Kamar pengantin itu terlalu besar untuk disebut hangat. Api di perapian menyala rendah, memantulkan bayangan panjang di dinding batu. Tirai merah gelap bergoyang pelan tertiup angin malam, membawa aroma dupa istana yang menyengat, bukan wangi bunga, melainkan bau kekuasaan.Elora berdiri kaku di dekat ranjang, jemarinya mencengkeram kain gaunnya sendiri. Mahkota pengantin telah dilepas, rambutnya terurai sederhana. Seharusnya malam ini menjadi awal hidup baru-begitu kata semua orang.Namun, yang Elora rasakan hanyalah ancaman.Pintu kamar terbuka. Kael Draven masuk tanpa suara berlebihan, langkahnya mantap seperti saat ia memasuki medan perang. Jubah jenderalnya dilepaskan dan diletakkan di kursi, memperlihatkan pakaian hitam sederhana yang biasa dikenakannya saat tidak berada di hadapan istana.Ia tidak menatap Elora. Ia menutup pintu. Kunci berputar. Suara itu membuat jantung Elora berdegup keras."Tenang," ucap Kael datar, membelakanginya. "Tidak akan ada yang terjadi malam ini."E
Last Updated : 2026-01-12 Read more