Home / Male Adult / Pesona Pria Plus-plus / Bab¹⁶⁰—Kontrol~

Share

Bab¹⁶⁰—Kontrol~

Author: Na_Vya
last update publish date: 2026-07-23 20:59:10

Tiga hari telah berlalu sejak Bagas memenuhi panggilan penyidik. Selama tiga hari itu pula, dia berusaha menjalani rutinitas seperti biasa—mengurus beberapa pekerjaan yang sempat tertunda, dan menyempatkan diri ke kelab untuk berpamitan kepada Mami Kumala.

Biar bagaimanapun perempuan itu sudah sangat baik padanya selama ini. Mami Kumala sudah sangat banyak membantunya. Beliau juga turut senang karena akhirnya Maudy mendapat ganjaran.

Bagas juga sesekali menemui Marco untuk membahas perkembang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁶¹—Jenis Kelamin Anak Pertama~

    Mobil Bagas melaju membelah jalanan Kota Jakarta yang mulai dipenuhi kendaraan. Sesekali Rachel menoleh ke luar jendela. Sudah cukup lama dia tidak benar-benar menikmati suasana kota.Selama beberapa bulan terakhir, hidupnya seolah berhenti. Kesedihan karena kehilangan Roy. Kasus hukum Maudy. Kehamilan yang datang di saat tak pernah diduga.Semua itu membuat dunianya hanya berkisar antara rumah, rumah sakit, dan kantor polisi.Hari ini... Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Rachel merasa sedikit lebih ringan.Entah karena mualnya mulai berkurang. Atau... Karena sejak tadi Bagas tak berhenti membuatnya tersenyum."Mas." Rachel menoleh ke arah Bagas. "Hm?""Kamu beneran lupa jadwal kontrol?"Bagas menggaruk tengkuknya. "Iya."Rachel terkekeh. "Parah.""Sorry." "Kalau aku gak nelepon?"Bagas melirik sekilas ke arah Rachel, dan. menyahut, "Mungkin baru inget malam."Rachel tertawa sampai memegangi perutnya. "Untung anak kita belum bisa ngomong," celetuknya. "Loh?""Nanti dia nga

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁶⁰—Kontrol~

    Tiga hari telah berlalu sejak Bagas memenuhi panggilan penyidik. Selama tiga hari itu pula, dia berusaha menjalani rutinitas seperti biasa—mengurus beberapa pekerjaan yang sempat tertunda, dan menyempatkan diri ke kelab untuk berpamitan kepada Mami Kumala. Biar bagaimanapun perempuan itu sudah sangat baik padanya selama ini. Mami Kumala sudah sangat banyak membantunya. Beliau juga turut senang karena akhirnya Maudy mendapat ganjaran. Bagas juga sesekali menemui Marco untuk membahas perkembangan kasus Maudy.Namun, sesibuk apa pun dirinya, pikirannya tetap saja kembali pada surat milik Roy Darmawan yang kini tersimpan sebagai barang bukti di ruang penyimpanan Polres.Kalimat pembukanya terus terngiang di kepalanya. "Untuk Rachel, putri kecil Papi yang paling Papi sayangi..."Bagas mengembuskan napas pelan. Dia menatap secangkir kopi yang sejak tadi mulai mendingin di atas meja. Semalam dia bahkan sulit memejamkan mata. Bukan karena memikirkan persidangan. Melainkan memikirkan bagaim

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁵⁹—Janji Bagas~

    Langkah Bagas terdengar pelan saat keluar dari ruang penyidik. Pintu kayu itu menutup di belakangnya dengan bunyi lirih. Namun, pikirannya masih tertinggal di dalam. Lebih tepatnya, pada selembar surat tua yang kini kembali disimpan dalam plastik barang bukti. —Untuk Rachel, putri kecil Papi yang paling Papi sayang— Kalimat itu terus berputar di kepalanya. Entah sudah berapa kali. Bagas mengusap wajahnya kasar. Dia merasa napasnya mendadak lebih berat. Padahal, dia bukan orang yang dituju dalam surat itu. Bukan pula orang yang berhak membacanya. Akan tetapi hanya dengan membaca beberapa kalimat pembuka saja, dadanya sudah dipenuhi sesak yang sulit dijelaskan. Apalagi Rachel nanti. Bagaimana reaksi perempuan itu ketika mengetahui ayah yang begitu dicintainya ternyata menyimpan rahasia sebesar itu? Bagas mengembuskan napas panjang. Dia melangkah melewati lorong Polres yang mulai ramai oleh para penyidik dan masyarakat yang datang silih berganti. Beberapa wartawan ma

