LOGINLivia dan Raka saling membenci sejak awal. Bagi Livia, Raka adalah pria yang membunuh ayahnya. Sedangkan bagi Raka, Livia hanyalah kelemahan berbahaya yang bisa menghancurkan kekuasaannya. Namun takdir memaksa mereka berada di bawah atap yang sama, bukan sebagai pasangan, melainkan sebagai tawanan dan pemilik. Tujuan hidup mereka berlawanan. Livia ingin bertahan hidup sambil menunggu kesempatan membalas dendam. Sementara Raka ingin menjaga Livia tetap hidup demi rahasia besar yang ia bawa, sekaligus menjadikannya umpan untuk musuh-musuhnya. Karena ancaman dari dunia luar, Raka menetapkan satu keputusan mutlak bahwa Livia harus tinggal di bawah perlindungannya selama waktu tertentu, mengikuti semua aturannya, dan tidak pernah keluar dari jangkauan pengawasannya. Selama hidup bersama, konflik tak terhindarkan. Pertengkaran, kebencian, dan ketegangan terus terjadi. Namun di balik itu, Livia mulai melihat sisi Raka yang tidak ia duga, berupa perlindungan tanpa pamrih, kemarahan yang muncul karena takut kehilangan, dan kesetiaan mematikan pada orang yang ia anggap miliknya. Tanpa disadari, kebencian mereka mulai goyah. Kehadiran satu sama lain menjadi candu yang berbahaya. Livia membenci dirinya sendiri karena merasa aman di sisi musuhnya, sementara Raka kehilangan kendali karena mulai mencintai wanita yang seharusnya hanya ia manfaatkan. Ketika kebenaran tentang kematian ayah Livia terungkap, perjanjian perlindungan itu harus berakhir. Livia diberi pilihan untuk pergi dan bebas. Raka dipaksa melepaskan satu-satunya hal yang mampu meluluhkan hatinya. Namun saat mereka berpisah dan menjalani hidup masing-masing, satu hal menjadi jelas, bahwa Dunia tanpa satu sama lain terasa jauh lebih kejam. Di tengah perang terakhir dan ancaman kematian, mereka memilih untuk saling mengejar... bukan sebagai musuh, bukan sebagai pemilik dan tawanan, melainkan sebagai dua orang yang memilih untuk tetap bersama, meski dunia menentang. Karena bagi mereka, cinta yang lahir dari kebencian mungkin berbahaya, akan tetapi kehilangannya jauh lebih mematikan.
View MorePapa!" Livia berteriak histeris, suara tembakan memekakkan telinga, mengudara di tengah senyapnya malam.
"Pa, jangan tinggalin Livia, Pa." Tubuhnya ambruk, dunianya runtuh dalam satu detik. Menyaksikan tubuh ayahnya terhuyung tak berdaya, di atas lantai marmer putih yang sekarang berubah warna dengan bau anyir menyengat. Mata Livia membelalak, napasnya tercekat, sementara kakinya tak lagi mampu menyangga tubuh. Ia buru-buru melangkah mundur, memilih bersembunyi di balik lemari besar. Tangannya yang tremor ia gunakan untuk membekap bibirnya sendiri agar tangisnya tak pecah dan mereka menyadari keberadaannya. "Bos, target sudah—" "Tutup mulutmu, sialan!" Pria itu mengumpat, memotong kalimat yang belum usai anak buahnya lontarkan. Livia mencoba mengintip dari celah kecil pintu lemari. Di sana, pria itu berdiri. Tubuhnya tinggi, dan tegap. Auranya mengerikan, tak peduli dengan mayat yang tergeletak di sisinya berdiri. Tanpa merasa bersalah, pria itu mengeluarkan sapu tangan hitam dan mengelap pistolnya dengan santai. Pekerjaan itu seolah telah dilakoninya berkali-kali tanpa rasa bersalah. "Kita pergi sekarang?" tanya salah satu pria dengan senjata di genggaman tangannya. "Tunggu," jawabnya singkat sembari memberi isyarat kepada anak buahnya untuk diam beberapa