna untuk menelan harga dirinya bulat-bulat. Ia harus kembali ke pusat pusaran yang selama ini ia hindari demi satu tujuan: bertahan hidup.
'Dewa tidak boleh tahu aku kembali. Jakarta itu luas, dia tidak mungkin berada di lobi pada jam seperti ini,' batin Aruna sambil mencoba menenangkan diri.
Aruna melangkah ragu menuju meja resepsionis yang dijaga oleh dua wanita cantik dengan seragam yang sangat rapi. Ia sadar betul bahwa penampilannya saat ini sangat kontras dengan kemewahan di sekelilingnya. Kemeja putihnya sudah mulai menguning karena terlalu sering dicuci, dan rok kain hitamnya tampak sudah kehilangan warnanya. Ia merasa seperti noda di atas kanvas putih yang bersih.
"Maaf, Mbak. Saya ingin menyerahkan lamaran untuk posisi staf administrasi yang ada di iklan kemarin," ucap Aruna dengan suara yang diusahakan tetap tenang meskipun ujung jemarinya gemetar.
Salah satu resepsionis menatap Aruna dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sedikit guratan penghinaan di sana, namun wanita itu tetap profesional. "Silakan taruh di kotak itu, Mbak. Nanti akan diproses oleh tim personalia di lantai sepuluh."
Baru saja Aruna hendak meletakkan map cokelatnya, suasana di lobi mendadak berubah drastis. Para petugas keamanan yang tadinya berdiri santai di dekat pintu putar langsung sigap membentuk barisan lurus. Para karyawan yang sedang melintas mendadak berhenti di tempat dan menepi, menundukkan kepala mereka dengan sikap hormat yang sangat berlebihan. Suasana menjadi sunyi senyap, hanya menyisakan deru mesin pendingin ruangan yang halus.
Lalu, terdengarlah suara itu. Suara derap langkah sepatu kulit yang tegas dan berirama tetap, menggema di seluruh penjuru lobi. Setiap langkahnya memancarkan otoritas yang mutlak, menciptakan aura intimidasi yang membuat udara di sekitar Aruna terasa semakin menipis. Aruna membeku. Ia sangat mengenali irama langkah itu. Irama yang dulu pernah menjadi musik favoritnya, namun kini menjadi lonceng kematian bagi ketenangannya.
Aroma kayu cendana yang hangat bercampur dengan aroma jeruk yang segar namun maskulin mulai memenuhi indra penciuman Aruna. Itu adalah parfum yang sama, parfum yang selalu Dewa gunakan sejak mereka masih kuliah. Jantung Aruna berdegup sangat kencang, hingga ia merasa seolah-olah seluruh dunia bisa mendengarnya.
'Tidak, tidak mungkin. Kenapa dia harus lewat sekarang?' jerit Aruna dalam hatinya yang mulai panik.
Tanpa berpikir panjang, Aruna segera memutar tubuhnya dan menundukkan kepala sedalam mungkin. Ia merapat ke sebuah pilar marmer besar yang berada di dekat meja resepsionis, mencoba menjadikan tubuhnya sekecil mungkin agar tersembunyi dari pandangan rombongan pria berjas yang baru saja masuk. Ia membiarkan rambut panjangnya tergerai menutupi sisi wajahnya, berdoa dalam hati agar Dewa hanya lewat begitu saja menuju lift pribadinya.
Rombongan itu semakin dekat. Aruna bisa mendengar suara Dewa yang sedang memberikan instruksi dengan nada rendah, dingin, dan penuh penekanan kepada asistennya. Suara itu kini terdengar jauh lebih matang dan berwibawa dibanding lima tahun lalu, namun tetap memiliki ketajaman yang sama. Aruna menahan napas sekuat tenaga, memejamkan mata rapat-rapat sambil meremas tasnya.
Namun, tepat saat Dewa berada sejajar dengan pilar tempat Aruna bersembunyi, langkah kaki yang tegas itu mendadak berhenti. Keheningan yang tercipta setelahnya terasa begitu mencekam bagi Aruna. Ia bisa merasakan tatapan tajam seseorang sedang tertuju ke arahnya, menusuk hingga ke tulang belakangnya.
