LOGIN"Jika kau melangkah keluar dari pintu ini, maka kau kalah!"
Nyonya Maureen berkata dengan nada yang meninggi, bergema di antara dinding beton yang lembap.
"Kau mengakui bahwa kau adalah pengecut yang tidak sanggup menuntaskan dendam darahmu sendiri. Kau menghina ingatan orang tuamu demi putri dari pria yang menghancurkan mereka!" tambahnya kemudian.
"Aku tidak peduli!" raung Kael, sua
Di seberang unit apartemen Sabrina, Kael nyaris membenturkan kepalanya ke headboard ranjang karena frustrasi. Wajahnya memanas, bukan karena marah, melainkan malu yang luar biasa. Jempolnya yang biasanya lincah menandatangani dokumen miliaran rupiah, kali ini justru berkhianat di saat yang paling krusial."Sial," umpatnya pelan. Ia segera mengetik pesan klarifikasi dengan jari yang masih gemetar hebat.[Maaf. Maksudku KE HAJATAN! Typo! Sumpah! Jariku terpeleset.] Tidak menunggu lama, ia segera memotret kartu undangan milik adik Teguh, lalu mengirimkannya sebagai bukti fisik agar Sabrina tidak mengira ia sedang memberikan kode penghinaan. Sementara itu di dalam kamarnya, Sabrina yang tadinya sudah menarik napas siap untuk mengomel lagi, mendadak luluh. Ia tertawa geli sendirian hingga harus menutup mulutnya dengan bantal aga
"Ma, apa Mama tidak ada rasa kasihan sedikit saja padaku?" tanya Gladis dengan suara sedikit bergetar, menatap wanita yang selama ini ia panggil Ibu dengan tatapan memohon yang hancur."Jangan jadi gadis cengeng! Sekarang beri tahu apa yang akan kau balas pada kami atas semua kemewahan yang sudah kau nikmati?" bentak mama angkatnya, mengabaikan fakta bahwa Gladis baru saja melewati malam yang traumatis. Ganda yang sejak tadi bersedekap di samping Gladis langsung memotong pembicaraan dengan nada sarkastik yang kental."Wah, Nyonya, aku baru tahu kalau di rumah sakit ini ada jasa jual beli manusia. Kirain cuma jualan obat," sindir Ganda telak."Diam kau! Jangan ikut campur!" sentak wanita tadi dengan wajah memerah menahan amuk. Ia menatap Ganda dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan. "Memangnya kau siapa, hah? Berani sekali mengatur urusan keluarga kami!""Ak
Suasana intim yang baru saja terbangun di ruang tamu tadi hancur seketika oleh suara nyaring ponsel Kael. Di tengah apartemen yang hening, dering itu terdengar begitu keras, seolah menarik paksa keduanya kembali ke realitas yang rumit. Sabrina, yang sedetik lalu nyaris luluh dalam pesona Kael, langsung tersentak dan memalingkan wajahnya yang memerah. Ia segera melepaskan diri dari dekapan Kael dengan gerakan canggung."Aku... aku lupa ada pakaian kotor Aliz yang masih tertinggal di kamar mandi," gumam Sabrina tanpa berani menatap mata Kael. Tanpa menunggu jawaban, ia lekas beranjak, melarikan diri dari atmosfer yang terlalu menyesakkan bagi jantungnya. Kael mendesah frustrasi, merutuki siapa pun yang berani mengganggunya di waktu yang sangat tidak tepat ini. Ia merogoh saku, melihat nama Victor terpampang di layar gawainya. Dengan wajah mengeras, ia menggeser ikon hijau."Ada apa?" bentak Kael kesal, suaranya rendah namun penuh penekanan."Maaf, Tua
Keheningan di ruang tamu apartemen itu terasa begitu padat, seolah udara pun enggan bergerak di antara Sabrina dan Kael. Sabrina masih berdiri mematung di dekat meja makan, sementara Kael mulai melangkah. Setiap derap langkah pria itu terdengar pelan namun pasti, mengikis jarak yang selama ini Sabrina bangun dengan susah payah. Kael berhenti tepat di depan Sabrina, begitu dekat hingga ujung sepatunya dan sendal sang gadis nyaris bersentuhan. Sabrina bisa merasakan hawa hangat yang memancar dari tubuh Kael, bercampur dengan aroma parfum maskulin yang khas, sedikit woody dan fresh, namun kini bercampur dengan sisa ketegangan hari itu. Wangi yang dulu selalu membuatnya merasa aman, kini justru membuat pertahanannya goyah. Sabrina berusaha tetap tegak, mendongak untuk menantang tatapan Kael meski jemarinya yang meremas pinggiran meja mulai gemetar. Ia bingung, separuh hatinya ingin mendorong pria ini keluar agar rasa sesaknya hilang, namun s
Gladis mengusap kasar air matanya yang terus mengalir, meninggalkan jejak kemerahan di pipinya yang pucat. Ia menarik napas dalam-dalam ketika mendengar suara ketukan di pintu kamar rumah sakit. Dengan cepat, ia mencoba merapikan penampilannya yang berantakan dan duduk tegak. Dalam hatinya, ia sangat yakin bahwa pria yang meneleponnya tadi telah sampai dengan napas memburu karena khawatir."Masuk saja," ucap Gladis dengan suara serak. Pintu terbuka, namun binar harapan di mata Gladis padam seketika. Wajahnya langsung berubah kesal, urat-urat di lehernya menegang karena kecewa yang luar biasa."Mana Kael?" tanya Gladis galak, suaranya naik satu oktaf."Dia sedang pa
Sabrina menarik napas panjang, mencoba menata kembali serpihan harga dirinya sebelum memutar knop pintu kamar. Di luar, di ruang tamu kecil apartemennya, sosok pria yang sejak pagi tadi mengacaukan emosinya sedang menunggu. Ia melihat Kael berdiri seketika begitu pintu terbuka. Penampilan pria itu tidak lagi serapi biasanya; kemeja polonya tampak kusut dan ada guratan kelelahan yang sangat dalam di wajahnya."Sab," panggil Kael lirih. Langkahnya tertahan saat melihat tatapan dingin Sabrina. Sabrina berjalan melewati Kael menuju meja makan, seolah pria itu hanya pajangan ruangan. Ia menuangkan air putih ke gelas dengan tangan yang diusahakan tetap tenang."Kenapa belum pulang? Ayah bilang kau sudah menunggu dua jam.
Bunyi klik kunci yang diputar Kael terasa seperti dentuman palu hakim di telinga Sabrina. Gadis itu mematung, kapas beralkohol masih menempel di lehernya, sementara matanya membelalak menatap punggung lebar Kael yang kini bersanda
Kael berdiri mematung di atas trotoar yang retak itu. Aroma kaldu yang mengepul di depan mata benar-benar menguji pertahanannya.‘Sial. Kenapa gerobak mie itu sudah tak bersisa?’ umpat Kael dalam hatinya. Padaha
"Kalian lama sekali," desis Kael dengan suara rendah yang mengiris udara. Matanya yang keabuan menatap tajam ke arah komandan tim keamanan yang baru saja melompat turun dari mobil taktis. "Satu menit lebih lambat, dan kalian hanya akan menemukan tumpukan abu di gedung ini."
"Pastikan sopirku selamat terlebih dahulu. Cari dia di sekitar parit jalur belakang," ucap Kael dengan nada otoritas yang tak terbantah. Ia berbicara pada pergelangan tangannya, di mana smartwatch miliknya akhirnya menunjukkan tanda kehidupan setelah sempat mati suri. "Aku sedang bersemb







