Malam itu, setelah semua urusan selesai, Araska memanggil Beni dan Rendy ke area balkon lantai atas. Suasana di sana begitu hangat, ada kepulan asap kopi hitam yang aromanya sangat kuat, dan udara malam Jakarta Selatan yang sedikit lebih sejuk dari biasanya. Araska duduk di kursi rotan, melonggarkan kancing kerah kemejanya, sementara Rendy sudah asyik menyandarkan kaki di pagar pembatas dengan gaya santainya. Beni? Ia tetap berdiri tegap, meski wajahnya tak lagi sekaku semen tadi pagi."Duduk, Ben. Malam ini nggak ada atasan, nggak ada bawahan. Anggap saja kita lagi nongkrong di kafe mahal," ujar Araska sambil menunjuk kursi kosong di depannya.Beni akhirnya duduk, meski punggungnya tetap lurus. "Siap, Pak.""Masih saja 'Siap Pak'. Rendy, kasih tahu temanmu ini cara santai sedikit," kelakar Araska.Rendy tertawa renyah. "Susah, Pak. Beni ini kalau tidur kayaknya posisinya juga siap gerak. Gimana tadi belanja bulanannya, Ben?"Beni melirik Rendy den
Last Updated : 2026-05-13 Read more