"Angkat kepalamu sekarang," perintah sebuah suara rendah yang mengancam.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Aruna. Ia mengenal nada suara itu. Nada yang tidak menerima penolakan. Dengan sisa keberanian yang ada, Aruna perlahan-lahan mengangkat wajahnya dan mendongak. Di sana, berdiri Dewa Adiwangsa dengan setelan jas tiga lapis yang sangat pas di tubuh kekarnya. Wajah pria itu tampak lebih tirus dengan rahang yang lebih tegas dibanding dulu. Namun yang paling menakutkan adalah matanya. Mata yang dulu selalu menatap Aruna dengan kelembutan yang memabukkan, kini hanya menyisakan kegelapan pekat yang penuh dengan kebencian dan kemarahan.
Dewa menatap Aruna tanpa berkedip selama beberapa detik, seolah sedang memastikan bahwa penglihatannya tidak sedang menipunya. Bibirnya menyeringai tipis, sebuah seringai kejam yang membuat bulu kuduk Aruna merinding seketika.
Tanpa peringatan, Dewa melangkah maju dan mencengkeram lengan Aruna dengan sangat kuat. "Berani sekali kamu menampakkan wajah di depanku setelah semua yang kamu lakukan, Aruna?"
"Lepaskan saya, Pak! Anda salah orang! Saya hanya ingin mencari kerja di sini!" teriak Aruna sambil mencoba meronta. Namun, tenaga Dewa jauh lebih besar. Pria itu justru menyeret Aruna menuju lift khusus petinggi yang berada di ujung lobi.
Semua mata di lobi tertuju pada mereka, namun tidak ada satu pun yang berani bersuara apalagi menolong. Dewa mendorong Aruna masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai teratas dengan kasar. Begitu pintu lift tertutup, Dewa langsung menyudutkan Aruna ke dinding lift yang mengkilap, mengunci tubuh wanita itu dengan kedua tangannya yang kokoh.
"Salah orang? Kamu pikir aku akan lupa pada wajah wanita yang menghancurkan harga diriku, mengkhianati cintaku, dan kabur seperti pengecut setelah menerima uang haram dari ibuku?" desis Dewa tepat di depan wajah Aruna.
"Aku tidak pernah mengambil uang itu, Dewa! Ibumu yang memfitnahku agar kamu membenciku!" Aruna berteriak dengan air mata yang mulai jatuh membasahi pipinya. Rasa sakit di lengannya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya saat menyadari bahwa Dewa masih mempercayai kebohongan Sofia Adiwangsa.
Dewa tertawa rendah, sebuah tawa sinis yang terasa sangat menyakitkan bagi Aruna. "Berhenti membual, Aruna. Aku punya bukti transfer ke rekeningmu sehari setelah kamu pergi. Kamu menjual hubungan kita demi beberapa ratus juta, dan sekarang kamu kembali karena uang itu sudah habis, kan?"
Pintu lift berdenting terbuka di lantai paling atas. Dewa kembali menarik Aruna keluar dan menyeretnya melewati koridor menuju ruang kantornya yang sangat luas. Ia membanting pintu kantor itu dan mendorong Aruna hingga wanita itu jatuh terduduk di kursi kulit besar di depan meja kerjanya. Dewa berjalan memutari meja dan duduk di kursi kebesarannya, menatap Aruna dari balik meja marmer hitamnya dengan tatapan seorang predator yang baru saja menangkap mangsa lamanya.
"Kamu ingin bekerja di sini, kan? Kamu sangat butuh uang sampai rela mengemis pekerjaan di perusahaan pria yang sudah kamu khianati?" tanya Dewa sambil menyilangkan kakinya dengan tenang.
Aruna menghapus air matanya dengan kasar, mencoba membangun kembali pertahanannya yang sudah hancur. "Aku butuh uang untuk biaya rumah sakit ibuku. Jika aku punya pilihan lain, aku tidak akan pernah sudi datang ke sini."
Dewa menumpu kedua tangannya di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke arah Aruna. "Bagus. Karena aku suka orang yang sedang terdesak. Aku akan memberimu pekerjaan, Aruna. Tapi jangan harap kamu akan duduk manis di balik meja administrasi dengan jam kerja yang teratur."
Aruna menatap Dewa dengan curiga. "Pekerjaan apa maksudmu?"
"Kamu akan menjadi asisten pribadiku. Tugasmu adalah melayaniku selama dua puluh empat jam sehari. Kamu akan tinggal di mansionku, menyiapkan segala kebutuhanku, dan tidak boleh pergi ke mana pun tanpa izin dariku. Kamu akan menjadi tawanan di bawah pengawasanku," ucap Dewa dengan nada yang sangat mutlak.
