Rachel melangkah pelan menyusuri ruang tamu. Setiap sudut rumah itu masih terasa begitu akrab. Jam dinding antik yang selalu berdentang setiap satu jam sekali masih tergantung di tempatnya. Lukisan-lukisan kesukaan almarhum Roy pun masih menghiasi dinding. Tak banyak yang berubah. Yang berubah... Hanya orang-orang yang tinggal di dalamnya. Bagas berjalan beberapa langkah di belakang Rachel. Dia sengaja membiarkan perempuan itu menikmati setiap sudut rumah yang telah lama ditinggalkannya. "Non..." panggil Mak Yem lirih sambil melangkah menghampiri. Rachel menoleh. "Iya, Mak?" "Kamarnya masih kami bersihin setiap hari," kata Mak Yem. Kalimat sederhana itu membuat Rachel tersenyum haru."Terima kasih, Mak." Mak Yem mengusap sudut matanya. "Selama ini Mak yakin kalo Non baik-baik aja. Dan sekarang, Non berdiri di depan Mak, rasanya kayak mimpi. Mak seneng banget bisa ketemu dan liat Non lagi." Mendengar kata-kata Mak Yem, yang sangat mengkhawatirkannya selama ini mem
Read more