Koridor rumah sakit masih dipenuhi orang.Meski sebagian mulai berpura-pura sibuk kembali, banyak yang tetap memperhatikan dari jauh. Bisikan kecil masih terdengar di beberapa sudut.Calista berdiri di depan Kay, tangannya menggenggam pergelangan tangan Kay."Ini urusan keluarga," ucap Calista lagi, suaranya tegas namun tetap tenang."Bukan bahan gosip."Beberapa perawat saling melirik lalu mulai berjalan pergi. Dua dokter, salah satunya dokter Dikta yang tadi berdiri di belakang Angga juga memilih menjauh. Dokter Dikta sangat penasaran ada hubungan apa diantara Angga dan Calista. Namun juga memilih pergi.Sementara Kay masih berdiri di tempatnya. Matanya menatap Angga. Ia tidak bergerak."Papa belum jawab," katanya lirih, tapi penuh tekanan.Calista menoleh ke arah Angga. Di matanya ada kekhawatiran. Namun juga pengertian. Calista tahu tidak ada lagi jalan untuk menunda.Angga menarik napas panjang."Kay," katanya pelan. "Kita bicara di ruangan.""Gak." Kay menggeleng keras."Kalau
Read more