Beranda / Male Adult / Pesona Pria Plus-plus / Bab¹⁵⁸—Barang bukti#2

Share

Bab¹⁵⁸—Barang bukti#2

Penulis: Na_Vya
last update Tanggal publikasi: 2026-07-22 21:13:34

Penyidik Ardi menutup album perlahan. "Lalu kami menemukan ini." Dia mengambil salah satu bingkai foto.

Di dalamnya terdapat foto Mauren seorang diri. Masih muda. Masih tersenyum. Masih terlihat begitu bahagia.

"Awalnya kami mengira hanya foto biasa. Tapi saat tim identifikasi memeriksa bingkai ini... Kami menemukan sesuatu."

Bagian belakang bingkai dibuka perlahan. Dari balik lapisan karton tipis, Penyidik Ardi mengeluarkan selembar kertas tua yang telah menguning.

Lipatannya masih utu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁶¹—Jenis Kelamin Anak Pertama~

    Mobil Bagas melaju membelah jalanan Kota Jakarta yang mulai dipenuhi kendaraan. Sesekali Rachel menoleh ke luar jendela. Sudah cukup lama dia tidak benar-benar menikmati suasana kota.Selama beberapa bulan terakhir, hidupnya seolah berhenti. Kesedihan karena kehilangan Roy. Kasus hukum Maudy. Kehamilan yang datang di saat tak pernah diduga.Semua itu membuat dunianya hanya berkisar antara rumah, rumah sakit, dan kantor polisi.Hari ini... Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Rachel merasa sedikit lebih ringan.Entah karena mualnya mulai berkurang. Atau... Karena sejak tadi Bagas tak berhenti membuatnya tersenyum."Mas." Rachel menoleh ke arah Bagas. "Hm?""Kamu beneran lupa jadwal kontrol?"Bagas menggaruk tengkuknya. "Iya."Rachel terkekeh. "Parah.""Sorry." "Kalau aku gak nelepon?"Bagas melirik sekilas ke arah Rachel, dan. menyahut, "Mungkin baru inget malam."Rachel tertawa sampai memegangi perutnya. "Untung anak kita belum bisa ngomong," celetuknya. "Loh?""Nanti dia nga

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁶⁰—Kontrol~

    Tiga hari telah berlalu sejak Bagas memenuhi panggilan penyidik. Selama tiga hari itu pula, dia berusaha menjalani rutinitas seperti biasa—mengurus beberapa pekerjaan yang sempat tertunda, dan menyempatkan diri ke kelab untuk berpamitan kepada Mami Kumala. Biar bagaimanapun perempuan itu sudah sangat baik padanya selama ini. Mami Kumala sudah sangat banyak membantunya. Beliau juga turut senang karena akhirnya Maudy mendapat ganjaran. Bagas juga sesekali menemui Marco untuk membahas perkembangan kasus Maudy.Namun, sesibuk apa pun dirinya, pikirannya tetap saja kembali pada surat milik Roy Darmawan yang kini tersimpan sebagai barang bukti di ruang penyimpanan Polres.Kalimat pembukanya terus terngiang di kepalanya. "Untuk Rachel, putri kecil Papi yang paling Papi sayangi..."Bagas mengembuskan napas pelan. Dia menatap secangkir kopi yang sejak tadi mulai mendingin di atas meja. Semalam dia bahkan sulit memejamkan mata. Bukan karena memikirkan persidangan. Melainkan memikirkan bagaim

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁵⁹—Janji Bagas~

    Langkah Bagas terdengar pelan saat keluar dari ruang penyidik. Pintu kayu itu menutup di belakangnya dengan bunyi lirih. Namun, pikirannya masih tertinggal di dalam. Lebih tepatnya, pada selembar surat tua yang kini kembali disimpan dalam plastik barang bukti. —Untuk Rachel, putri kecil Papi yang paling Papi sayang— Kalimat itu terus berputar di kepalanya. Entah sudah berapa kali. Bagas mengusap wajahnya kasar. Dia merasa napasnya mendadak lebih berat. Padahal, dia bukan orang yang dituju dalam surat itu. Bukan pula orang yang berhak membacanya. Akan tetapi hanya dengan membaca beberapa kalimat pembuka saja, dadanya sudah dipenuhi sesak yang sulit dijelaskan. Apalagi Rachel nanti. Bagaimana reaksi perempuan itu ketika mengetahui ayah yang begitu dicintainya ternyata menyimpan rahasia sebesar itu? Bagas mengembuskan napas panjang. Dia melangkah melewati lorong Polres yang mulai ramai oleh para penyidik dan masyarakat yang datang silih berganti. Beberapa wartawan ma

