Kael mengangkat senjata laras panjang di tangannya. Moncong logam dingin itu terarah tepat ke titik di antara kedua mata Sabrina."Satu langkah lagi," geram Kael, suaranya menggelegar menembus suara hujan, "dan aku akan memastikan kau menyusul orang-orangku yang tewas!" Ganda bergerak hendak melindungi adiknya, namun Sabrina justru mengulurkan tangan, menahan lengan kakaknya. Ia justru maju satu langkah, membiarkan dadanya hampir menyentuh garis imajiner peluru Kael."Tarik pelatuknya jika itu memang bisa mengobati lukamu, Tuan Kael," suara Sabrina terdengar sangat tenang, hampir seperti bisikan namun tajam menusuk. "Tapi sebelum kau melakukannya, kau harus tahu bahwa kau sedang membunuh satu-satunya orang yang datang ke sini untuk menghentikan kegilaan ini.""Berhenti bersandiwara!" bentak Kael. Jemarinya menegang pada pel
Magbasa pa