"Nduk!" seorang bibi Kania langsung memeluk Kania erat-erat."Gusti Allah itu mboten sare. Kamu dapat suami baik, dapat juragan yang seperti malaikat. Lihat bapakmu, sekarang sudah bisa tersenyum lepas."Kania melirik bapaknya yang sedang tertawa bersama Pak Araska di dekat meja katering. "Iya, Bude. Kania juga masih merasa seperti mimpi."Ibunda Kania ikut mendekat, menyeka sudut matanya yang basah. "Beni, Ibu titip Kania, ya? Dia mungkin masih banyak kekurangan, belum pintar memasak masakan Jakarta."Beni tersenyum tulus dan menggenggam tangan ibu mertuanya. "Ibu jangan khawatir. Kania tidak perlu berubah jadi orang lain. Biar Beni yang menyesuaikan diri dengan apa pun yang Kania masak nanti."Sementara itu, di sudut meja katering, Araska tampak sedang mengambilkan es dawet untuk Pak Sukardi, ayah Kania."Ayo, Pak Sukardi, dicicipi es dawetnya. Ini sengaja istri saya pesan dari stan langganan kami," kata Araska ramah."Aduh, matur nuwun sanget, Pak Araska. Saya jadi sungkan, merepot
Last Updated : 2026-05-25 Read more