Hujan turun tipis di luar jendela apartemen Alya. Langit malam menggantung kelabu, seperti perasaan perempuan itu yang belum benar-benar pulih sejak tragedi yang menimpanya bersama Arsen. Perutnya kini membesar, usia kandungannya memasuki bulan yang membuat geraknya semakin lambat, napasnya kadang tersengal hanya karena berjalan beberapa langkah.Alya duduk di sofa, membelai perutnya perlahan.“Tenang ya, Nak…,” bisiknya.Namun justru saat ia berusaha menenangkan diri, jantungnya berdetak tidak wajar. Sejak sore tadi, ada perasaan aneh yang mengganggu seperti ada mata yang mengintai, meski ruangan tampak kosong.Ia menoleh ke arah pintu.Terkunci.Jendela?Tertutup rapat.Alya menghembuskan napas, mencoba menertawakan pikirannya sendiri.“Aku cuma terlalu cemas,” gumamnya.Tiba-tiba—Ting!Notifikasi ponselnya berbunyi.Alya refleks menoleh ke meja. Tangannya sedikit gemetar saat mengambil ponsel. Ia menatap layar.Nomor tak dikenal.Pesan masuk.> **Unknown:**> Lama tidak bertemu, A
Magbasa pa