saat. Tangannya diangkat ke udara. Lengan jasnya tersibak, dalam sudut ini Livia mampu melihat gelang pria itu berukir nama... Raka Blackwood. Dia meringis pilu, matanya melotot. Tak sadar suaranya memancing tatapan Raka ke arahnya. Meski dia segera membekap mulutnya, namun mata mereka telah lebih dahulu beradu pandang. "Jangan, kumohon. Jangan ke sini," rafal Livia. Tubuhnya bergetar hebat, jantungnya berdebar tak karuan. Keringat lolos membasahi dahi. Gadis itu menahan napas, berharap pria itu segera pergi. Namun langkah kaki Raka justru semakin mendekat. "Ada orang di sini rupanya, mau keluar sendiri, atau ku paksa, hem," ucapnya tenang. "Aku tahu kamu di sana bocah sialan. Keluar!" sentak Raka setelah ia berada di depan lemari itu. Tubuh Livia bergetar. Ia benar-benar merasa takut, namun bukan hanya itu. Dadanya naik turun menahan emosi. Ia menggigit bibir bawahnya, lalu dengan satu dorongan emosi, ia menendang pintu lemari hingga terbuka. "Bocah sialan!" bentaknya. Ia berdiri dengan tubuh gemetar, menunjuk Raka dengan mata penuh air mata dan kebencian. Napasnya memburu, namun ia tetap berdiri tegap di hadapan Raka. "Kamu membunuh Papaku!" teriak Livia. "Apa Salah Pap, kenapa kamu bunuh Papa!" makinya. Ingin sekali Livia menerjang pria itu, membalas dendam akan kematian sang ayah. Namun, dia bisa apa. Nyawanya di sini sebagai taruhan. Melihat itu, anak buah Raka bergerak, namun pria itu justru mengangkat tangan ke udara memberi isyarat berhenti. Kini tatapannya tak lepas dari Livia. Tatapannya tajam dan menusuk. "Siapa yang membunuhnya? Dia mati sendiri," ucap Raka datar. Livia tertawa pendek, tawa menyakitkan lebih tepatnya. "Bohong! Aku lihat kamu nembak Papa! Apa salah Papa!" bentaknya dengan mata merah dan air mata yang lolos. "Percaya diri sekali kamu, buka matamu lebar-lebar, sialan. Papamu yanng milih mati, karena ingin segera masuk ke pintu neraka," lanjut Raka dengan nada dingin. "Dasar gila!" Livia berteriak. "Aku pasti laporin kamu. Aku akan buat kamu mendekam di penjara, berengsek!" Mendengar itu, Raka tersenyum tipis, senyum yang membuat bulu kuduk Livia berdiri. "Silakan saja, nggak ada yang ngelarang. Lakuin sesuka hatimu, bocah." Mendengar itu, anak buah Raka mulai gelisah. Salah satu dari mereka berbisik, “Bos, polisi bisa datang kapan aja.” “Beresin,” jawab Raka singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari Livia. Livia tersentak. “Kamu mau kabur?” tanyanya dengan sedikit bentakan kecil. Raka mengangkat alis. “Kabur dari apa?” bukannya menjawab, ia justru balik bertanya pada gadis itu. “Dari pembunuhan!” “Ini bukan pembunuhan. Aku hanya membungkamnya,” sahut Raka dingin. Ucapan itu membuat dada Livia sesak. “Kamu bukan manusia, taoi kamu iblis,” Livia berbisik penuh cacian. “Kalau aku iblis, Lalu sebutan apa yang cocok untuk ayahmu?” Ia maju beberapa langkah, sehingga tak ada lagi jarak di antara mereka. “Diam! Jangan samakan dirimu dengan Papaku!” pekik Livia karena ia sudah tidak tahan lagi. Dengan emosi yang memuncak, ia mendorong dada Raka sekuat tenaga. Namun, Dorongan itu sama sekali tak membuat Raka bergeser sedikit pun. Dan justru sebaliknya, tangan pria itu dengan cepat langsung menangkap pergelangan Livia, dan mengunci gadis itu dengan kekuatannya. Hal itu membuat Livia meringis kesakitan “Lepaskan aku!” teriak Livia, berusaha menarik tangannya. “Aku