Setelah kecelakaan itu, pacarku, Farel Anggara, hilang ingatan. Kabar baiknya adalah itu tidak benar. Kabar buruknya, Farel sengaja melakukannya."Ziana Syardan, aku sudah lupa semua hal tentang kita. Hal-hal yang bisa dilupakan, berarti semua itu nggak penting." "Apa kamu mengerti?" Farel duduk tegak di ranjang rumah sakit. Fitur wajahnya tampan, tetapi tatapan matanya penuh dengan ketidaksabaran. Seolah takut penjelasannya kurang jelas, sehingga Ziana akan terus mengganggunya.Angin berembus masuk ke dalam kamar, membelai wajah pucat Ziana dan menyengat setiap sarafnya. "Ya. Aku mengerti," jawab wanita itu dengan sangat tenang. Ziana Syardan sangat tenang, karena dia tahu Farel sedang bersandiwara.Lima belas menit yang lalu. Begitu Ziana siuman, dokter memberitahunya bahwa Farel terluka parah dan menderita amnesia. Tanpa memedulikan tubuhnya yang lemah, dia bergegas menuju kamar rawat pria itu. Namun, setibanya di depan pintu, Ziana melihat Farel, yang seharusnya terluka pa
Magbasa pa