Sementara itu, Calista dan Dikta sudah sampai di depan pintu ruangan Angga."Nah, ini," ucap Dikta sambil menunjuk pintu. Calista tersenyum kecil. "Iya, Dok. Terima kasih.""Santai aja. Gak usah tegang gitu." Dikta mengangkat mapnya sedikit, memberi isyarat pamit.Dokter Dikta melanjutkan langkahnya, meski hatinya masih ingin menetap.Calista mengangguk, lalu menarik napas pendek sebelum mengetuk pintu."Masuk," suara Angga terdengar dari dalam, datar, tegas.Di ruangan Angga, suasana terasa lebih sunyi. Angga berdiri di dekat meja, sedang membuka beberapa berkas. Calista berdiri dengan sikap sopan, menunggu."Dok."Gerakan Calista pelan, hatinya gelisah, takut Angga menceramahinya. Mungkin ada kesalahan yang telah ia lakukan tanpa sadar."Duduk," ucap Angga tanpa menoleh. "Sudah baca berkas yang kemarin?" Lanjut Angga."Sudah, Dok.""Apa pandanganmu dan apa yang akan kamu putuskan."Diam, tidak menjawab. Sejujurnya Calista dilema dengan semua itu. Keputusan besar harus ia ambil, ia
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-01-28 อ่านเพิ่มเติม