"Aku hanya mau ke kantor, Mas Teguh," ujar Sabrina dengan nada frustrasi. Ia sudah rapi dengan setelan kerjanya, tas kulit tersampir di bahu, namun langkahnya dihadang oleh tubuh tegap Teguh yang berdiri kokoh di depan pintu utama.Teguh tidak bergeming sedikit pun, wajahnya sekaku beton. "Maaf, Mbak Sabrina. Perintah Tuan Kael tidak bisa dibantah. Untuk sementara waktu, Mbak dilarang meninggalkan area rumah."Sabrina menghela napas panjang, matanya mulai berkaca-kaca karena bingung dan merasa tertekan. "Tapi kenapa?”"Keamanan Anda adalah prioritas utama Tuan saat ini, Mbak. Mohon kerja samanya," tegas Teguh lagi, tanpa memberikan celah sedikit pun.“Tapi, Mas..”"Jangan berteriak di pagi hari, Sabrina. Itu tidak sopan," ucap Gladis datar, matanya menyapu penampilan Sabrina yang sudah rapi.Sabrina menoleh cepat.
Magbasa pa