Langit pagi di vila pantai itu tampak pucat, seolah ikut menahan napas bersama penghuninya. Ombak bergulung pelan, memecah di karang dengan suara yang berulang seperti tenang di luar, tetapi riuh di dalam dada Rania.Ia berdiri di balkon sejak fajar, mengenakan cardigan tipis yang melindungi tubuhnya dari angin laut. Rambutnya tergerai, sebagian menutupi wajah yang kini tak lagi sama. Ada gurat lelah, ada bekas luka yang tak kasatmata, dan ada keputusan yang diam-diam mulai tumbuh.Di belakangnya, pintu kaca bergeser pelan.Jeff keluar dengan langkah tertahan. Ia sempat berhenti, menatap punggung Rania yang tampak rapuh namun keras kepala pada saat yang sama. Perempuan itu bukan lagi Rania yang dulu mudah dituntun oleh kata-kata manis. Kini, setiap diamnya seperti dinding.Jeff mendekat.“Anginnya dingin,” ucapnya sambil menyampirkan selimut tipis ke bahu Rania.Rania tidak menolak, tetapi juga tidak tersenyum. Pandangannya tetap lurus ke laut.“Aku tidak kedinginan,” jawabnya pelan.
Dernière mise à jour : 2026-01-27 Read More