Cincin itu masih terangkat di udara. Pantulan cahaya obor menari di permukaan logamnya, memantulkan lambang kuno Valerion yang tak mungkin dipalsukan. Namun bukan itu yang membuat aula membeku. Melainkan kalimat yang baru saja diucapkan— “Ada dua anak yang dibawa keluar malam itu.” Sunyi. Lalu— “Siapa yang kedua?” teriak seorang bangsawan, suaranya pecah antara marah dan takut. Keributan langsung meledak. “Apa ini kebohongan?!” “Ini pasti rekayasa!” “Kalau ada dua, maka siapa yang sah?!” Bisikan berubah menjadi teriakan. Tuduhan saling dilempar. Para bangsawan yang sebelumnya mulai condong pada Rhevan kini saling berpandangan dengan curiga. Kepercayaan yang baru saja terbentuk, hancur dalam sekejap. “DIAM!” Suara Aethran Valerion menggema, tajam seperti bilah pedang. Perlahan, keributan mereda. Tatapannya langsung tertuju pada Marcell Dorne. “Hei, orang tua,” ucapnya dingin. “Kau baru saja menabur kekacauan di aula kerajaan.” Ia melangkah maju, satu demi satu.
Baca selengkapnya