"Itu gila! Aku punya kehidupan! Aku tidak bisa tinggal di rumahmu!" protes Aruna dengan suara yang parau.
Dewa menyeringai lagi, kali ini lebih lebar. Ia mengambil sebuah dokumen dari laci mejanya dan melemparkannya ke hadapan Aruna. "Itu adalah bukti deposit biaya operasi jantung ibumu yang baru saja aku lunasi sepuluh menit yang lalu melalui asistenku. Jika kamu menolak pekerjaan ini, aku akan menarik kembali biaya itu dan memastikan tidak ada satu pun rumah sakit di negara ini yang mau menerima ibumu."
Aruna merasa dunianya benar-benar runtuh berkeping-keping. Dewa telah merencanakan ini semua. Pria itu sudah tahu ia akan datang dan telah menyiapkan jebakan yang tidak mungkin bisa ia hindari. Nyawa ibunya kini berada di tangan pria yang sangat membencinya.
'Tuhan, bagaimana dengan Elang? Jika aku tinggal di mansionnya, siapa yang akan menjaga anakku?' tanya Aruna dalam hatinya yang penuh ketakutan.
Aruna menatap Dewa dengan tatapan penuh kebencian sekaligus keputusasaan. Ia tidak punya pilihan lain. Ia harus menyelamatkan ibunya, meskipun itu berarti ia harus masuk ke dalam neraka yang sudah disiapkan Dewa untuknya.
Dewa berdiri dari kursinya dan berjalan perlahan menuju Aruna. Ia membungkuk, menumpukan tangannya di sandaran kursi Aruna, lalu berbisik tepat di telinga wanita itu. Aroma parfumnya yang kuat membuat Aruna merasa pusing.
"Selamat datang kembali di neraka yang kamu buat sendiri, Aruna. Aku akan pastikan setiap detik yang kamu habiskan di mansionku akan membuatmu menyesal karena pernah terlahir di dunia ini."
Aruna merapatkan kuku-kukunya ke telapak tangan hingga berdarah. Ia tahu Dewa sedang menghitung setiap detik kehancurannya.
"Sekarang, ikut aku ke parkiran," perintah Dewa sambil menarik kasar kerah kemeja Aruna agar berdiri. "Kita akan ke mansion sekarang. Jangan harap bisa berpamitan pada siapa pun."
Aruna tersentak. Kepalanya berputar hebat membayangkan Elang yang masih menunggu kepulangannya di kontrakan sempit bersama Bi Inah. Ia mencoba merogoh ponsel di sakunya, namun Dewa dengan sigap merampas benda itu dan membantingnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping.
"Tidak ada komunikasi dengan dunia luar tanpa izinku, Aruna!" bentak Dewa.
Dewa menyeret Aruna keluar ruangan. Namun, tepat di depan lift, seorang pria asing dengan pakaian serba hitam berdiri menghadang mereka. Pria itu menatap Dewa dengan tatapan tajam, lalu melirik ke arah Aruna yang wajahnya sudah basah oleh air mata.
"Lepaskan wanita itu, Tuan Adiwangsa," ucap pria asing itu dengan nada suara yang sangat tenang namun berbahaya.
Dewa menyipitkan matanya, cengkeramannya di lengan Aruna semakin menguat. "Siapa kamu berani mencampuri urusanku?"
Pria asing itu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menunjukkan sebuah lencana perak dari balik saku jaketnya, bersamaan dengan sebuah foto Elang yang sedang tertawa lebar di sebuah taman bermain.
"Aku adalah orang yang dikirim untuk memastikan rahasia lima tahun lalu tetap terkubur, atau sebaliknya, diledakkan tepat di depan wajahmu malam ini," bisik pria itu sambil melangkah maju satu tindak.
Aruna membelalakkan matanya. Ia tidak mengenal pria ini, tapi foto Elang di tangannya adalah peringatan nyata. Jantung Aruna seolah berhenti berdetak saat melihat Dewa mendadak melepaskan lengannya dan beralih mencengkeram kerah baju pria asing itu dengan amarah yang meledak.
"Apa maksudmu dengan foto anak ini? Katakan padaku sekarang atau aku pastikan kamu tidak akan keluar dari gedung ini hidup-hidup!" teriak Dewa.
Pria asing itu hanya tersenyum miring, lalu melirik ke arah Aruna yang tampak pucat pasi. "Tanyakan pada asisten pribadimu yang cantik ini, Tuan. Dia tahu persis siapa pemilik mata yang sama dengan matamu di foto ini."