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁵⁸—Barang bukti#2

    Penyidik Ardi menutup album perlahan. "Lalu kami menemukan ini." Dia mengambil salah satu bingkai foto. Di dalamnya terdapat foto Mauren seorang diri. Masih muda. Masih tersenyum. Masih terlihat begitu bahagia. "Awalnya kami mengira hanya foto biasa. Tapi saat tim identifikasi memeriksa bingkai ini... Kami menemukan sesuatu." Bagian belakang bingkai dibuka perlahan. Dari balik lapisan karton tipis, Penyidik Ardi mengeluarkan selembar kertas tua yang telah menguning. Lipatannya masih utuh, seolah tidak pernah disentuh selama bertahun-tahun. Bagas menatap kertas itu tanpa berkedip. Jantungnya kembali berdetak lebih cepat. "Surat?" Penyidik Ardi menggeleng pelan. "Kami belum tahu. Karena sejak ditemukan... Kami sengaja tidak membuka lipatannya." Bagas mengernyit. "Belum dibuka?" "Belum. Kami ingin pembukaannya didokumentasikan sebagai bagian dari proses penyidikan." Penyidik Ardi meletakkan surat itu kembali di atas meja. Tatapannya kemudian beralih kepada Bagas. "S

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁵⁷—Barang Bukti#1

    Bagas memarkir mobilnya di halaman Polres tepat pukul sebelas siang. Cuaca siang itu cukup terik. Matahari bersinar tanpa ampun, membuat aspal halaman parkir tampak berkilau diterpa cahaya. Meski demikian. Entah mengapa, udara yang dirasakan Bagas justru terasa begitu dingin. Sejak menerima telepon dari Penyidik Ardi pagi tadi, pikirannya tak pernah benar-benar tenang. "Kami menemukan beberapa barang yang berkaitan dengan almarhum Pak Roy." Kalimat itu terus berputar di dalam kepalanya. Singkat. Namun mampu menimbulkan puluhan pertanyaan yang belum memiliki jawaban. Selama ini Bagas mengira seluruh rahasia Maudy perlahan mulai terungkap. Mulai dari kasus pembunuhan berencana, manipulasi perusahaan. Hingga hubungan gelap yang selama bertahun-tahun disembunyikan perempuan itu. Tetapi, telepon pagi tadi membuatnya sadar. Masih ada potongan puzzle yang belum tersusun. Masih ada sesuatu yang bahkan belum pernah mereka sentuh. Bagas mematikan mesin mobil. Tangannya tetap bera

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁵⁶—Dihubungi Penyidik~

    Empat hari kemudian...Empat hari berlalu sejak kunjungan mereka ke rumah Rachel. Selama empat hari itu, kehidupan Bagaskara perlahan kembali berjalan, meski belum benar-benar normal. Dan, ya. Dia memilih kembali ke apartemennya. Setiap pagi dia masih bangun di apartemennya yang terasa jauh lebih sepi dibanding sebelumnya. Tidak ada lagi telepon dari Maudy yang memintanya datang ke kantor lebih awal. Tidak ada lagi jadwal rapat yang harus disusun. Tidak ada lagi tumpukan berkas yang harus diperiksa hingga larut malam. Semuanya berakhir begitu saja... Bersamaan dengan penangkapan Maudy. Bagas berdiri di depan jendela apartemen sambil memegang secangkir kopi hitam yang mulai mendingin. Tatapannya kosong mengarah ke deretan gedung pencakar langit yang berdiri megah di kejauhan. Sudah hampir seminggu dia tidak lagi bekerja. Bukan karena malas. Melainkan karena pekerjaan yang selama ini dijalaninya memang sudah tidak ada lagi.Kemarin-kemarin dia adalah asisten pribadi Maudy. Kini,

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁶⁰—Sudah bisa diajak bicara~

    Orang itu memarkir mobilnya beberapa meter dari mobil Bagas. Lantas, langsung turun dan membuntuti Bagas masuk dengan jarak yang tentunya aman. Sementara Bagas yang tidak sadar jika sedang diikuti, terus berjalan melewati lorong demi lorong tanpa merasa curiga sedikit pun. Langkahnya agak cepat

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁸—Rumah Maudy~

    Dapat mangsa baru, temen sendiri langsung dilupakan. "Mana katanya yang tadi lagi gak mood pergi? Buktinya, dideketin mangsa baru langsung kecantol." Bagas berdecak melihat kelakuan Nathan, yang sudah terlihat akrab dengan Tante Karin. Temannya itu bahkan sepertinya sudah lupa dengan permasalaha

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁷—Pernikahan~

    Bagas pikir jika Maudy tidak akan merealisasikan pernikahan siri dengannya secepat ini. Dan dengan segala perencanaan yang menurutnya sangat matang. Semua serba diatur oleh perempuan itu. Mulai dari tempat, penghulu dan para saksi. Oh, jangan lupa mas kawin yang berupa cincin berlian, yang past

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁶—Ajakan nikah dadakan~

    Tawaran mengantar pulang Bagas, rupanya disambut baik oleh Rachel. Padahal dia tadi cuma iseng nawarin. Tak disangka, dia pikir Rachel akan menolak tawarannya. Namun, karena sudah terlanjur nawarin pulang, dan Bagas tidak ingin mengecewakan, dia pun terpaksa izin sama Mami Kumala. Dan saat ini

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status