Vihan menatap Ziana. Matanya yang gelap meredup, lalu dia berkata dingin, "Nggak, aku masih ada urusan." Rani segera menimpali, "Nggak apa-apa. Terima kasih, Pak Vihan. Kami nggak akan mengganggu lagi." Dia segera turun dari mobil dan merangkul Ziana serta Tamara.Setelah mobil itu pergi, Tamara baru sadar dan bergumam, "Ada apa tadi? Rasanya napasku sampai sesak karena suasananya." Rani menebak, "Mungkin aku sudah melampaui batas? Bagaimanapun juga, rumahku sangat sederhana bagi Pak Vihan. Bu Ziana mungkin merasa sulit saat mengajaknya minum teh di sini." Ziana mencibir pelan dalam hati. "Mungkin saja. Ayo masuk dulu."Saat masuk, ayah Rani sedang menyiapkan makan malam. Dia terkejut melihat perban di dahi putrinya. "Ayah, jangan terlalu tegang. Aku nggak sengaja terpeleset. Lihat, manajerku sampai mengantarku pulang." "Syukurlah kalau nggak apa-apa. Tamara, kalian duduklah, aku akan masakkan makan malam." "Paman, nggak perlu repot-repot. Kami akan segera pergi," ujar Tamara s
Read more