"Kamu sudah sangat kuat sampai di titik ini, Arnie. Daren itu biarlah jadi masa lalu," ucap Supriadi.Arnie tersenyum kecil, pucat, tapi tulus."Iya, dia hanya masa lalu yang tak pantas aku ingat. Hanya saja kadang masih terbayang semua ucapan tajamnya, semua perlakuannya yang membuat hati ini kembali sakit, tapi aku nggak mau terjebak dalam kepahitan, aku akan melupakan dan bangkit jadi lebih baik."Ayahnya mengangguk pelan, bangga sekaligus iba.Bel rumah berbunyi. Ibunya berjalan ke pintu dan membukanya."Oh, Frans! Silakan masuk," serunya senang.Arnie menoleh kaget. Frans pengacara tampan yang membantunya mengurus proses perceraian—muncul dengan senyum ramah dan sebuah paper bag berisi buah-buahan segar."Assalamualaikum. Bagaimana keadaanmu, Arnie? Aku harap kau bisa segera pulih." katanya sambil menghampiri. Arnie tersenyum tipis. "Aku sudah jauh lebih baik, terima kasih sudah datang, Kak Frans. Kenapa repot-repot bawa buah segala."Frans meletakkan buah di meja, "Gak repot ko
Read more