Cahaya matahari pagi mulai merayap masuk melalui celah gorden kamar Nyonya Maureen, menyapu lembut wajah Sabrina yang masih terlelap. Di atas ranjang besar dengan seprai sutra itu, Sabrina tampak begitu tenang, wajahnya yang damai membuat siapa pun akan teringat pada sosok putri tidur dalam dongeng lama. Tidak ada sisa kemarahan atau isakan pilu yang tadi malam menghancurkan jiwanya; yang tersisa hanyalah kecantikan yang rapuh di tengah badai yang belum usai. Di sudut ruangan, Nyonya Maureen berdiri memperhatikan cucunya dan gadis itu dengan tatapan sayu."Kasihan sekali. Gadis itu pasti selalu merasa terancam," kata sang nenek, suaranya parau oleh usia dan rasa prihatin. Kael hanya diam. Ia
Read more