Malam itu hujan turun seperti tirai yang sengaja diturunkan untuk menutup kejar-kejaran dua mobil Van tadi. Van hitam melaju membelah jalanan sempit, ban-ban basahnya menciptakan suara berdecit halus setiap kali Ezra berbelok tajam. Di kursi belakang, Livia terduduk kaku, punggungnya menempel pada pintu, dadanya naik turun tak beraturan.Wajah gadis itu pucat, tapi sorot matanya menyala, namun bukan oleh ketakutan, melainkan oleh kemarahan yang terkontrol. Rambut hitamnya masih basah, sebagian menempel di leher jenjangnya. Jaket hitam kebesaran yang ia kenakan membuat tubuhnya terlihat makin kecil, tapi sikapnya justru sebaliknya: tegak, keras, dan menolak rapuh. "Berhenti," kata Livia, kali ini lebih rendah, lebih berbahaya. "Putar balik!" titahnya pada Ezra. Ezra tak menoleh. Rahangnya mengeras. "Kalau kita balik, kita mati," balas Ezra, tegas. "Kalau kita lanjut, Papa mati," balas Livia cepat.Kalimat itu membuat keheningan memotong
Last Updated : 2026-02-02 Read more