Langit Jakarta malam itu benar-benar mengamuk. Hujan lebat disertai angin kencang menghantam kaca-kaca jendela kediaman utama Adiguna tanpa ampun, menyisakan kegelapan pekat yang mencekam di dalam rumah setelah sambaran petir melumpuhkan aliran listrik utama.Di lantai dua, waktu seolah berjalan begitu lambat. Alya masih meringkuk di sudut ruangan, terjebak di antara sisa-sisa kesadaran masa lalunya yang kelam. Napasnya masih memburu, meski pelukan hangat Mutia perlahan mulai mengembalikan dirinya ke kenyataan. Namun, tubuhnya masih lemas, dan isak tangisnya belum juga reda.Di tangan Mutia, layar ponsel masih menampilkan sambungan video call yang aktif. Araska tidak bergeming dari posisinya di dalam kabin jet pribadi. Pria itu terus menatap layar, mendengarkan setiap rintihan kecil istrinya dengan dada yang bergemuruh hebat oleh rasa cemas dan amarah terhadap jarak yang memisahkan mereka."Al ... hei, dengar suaraku," suara Araska terdengar serak dari speaker ponsel, penuh dengan kel
Read more