Calista tidak langsung menjawab. Ia menatap Alex beberapa detik, mencoba membaca sesuatu di balik ketenangan wajah pria itu.Alex tampak santai, terlalu santai untuk seseorang yang baru saja mengakui rencana besar."Kalau begitu Pak Alex datang ke sini bukan untuk negosiasi," ucap Calista Alex mengangkat gelasnya, memutar minuman di dalamnya. "Aku datang untuk memberi tau.""Mengancam lebih tepatnya," potong Calista tegas dengan sedikit senyum.Alex ikut membalas dengan senyuman liciknya. "Kalau kamu menganggapnya ancaman, silakan."Di meja lain, rahang Angga mengeras. Ia bisa melihat punggung Alex dari tempat duduknya. Setiap kata yang keluar dari Alex membuat darahnya mendidih. Namun Angga menahan diri. Karena Calista masih duduk di sana dan Alex masih belum menyadari kehadirannya.Sementara itu Calista mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Pak Alex pasti berpikir Kay akan langsung menerima begitu saja?"Alex menatapnya. "Anak laki-laki selalu penasaran tentang ayahnya.""Kay pun
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-09 อ่านเพิ่มเติม