Calista menelan ludah. Ujung jemarinya mencengkeram botol minum lebih erat dari yang seharusnya."Syaratnya," suaranya tertahan sebentar, "Mama mau aku dan Dokter tunangan sebelum operasi."Angga tidak langsung bereaksi. Lampu toko kelontong di belakang mereka berdengung pelan. Angin malam menyapu dedaunan kering di pinggir jalan. Semua terasa terlalu sunyi untuk kalimat seberat itu."Tunangan?" ulang Angga akhirnya, nadanya rendah, hampir tidak terdengar.Calista mengangguk, masih menatap aspal. "Mama bilang, kalau terjadi apa-apa sama mama di ruang operasi, setidaknya dia tenang. Karena aku sudah dititipkan ke orang yang tepat. Kedengarannya egois, ya."Angga menghela napas panjang. Ia menatap Calista lama, lalu menoleh ke kanan-kiri, memastikan jalanan sepi."Di sini bising," katanya akhirnya. "Ikut aku sebentar."Calista mengangkat wajah. "Ke mana?""Ada taman kecil di seberang sana. Lebih tenang."Angga tidak menunggu jawaban. Angga berjalan lebih dulu, langkahnya pelan, memberi
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-02-03 อ่านเพิ่มเติม