bilang lepasin!” bentaknya lagi. “Kalau aku mau nyakitin kamu, maka aku bisa membuat tanganmu patah dari tadi.” ujar Raka sembari mendekatkan wajahnya, Livia terdiam sesaat. Saat ini tangannya gemetar di dalam genggaman Raka. Ia hanya bisa merasakan dinginnya kulit pria itu, kulit yang keras dan tak berperasaan. “Kamu tahu kenapa kamu masih hidup?” tanya Raka dengan nada pelan. Livia menelan ludah. “Karena kamu terlalu pengecut.” “Karena kamu saksi.” jawabnya disertai senyuman miring. “Itu berarti kamu takut,” Livia menyambar cepat. Mendengar itu, Raka tertawa pendek. Lalu ia melepaskan tangan Livia tiba-tiba. Sehingga membuat tubuh gadis itu hampir terjatuh karena kehilangan keseimbangan. “Dengerin aku baik-baik... mulai malam ini, kamu tidak punya kendali atas hidupmu sendiri” ujarnya penuh penjelasan. Livia mendongak tajam. “Kalau begitu, aku lebih baik mati!” “Percaya sama aku… mati itu jauh lebih mudah dari pada hidup bersamaku.” kata Raka dengan nada pelan, tajam, dan menusuk Dan Kata-kata itu berhasil membuat bulu kuduk Livia berdiri. “Bos,” panggil Kael dengan sedikit mendesak, “waktunya-” Raka mengangguk tipis. lalu tatapannya menoleh ke Livia lagi. “Kamu ikut bersamaku,” “Aku nggak mau!” Livia mundur beberapa langkah. “Aku mau tetap di sini! Ini rumahku!” Ia menolak mentah-mentah ajakan Raka. “Ini bukan rumah, karena rumah ini udah jadi kuburan.” katanya datar sembari menatap ruangan itu yang di mana, jasad ayah Livia terbujur kaku dalam genangan cairan merah. Ucapan itu mampu menghancurkan sisa kekuatan Livia. Sehingga tanpa pikir panjang ia pun menyerang Raka. Dan untuk pertama kalinya ia menampar, memukul, mencakar seorang pria dengan semua kemarahan, duka, dan ketakutannya. “Bunuh aku sekalian!” jeritnya. Raka menahan kedua tangan Livia dengan mudah. Nafas mereka bertabrakan. Mata Livia merah, wajahnya basah oleh air mata. “Kalau aku bunuh kamu, aku akan kehilangan satu-satunya kartu yang bisa bikin banyak orang ketakutan.” Ia berbisik di telinga Livia. “Kamu gila! Kamu monster. Kamu jadikan aku-” “Ya.” jawabnya singkat dengan nada dingin. Raka melepaskan satu tangannya, lalu memberi isyarat pada Kael. “Siapkan mobil.” Kael mengangguk dan pergi. Sementara itu, Livia hanya bisa menggeleng putus asa. “Aku membencimu, Brengsek!” “Aku tahu.” “Aku bersumpah... aku bakal balas semua ini.” Livia bersumpah pada dirinya sendiri di depan pria itu disertai tatapan penuh kebencian, kemarahannya. "Aku akan menunggu." Raka menatapnya datar. Beberapa detik kemudian, Raka membungkuk dan mengangkat tubuh Livia begitu saja. Gadis itu menjerit, memukul dada Raka, menendang dengan sisa tenaganya. “Turunkan aku! Dasar pembunuh!” Bersambung...Pagi hari...Pagi ini datang tanpa nembawa cahaya yang hangat. Langit di luar jendela kamar Livia abu-abu, seperti sisa mimpi buruk yang belum sepenuhnya pergi. Ia terbangun dengan napas tersengal-sengal, dan telapak tangannya basah oleh keringat dingin.Suara tembakan masih terngiang di kepalanya.Dan wajah Raka yang dingin, tanpa ragu dan tanpa belas kasihan itu... tengah berdiri di antara dirinya dan maut.“Brengsek…” gumamnya sambil mengusap wajah.Lalu ia bangkit perlahan. Gadis itu merasa tubuhnya terasa pegal, tapi bukan itu yang mengganggunya. Melainkan ada rasa asing di dadanya. Bukan rasa takut. Bukan rasa marah sepenuhnya. Melainkan sesuatu yang lebih menjengkelkan. Satu persatu pertanyaan muncul, yang ia sendiri pun tak tau jawabannya. Kenapa aku nggak dorong dia waktu itu? Kenapa aku tak membalasnya saat itu? Dan kenapa aku nggak membiarkannya celaka? Padahal itu waktu yang tepat.Dengan langkah kakinya yang lemas, Livia berjalan ke kamar mandi. Kini air dingin membasuh
