Farel menghalangi jalan Vihan. "Kak, aku akan segera mengejar progresnya. Kita sudah lama nggak makan bersama, ayo minum denganku malam ini.""Aku ada urusan lain." Vihan melangkah maju, namun tangan Farel belum turun.Vihan menatap lengan di depannya dengan datar. "Ada yang lain?""Nggak ada, cuma mau mengingatkanmu, ibuku pulang minggu ini. Dia mengadakan perjamuan keluarga dan dia juga mengundang Ziana." Farel mengamati ekspresi Vihan saat bicara.Vihan mengangkat pandangannya, bergumam tenang tanpa riak emosi sedikit pun, lalu berjalan pergi. Di ruang rapat, kini hanya tersisa Farel yang mengepalkan tangan. Tio masuk menghampirinya."Tuan Farel, informan bilang Nyonya Paula mengundang Ziana ke pesta.""Nyonya Paula?" Farel merenung sejenak lalu mendengus sinis. "Ziana, Ziana, aku benar-benar meremehkannya. Nggak kusangka, dia berani melangkahiku untuk bekerja sama dengan Nyonya Paula.""Tuan Farel, apa perlu saya mencegah Nona Ziana datang ke pesta? Kudengar, karena dia mengurus
Baca selengkapnya