Lautan awan di bawah Labirin Tanpa Nama tampak bergejolak, seolah olah mencerminkan badai informasi yang sesaat lagi akan dilepaskan oleh Aruna ke seluruh penjuru bumi. Di dalam ruang kendali utama stasiun atmosfer itu, suasana terasa sangat dingin namun penuh dengan ketegangan yang terukur. Aruna duduk di tengah lingkaran monitor holografik yang memancarkan cahaya biru neon, jari jarinya bergerak dengan ritme yang hampir menyerupai melodi kematian bagi mereka yang mencoba menyembunyikan kebenaran. Di sampingnya, Julian berdiri kaku, tangannya terhubung ke sensor biometrik yang berfungsi sebagai antena penguat sinyal, menyalurkan algoritma uniknya untuk menembus dinding api militer yang paling kuat sekalipun.'Ini adalah kalimat terakhir yang akan aku tulis untuk dunia. Bukan sebagai fiksi yang menghibur, tapi sebagai kenyataan yang akan membebaskan atau justru menghancurkan mereka,' batin Aruna sambil menarik napas panjang,
Salju pertama di musim dingin mulai turun dengan lembut, menyelimuti lembah Alpen dalam keheningan yang serba putih. Rumah kayu keluarga Adiwangsa kini tidak lagi hanya menjadi tempat persembunyian, melainkan sebuah ruang rehabilitasi bagi jiwa yang telah lama mati rasa. Di sudut beranda, Julian duduk diam dengan selimut tebal melingkari bahunya. Matanya yang dulu sedingin es kini tampak kosong, namun sesekali menunjukkan kilatan kebingungan saat ia melihat kepingan salju yang mencair di telapak tangannya. Tanpa perangkat Iris dan tanpa klon digital Sofia yang membisikkan instruksi, Julian harus belajar kembali bagaimana menjadi manusia yang benar-benar merasakan sensasi fisik dan emosional yang murni.'Aku telah membangun menara kaca untuk menghindari kesepian, namun di sini, di tengah kesunyian pegunungan, aku baru menyadari bahwa selama ini aku hanya sedang berteriak di dalam ruangan hampa,' batin Julian sambil menghela na
Menara Harmoni Digital menjulang di pusat London seperti sebilah pedang perak yang menghujam awan mendung. Di puncaknya, lantai yang seluruhnya terbuat dari kaca memberikan ilusi bahwa siapa pun yang berdiri di sana sedang berpijak di atas dunia yang kian rapuh. Aruna melangkah keluar dari lift berkecepatan tinggi dengan langkah yang tetap tenang meskipun jantungnya berdentum keras di balik rusuknya. Di sampingnya, Dewa bersiaga dengan kewaspadaan seorang predator yang sedang memasuki wilayah lawan. Ia tidak membawa senapan panjang, namun tangannya selalu berada di dekat sabuk taktis yang menyembunyikan senjata jarak pendek yang mematikan.Di tengah ruangan yang luas dan minimalis itu, Julian Adiwangsa duduk di sebuah kursi ergonomis yang menghadap ke arah panorama kota. Ia tidak berbalik saat pintu lift terbuka, seolah-olah ia sudah menghitung frekuensi langkah kaki kakaknya sejak mereka memasuki lobi gedung. Di sekelilingny
Angin musim gugur yang tajam menusuk melewati celah jaket tebal yang dikenakan Elang saat ia melangkah keluar dari stasiun kereta bawah tanah King's Cross di London. Kota ini tampak sangat berbeda dari keheningan pegunungan Alpen yang selama ini menjadi dunianya. Di setiap sudut jalan, layar LED raksasa memancarkan cahaya biru lembut yang menenangkan, menampilkan logo Harmoni Digital sebuah lingkaran sempurna yang saling bertautan. Orang-orang berjalan dengan langkah yang sangat teratur, hampir semuanya mengenakan perangkat ramping di pelipis mereka yang dikenal sebagai Iris. Perangkat itu memberikan antarmuka visual yang menyesuaikan warna dunia sesuai dengan suasana hati pemakainya, mengubah kelabu London menjadi pemandangan yang selalu tampak seperti matahari terbenam yang indah.'Bunda benar, ini bukan lagi tentang paksaan. Mereka secara sukarela menyerahkan kendali atas persepsi mereka hanya demi menghindari rasa sedih,'












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan