LOGIN"Bisa-bisanya kamu membuat perempuan sial ini hamil, mama gak mau punya cucu dari dia. Bagaimanapun caranya anak dalam kandungannya harus di gugurkan!" Arnie begitu terkejut saat tak sengaja mendengar obrolan Daren dan mama nya, 2 tahun menjalin rumah tangga ternyata lelaki itu menikahinya karena dendam. Arnie tidak mengerti mengapa suami dan mertuanya menyimpan dendam yang begitu dalam padanya, sehingga selama pernikahan Arnie diperlakukan seperti pembantu. Arnie bertahan meski sakit hati, ia diam-diam mencari tahu apa penyebab dendam itu dan bertekad membalas semua perlakuan suami, mertua, dan kakak iparnya hingga mereka menyesal.
View More"Kenapa harus di bawa ke rumah sakit, tadinya biarkan saja dia sampai sekarat!"
Arnie yang baru mendapatkan kesadarannya setelah pingsan, sayup-sayup mendengar ucapan wanita paruh baya, suaranya begitu familiar dan ternyata benar itu adalah suara Murni-ibu mertuanya. Wanita cantik itu, mengurungkan niat untuk membuka mata. Ia memilih berpura-pura masih pingsan agar bisa mendengar ucapan sang mertua selanjutnya. "Tapi kata dokter tadi, Arnie sedang hamil anak Daren, kalau di biarkan bisa keguguran, Mah." Arnie menajamkan pendengarannya, ia yakin yang berbicara itu adalah Maya, istri dari kakak iparnya laki-lakinya yang meninggal, sehingga Maya, Anaknya, dan Murni tinggal bersama Arnie dan Daren. "Bisa-bisanya kamu membuat wanita sial ini hamil, Daren. Mama gak mau punya cucu dari dia, bagaimanapun caranya, kandungannya harus digugurkan!" Dada Arnie terasa sesak mendengar ucapan sang mertua, sementara itu ia tak mendengar suara suaminya sedikitpun, tak ada pembelaan, atau perlindungan dari suami untuknya. "Cucu mama cuma satu yaitu Clarisa anak Maya dan Dimas, meskipun Dimas sudah meninggal dia memberikan keturunan melalui Maya," ucap Murni membuat hati Arnie sangat teriris. Ia tak mengerti mengapa sang mertua bisa berkata demikian, padahal sejak dulu Murni sangat dekat dengan Arnie karena Arnie adalah sahabat anak bungsunya. Namun, hubungan Arnie dan Murni memang renggang setelah kematian Dena dan Arnie pun tak mengerti apa sebabnya. Ia hanya berpikir jika sang mertua masih belum bisa ikhlas dengan kepergian Dena hingga menjadi dingin dan menjauh dari Arnie. "Sudah-sudah kalian jangan ribut, aku bawa Arnie ke rumah sakit karena takut dia mati membawa kandungannya. Belum saatnya dia mati sekarang, orang yang sudah membuat Dena meninggal dengan mengenaskan, tidak akan aku biarkan mati dengan mudah!" Deg. Deg. Jantung Arnie terasa di lempar batu besar, sesak dan sakit tak bisa dijelaskan. Suara itu adalah suara suaminya, tapi bagaimana mungkin orang yang selama ini ia cintai bisa berkata seperti itu, apalagi mengatakan jika ia adalah penyebab kematian Dena. "Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa mama murni sangat membenciku, kenapa mas Daren berkata seperti itu. Bukan aku yang membuat Dena meninggal, apa ada kesalahpahaman?" gumam Arnie dalam hati. Begitu banyak pertanyaan dalam hati dan pikiran Arnie tentang apa yang sedang di bicarakan suami dan mertua nya, ia ingin tetap berpura-pura pingsan agar mendengar lebih banyak percakapan mereka, agar ia tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, suara ponsel berdering, membuat mereka berhenti berbicara. "Mah, Daren. Maaf, aku harus pergi sekarang, sudah waktunya aku antar Clarisa les," ucap Maya setelah mengangkat panggilan telepon tadi. "Pergilah, Sayang. Les yang rajin, cucu kesayangan nenek harus jadi anak pintar ya!" ucap Murni. "Oke nenek," ucap Clarisa dengan suara riang. Maya dan Clarisa pun keluar dari ruang rawat Arnie, sementara Daren masih duduk dengan menatap wajah pucat Arnie tanpa sedikit pun rasa kasihan dan bersalah. Arnie pingsan karena kelelahan, setelah menikahi Arnie semua asisten rumah tangga di berhentikan oleh Daren, hanya menyisakan satu orang yang sudah mengikuti keluarga mereka sejak dulu. Semua pekerjaan rumah tangga di kerjakan oleh Arnie, satu-satunya asisten rumah tangga di rumah Daren hanya membantu saat Murni dan Daren tidak di rumah saja. "Clarisa tumbuh menjadi anak yang cantik dan pintar, persis seperti ibunya. Dia sudah menganggap mu ayahnya sendiri, Daren." ucap Murni. "Itu wajar, dia anak kakakku. Akupun menganggapnya seperti anakku sendiri," ucap Daren. "Karena itu, mama tidak ingin anak dalam perut Arnie lahir. Mama tidak ingin perhatian dan kasih sayang kamu terhadap Clarisa terbagi, gugurkan saja anak dalam kandungan Arnie," ucap Murni dengan entengnya. Arnie mencoba menahan rasa sakit hatinya mendengar ucapan sang mertua, ia masih belum mengerti mengapa sang mertua begitu membencinya, hingga ingin menghilangkan nyawa tak berdosa yang kini ada dalam perutnya. "Aku benci Arnie, aku menikahinya karena dendam. Namun, anak dalam perutnya tetap anakku, Mah. Dia tidak salah dan tidak berdosa," ucap Daren. Hati Arnie terasa semakin sesak mendengar pengakuan sang suami, 2 tahun pernikahan ternyata suami yang sangat ia cintai menikahinya karena dendam. "Kenapa kamu begitu membenciku, Mas. Dendam apa yang kamu miliki sampai menipuku dalam pernikahan ini? Bukankah dulu kamu bilang menikahi aku karena permintaan terakhir Dena?" gumam Arnie dalam hati. Wanita cantik itu masih terpejam, ingatannya kembali pada 2 tahun lalu. Saat itu 1 Minggu setelah Dena meninggal dunia, setelah selesai acara tahlilan di rumah keluarga Dena, tiba-tiba Daren yang tak pernah berbicara banyak dengannya, menghampirinya dan mengajaknya menikah. "Sebelum Dena meninggal, dia bilang padaku jika kamu sangat mencintaiku. Dia berharap aku bisa menikahi kamu, karena kamu adalah sahabat terbaiknya," ucap Daren. Jantung Arnie berdegup begitu kencang, lelaki tampan yang selama ini ia sukai secara diam-diam ada di hadapannya, bahkan membicarakan soal pernikahan. Arnie dan Dena bersahabat sejak SMA, karena kecerdasan Arnie, Dena meminta mengajarinya pelajaran sehabis pulang sekolah. Setiap kali Arnie mengajari Dena di rumahnya, ia mencuri pandang pada Daren yang saat itu masih seorang mahasiswa semester akhir. Rasa suka Arnie perlahan semakin dalam, melihat sikap Daren yang dingin terhadap wanita, tapi begitu menyayangi Dena sebagai adiknya, dan menghormati ibu nya, membuat Dena semakin mencintai Daren. Arnie tidak menyangka jika Dena menceritakan semua itu pada kakaknya, hingga sebelum meninggal menginginkan pernikahan diantara Daren dan dirinya. "Arnie, benarkan apa yang dikatakan Dena? Apa benar kamu sudah lama mencintaiku? Apa kamu mau mengabulkan permintaan terakhir Dena? Apa kamu mau menikah denganku?" Pertanyaan Daren terus berputar di kepalanya, rasa suka dan cinta yang selama ini Arnie pendam terhadap lelaki itu seakan membuat jantungnya hampir meledak. Tak ada kata-kata yang mampu ia ucapkan, hanya anggukan kepala sebagai jawaban jika ia mau menikah dengan Daren. Tanpa ia ketahui jika pernikahan itu Daren lakukan bukan karena permintaan terakhir Dena, melainkan rencana Daren untuk membalas dendam terhadap Arnie. Kini di ruang rawat rumah sakit, Arnie baru mengetahui jika pernikahan itu bukan permintaan terakhir Dena. Namun, cara Daren membalas dendam padanya. "Aku pikir selama ini kamu dingin dan tidak pernah perhatian padaku karena memang terpaksa menikahi ku untuk menuruti keinginan terakhir Dena. Aku selalu bersabar dan berusaha menjadi istri yang baik, berharap suatu saat nanti kamu luluh dan akhirnya mencintaiku," gumam Arnie dalam hati. Tanpa Daren dan Murni sadari, tangan Arnie bergerak meremas seprai. Ia menahan sakit di dadanya mengetahui kenyataan yang begitu menyakitkan. "Jika seperti ini kenyataanya, aku yakin sampai kapan pun tak akan ada cinta di hatimu untukku, Mas. Pantas saja selama ini kamu dan keluargamu memperlakukanku seperti pembantu gratisan di rumahmu. Ternyata kamu menikahi ku bukan untuk menuruti keinginan terakhir Dena, tapi karena dendam padaku. Namun, aku gak ngerti apa yang sudah aku lakukan sampai kamu dan mama menaruh dendam yang begitu besar padaku?" gumam Arnie dalam hati.Brak ...Daren menggebrak meja kerja membuat Soni menunduk dan menggelengkan kepala, belum hilang emosi Daren muncul kembali pemberitaan yang lebih heboh."Tuan ...." ucap Soni ragu-ragu seraya menatap Daren."Ada apa lagi?" tanya Daren dengan nada tinggi."Nama anda semakin hancur, sekarang beredar foto anda dan nyonya Maya masuk ke kamar hotel," ucap Soni.Daren melebarkan bola matanya, lalu melihat tab dan mengerutkan keningnya setelah melihat foto tersebut."Siapa yang memotret ku?! Kenapa bisa seperti ini?! Soni, sekarang juga kamu lakukan segala cara untuk menekan media dan turunkan tranding topik ini," ucap Daren.Soni menganggukkan kepalanya, ia menghela nafas saat melihat Daren keluar dari ruangan dengan wajah serius. Pekerjaan hari ini nampaknya akan berantakan, Soni yang selalu setia bekerja pada Daren mulai merasa lelah dan kesal."Gak habis pikir, kenapa tuan Daren bisa sejahat ini pada istrinya. Padahal Bu Arnie sudah sangat baik, foto-foto ini jelas asli bukan editan.
