Malam menutup kota seperti selimut kelabu ketika mobil Revano melaju meninggalkan rumah keluarga Dirgantara. Lampu-lampu jalan memantul di kaca jendela, tapi pikiran Revano jauh lebih gelap dari aspal yang ia lewati. Di kursi depan, Bima mengemudi dengan fokus, sesekali melirik ke kaca spion melihat wajah tuannya yang kaku, penuh tekanan yang tak lagi bisa disembunyikan.Revano menyandarkan kepala, menghembuskan napas berat. Percakapan dengan orang tuanya masih bergema di telinganya—tentang Jeff, tentang Raline, tentang bagaimana istrinya diperlakukan seperti barang barter demi nama besar keluarga.“Masih ada satu hal yang menggangguku, Bima,” ucap Revano akhirnya, memecah sunyi.Bima menurunkan kecepatan sedikit. “Apa itu, Tuan?”“Rania tidak mungkin diam saja. Dia bukan perempuan lemah. Kalau dia belum kabur, berarti dia sedang menunggu momen.”Bima mengangguk pelan. “Atau… sedang berpura-pura.”Revano menatap ke depan. “Ya. Topeng.”Sementara itu, jauh dari mereka, vila di tepi lau
Magbasa pa