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁵⁸—Barang bukti#2

    Penyidik Ardi menutup album perlahan. "Lalu kami menemukan ini." Dia mengambil salah satu bingkai foto. Di dalamnya terdapat foto Mauren seorang diri. Masih muda. Masih tersenyum. Masih terlihat begitu bahagia. "Awalnya kami mengira hanya foto biasa. Tapi saat tim identifikasi memeriksa bingkai ini... Kami menemukan sesuatu." Bagian belakang bingkai dibuka perlahan. Dari balik lapisan karton tipis, Penyidik Ardi mengeluarkan selembar kertas tua yang telah menguning. Lipatannya masih utuh, seolah tidak pernah disentuh selama bertahun-tahun. Bagas menatap kertas itu tanpa berkedip. Jantungnya kembali berdetak lebih cepat. "Surat?" Penyidik Ardi menggeleng pelan. "Kami belum tahu. Karena sejak ditemukan... Kami sengaja tidak membuka lipatannya." Bagas mengernyit. "Belum dibuka?" "Belum. Kami ingin pembukaannya didokumentasikan sebagai bagian dari proses penyidikan." Penyidik Ardi meletakkan surat itu kembali di atas meja. Tatapannya kemudian beralih kepada Bagas. "S

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁵⁷—Barang Bukti#1

    Bagas memarkir mobilnya di halaman Polres tepat pukul sebelas siang. Cuaca siang itu cukup terik. Matahari bersinar tanpa ampun, membuat aspal halaman parkir tampak berkilau diterpa cahaya. Meski demikian. Entah mengapa, udara yang dirasakan Bagas justru terasa begitu dingin. Sejak menerima telepon dari Penyidik Ardi pagi tadi, pikirannya tak pernah benar-benar tenang. "Kami menemukan beberapa barang yang berkaitan dengan almarhum Pak Roy." Kalimat itu terus berputar di dalam kepalanya. Singkat. Namun mampu menimbulkan puluhan pertanyaan yang belum memiliki jawaban. Selama ini Bagas mengira seluruh rahasia Maudy perlahan mulai terungkap. Mulai dari kasus pembunuhan berencana, manipulasi perusahaan. Hingga hubungan gelap yang selama bertahun-tahun disembunyikan perempuan itu. Tetapi, telepon pagi tadi membuatnya sadar. Masih ada potongan puzzle yang belum tersusun. Masih ada sesuatu yang bahkan belum pernah mereka sentuh. Bagas mematikan mesin mobil. Tangannya tetap bera

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁵⁶—Dihubungi Penyidik~

    Empat hari kemudian...Empat hari berlalu sejak kunjungan mereka ke rumah Rachel. Selama empat hari itu, kehidupan Bagaskara perlahan kembali berjalan, meski belum benar-benar normal. Dan, ya. Dia memilih kembali ke apartemennya. Setiap pagi dia masih bangun di apartemennya yang terasa jauh lebih sepi dibanding sebelumnya. Tidak ada lagi telepon dari Maudy yang memintanya datang ke kantor lebih awal. Tidak ada lagi jadwal rapat yang harus disusun. Tidak ada lagi tumpukan berkas yang harus diperiksa hingga larut malam. Semuanya berakhir begitu saja... Bersamaan dengan penangkapan Maudy. Bagas berdiri di depan jendela apartemen sambil memegang secangkir kopi hitam yang mulai mendingin. Tatapannya kosong mengarah ke deretan gedung pencakar langit yang berdiri megah di kejauhan. Sudah hampir seminggu dia tidak lagi bekerja. Bukan karena malas. Melainkan karena pekerjaan yang selama ini dijalaninya memang sudah tidak ada lagi.Kemarin-kemarin dia adalah asisten pribadi Maudy. Kini,

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁵—Iseng nawarin pulang~

    Gila! Katakan jika saat ini seorang Bagaskara sedang mengambil kesempatan. Oh … tidak! Bagas hanya mengikuti permintaan gadis ABG cantik ini. Kalo kata Bagas "Rejeki gak boleh ditolak." Anggap saja ini rejeki nomplok! Bagas tak hanya mengajari caranya ciuman yang benar. Dia juga sudah m

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁴—Dapet ciuman mendadak~

    Setelah dari hotel, Bagas langsung menuju ke kelab. Daripada suntuk di apartemen sendirian, lebih baik dia di sini. Lagi pula, Bagas tidak bisa libur walau sehari, karena mami Kumala—pemilik kelab yang merangkap sebagai germo itu sudah mewanti-wanti. Ya... Walaupun tubuhnya lelah lantaran dia suda

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab³—Tante Cindy~

    Sore itu pilihan Bagas jatuh pada kafe yang letaknya tidak terlalu jauh dengan gedung tempatnya tinggal. Perutnya sedari tadi sudah memberi sinyal, meminta diisi amunisi. Terakhir kali makan, waktu sarapan di hotel. Setelah itu Bagas tidak ada lagi memakan apa pun selain minum soda dan ngasap. Su

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab²—Informan~

    "Nikah sama Tante?" Bagas pura-pura bertanya polos, dan Maudy segera mengangguk cepat. Diusapnya bibir Maudy dengan ibu jari. "terus, suami Tante gimana?" tanyanya, seolah dia sedikit keberatan dengan status Maudy yang masih bersuami. "Kamu tenang aja, Lingga," ucap Maudy, mengecup bibir Bagas sek

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status