Keesokan paginya Arnie bangun dengan badan terasa sakit, ia menatap pantulan dirinya di cermin. Tanda merah memenuhi leher hingga bagian dada, membuat ia kesal dan terus menggosoknya dengan sabun saat mandi."Dasar lelaki brengsek! Dia jadikan aku tempat pelampiasan nafsunya sampai seperti ini," gerutu Arnie.Tanda merah itu tetap tak bisa hilang meski berulang kali ia gosok, hingga ia pun selesai mandi dan memilih baju dengan kerah tinggi untuk menutupi bekas kemerahan itu.Arnie melihat Daren masih tertidur pulas, ia pun akhirnya menggunakan kesempatan itu untuk mengecek ponselnya."Kak Natasya udah kirim vidio ini, aku langsung kirim ke kak Frans deh untuk bukti di persidangan," ucap Arnie pelan.Ia mengirimkan vidio tersebut kepada Frans, lalu memeriksa pesan lain yang sejak tadi malam ada di ponselnya.Arnie mengepalkan tangan dengan dada terasa sakit, melihat foto yang dikirim orang bayarannya. Ternyata paparazi yang melihat Daren dan Maya memasuki hotel tadi malam adalah orang
Daren kesakitan memegangi tongkat pusaka yang masih terbalut celana yang tadi ditendang Arnie, kesempatan itu digunakan Arnie untuk kabur. Ia meraih ponselnya dan mematikan live streaming lalu berlari kecil menuju kamar dan langsung menguncinya.Sementara di ruang keluarga yang kini kacau balau Daren hanya bisa menghela nafas, ia meraih dasi dan saputangan yang disiapkan oleh Arnie."Meskipun aku tidak mencintaimu, tapi aku gak bermaksud mengabaikanmu malam ini," ucap Daren dengan suara pelan.Jauh di lubuk hatinya ia merasa bersalah kepada Arnie, apalagi setelah melihat semua hal romantis yang sudah disiapkan Arnie untuk malam ini. Daren pun menyesal karena menemani Maya hingga larut malam, tetapi ego nya terlalu tinggi hingga ia tak mau mengakui kesalahannya apalagi meminta maaf kepada Arnie."Apa dia benar-benar muak denganku?" gumam Daren setelah mengingat ucapan Arnie yang menusuk hatinya tadi. "Dia ingin bercerai dariku, itu hanya mimpi. Sampai kapanpun aku akan tetap mengurungn
Daren menelan ludah, tampak bingung menjawab. Ia masih menatap Arnie yang malam ini begitu cantik dengan gaun putih melekat di tubuhnya, dekorasi ruangan yang tampak romantis dengan kelopak bunga mawar di lantai, meja makan yang dihias lilin putih, Daren tahu Arnie menyiapkan semua itu dan menunggunya pulang."Aku ingat, tapi tadi aku harus temenin kak Maya. Ada acara temennya. Cuma sebentar." jawab Daren datar seolah tanpa rasa salah pada Arnie.Arnie menatap jam di dinding. "Sebentar? Aku menunggu kamu dari jam sembilan sampai jam setengah dua belas, Mas."Maya buru-buru menambahkan, "Maaf, Arnie... aku yang bikin dia lama. Aku ditahan temen-temen."Arnie mengangguk pelan, seolah memahami, padahal ia jauh dari itu.Matanya menatap Daren, perlahan senyumnya pudar."Aku nunggu kamu dari jam sembilan," ucap Arnie, suaranya pelan tapi menusuk."Aku siapin semuanya."Daren hanya diam tanpa menatapnya.Arnie mengembuskan napas, menahan tangis."Aku sudah bilang sama kamu kalau malam ini ak
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.