“Brengsek!” seru Livia, kesal. Bagaimana ia tak kesal, ketika mengetahui bahwa pintu kamarnya kembali terkunci. Dan sesuai dugaannya bahwa posisinya di rumah itu tak jauh beda dengan seorang tawanan. Jemarinya meremas gagang pintu, menahan emosi yang menumpuk sejak semalam. Bukan cuma marah, tapi ia juga merasa terhina karena ia tak punya kendali atas hidupnya lagi. “Aku bukan tawanan, tapi kenapa kamu menahanku seperti ini,” lirih Livia, sembari menempelkan dahinya ke pintu. Ia menarik napas panjang. Sehingga tercium bau besi dingin dari gagang pintu yang terasa begitu nyata, seperti simbol dari semua yang merampas kebebasannya. Bahkan rumah ini pun terasa terlalu sunyi untuk disebut aman.Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar. Ia melangkah mundur dan berbalik membelakangi pintu. “Masuk,” ucapnya datar, tanpa menoleh.Setelah mendengar Livia mempersilakan masuk, Mara pun membuka pintu dengan wajah tenang. “Kamu diminta turun. Sekarang.” katanya pada Livia yang tengah berdi
Kamar Livia... Mesti pintu kamar itu tertutup dengan bunyi cukup pelan, namun efeknya seperti palu yang menghantam dada Livia. Kamar itu benar-benar sunyi, seolah dunia di luar berhenti bergerak. Dalam ruangan itu lampu temaram menyala redup, sehingga memantulkan bayangan tubuh gadis itu di lantai marmer hitam yang dingin.Livia menoleh ke sekeliling. Kamar itu besar, bersih, dan rapi. “Ini penjara,” gumamnya lirih. Meski kamar itu cukup besar, bersih dan rapi... Livia tak pernah merasa nyaman. Sebab posisinya di rumah itu hanyalah seorang tawanan yang berkedok saksi. Perlahan ia berjalan mendekati pintu dan mencoba memutar gagang pintu. Dan benar saja, pintu itu benar-benar terkunci. Mengetahui itu, tangan gadis itu mengepal, dengan rahangnya mengeras. Kini nafasnya mulai memburu, karena marah yang tak tahu harus dilampiaskan ke mana. “Brengsek…” desisnya.Livia menyandarkan punggung ke pintu lalu tubuhnya meluncur turun hingga duduk di lantai. Lututnya ia tarik ke dada, disertai
“Turunin aku sekarang!” teriaknya sambil memukul kaca mobil. “Aku tidak sudi ikut bersamamu!” Livia terus berontak meminta turun dari mobil.Namun, tak ada satupun dari mereka yang menanggapi tantrumnya Livia. Saat ini, Raka hanya duduk dengan tenang, satu tangan bersedekap, wajahnya dingin seperti patung. Tatapannya lurus ke depan, seolah Livia bukan manusia, hanya barang bawaan.“Kamu denger aku, kan?” suara Livia bergetar sembari menoleh ke arah Raka.Lagi dan lagi, dalam mobil itu hening tanpa jawaban. Raka sama sekali tidak tertarik untuk menanggapi ocehan Livia. Dan hal itu membuat Livia semakin kesal.“Jawab aku, Brengsek!” bentaknya dengan penuh emosi.Akhirnya Raka melirik sekilas. “Teruslah berteriak, maka aku akan menyuruh mereka untuk mengikat serta membungkammu!" tegasnya sambil sedikit mengancam. Livia tercekat ketika mendengar ucapan itu membuat tenggorokan. Ia menelan ludah, dadanya naik turun menahan emosi yang menumpuk jadi satu antata takut, marah, dan duka.“Kam
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.