Setelah menyelesaikan semuanya, Alya dan Araska segera pulang. Rasa letih sudah tak tertahankan membuat Alya ingin segera merebahkan diri di Kasur empuknya.“Aku kok agak pusing, ya, Al?” tanya Araska, sambil memijat pelipisnya.“Kenapa, Mas?” Alya segera mendekat, menyentuh dahi Araska. “Tapi nggak panas, Mas. Mau ke rumah sakit aja?”“Emm, nggak usah, Sayang. Minta tolong buatkan teh hangat saja, nanti juga mendingan.”Tanpa menunggu lama, Alya segera membuatkan teh kesukaan Araska.Satu jam berlalu, nampaknya lelaki itu belum terlihat jauh lebih baik, "Mas, kamu yakin tidak mau ke rumah sakit saja?"Alya melipat kedua tangannya di dada, menatap suaminya dengan tatapan tak tega. Melihat sang suami, wajahnya pucat, hidungnya merah, dan sebuah koyo cabai menempel dengan sukses di kedua pelipisnya."Tidak mau, Al," suara Araska terdengar bindeng dan serak, sangat jauh dari suara bariton berwibawa yang biasa didengar para investor."Kalau aku ke rumah sakit, besok pagi media bisnis akan
最後更新 : 2026-06-08 閱讀更多