Hal itulah yang membuat Casya merasa janggal. Belum lagi cara Richie memandang Elina, yang membuat orang merasa geli sekaligus tidak nyaman.Saat mengikuti Sarah di pegunungan dulu, Casya pernah melihat biji tanaman liar yang mudah menempel di pakaian. Sekali menempel, susah sekali dilepaskan. Richie memberinya kesan yang sama."Menurutmu, aku perlu telepon Kak Silvar nggak?" tanya Casya.Sarah juga tidak yakin. "Tapi ini 'kan cuma urusan pekerjaan. Kalau kamu bilang ke Pak Silvar, terus dia salah paham, gimana?"Setelah dipikir-pikir, Casya merasa itu masuk akal. "Elina juga bukan orang bodoh. Nanti malam aku hubungi dia lagi. Kalau sampai larut malam dia belum pulang, baru aku suruh Kak Silvar jemput dia."Casya memutar setir. "Mau makan apa? Mau sekalian ajak adikmu nggak?""Makan apa saja boleh. Setelah kelas tambahan, adikku masih ada bimbingan belajar, nggak sempat ikut." Begitu memikirkan adiknya, rasa lelah Sarah berkurang banyak.Mereka semua berpendidikan tinggi. Namun anehny
Read more