MasukLivia dan Raka saling membenci sejak awal. Bagi Livia, Raka adalah pria yang membunuh ayahnya. Sedangkan bagi Raka, Livia hanyalah kelemahan berbahaya yang bisa menghancurkan kekuasaannya. Namun takdir memaksa mereka berada di bawah atap yang sama, bukan sebagai pasangan, melainkan sebagai tawanan dan pemilik. Tujuan hidup mereka berlawanan. Livia ingin bertahan hidup sambil menunggu kesempatan membalas dendam. Sementara Raka ingin menjaga Livia tetap hidup demi rahasia besar yang ia bawa, sekaligus menjadikannya umpan untuk musuh-musuhnya. Karena ancaman dari dunia luar, Raka menetapkan satu keputusan mutlak bahwa Livia harus tinggal di bawah perlindungannya selama waktu tertentu, mengikuti semua aturannya, dan tidak pernah keluar dari jangkauan pengawasannya. Selama hidup bersama, konflik tak terhindarkan. Pertengkaran, kebencian, dan ketegangan terus terjadi. Namun di balik itu, Livia mulai melihat sisi Raka yang tidak ia duga, berupa perlindungan tanpa pamrih, kemarahan yang muncul karena takut kehilangan, dan kesetiaan mematikan pada orang yang ia anggap miliknya. Tanpa disadari, kebencian mereka mulai goyah. Kehadiran satu sama lain menjadi candu yang berbahaya. Livia membenci dirinya sendiri karena merasa aman di sisi musuhnya, sementara Raka kehilangan kendali karena mulai mencintai wanita yang seharusnya hanya ia manfaatkan. Ketika kebenaran tentang kematian ayah Livia terungkap, perjanjian perlindungan itu harus berakhir. Livia diberi pilihan untuk pergi dan bebas. Raka dipaksa melepaskan satu-satunya hal yang mampu meluluhkan hatinya. Namun saat mereka berpisah dan menjalani hidup masing-masing, satu hal menjadi jelas, bahwa Dunia tanpa satu sama lain terasa jauh lebih kejam. Di tengah perang terakhir dan ancaman kematian, mereka memilih untuk saling mengejar... bukan sebagai musuh, bukan sebagai pemilik dan tawanan, melainkan sebagai dua orang yang memilih untuk tetap bersama, meski dunia menentang. Karena bagi mereka, cinta yang lahir dari kebencian mungkin berbahaya, akan tetapi kehilangannya jauh lebih mematikan.
Lihat lebih banyakAmelia's POV
My phone buzzed against the nightstand, breaking the silence of my small room. I already knew who it was before I looked. Victoria never called unless she wanted something.
"I'm sending you an address," Victoria said, without so much as a hello. Her voice carried that familiar sharpness, the tone she used when she expected obedience and nothing less. "You're coming to my new husband's house. Today. And Amelia, behave yourself. Don't embarrass me."
"Yes, Mum," I said quietly, the words automatic, worn smooth from years of repetition. It didn't matter that they tasted sour in my mouth every time I said them. Victoria demanded it, and I had learned long ago that refusing cost more than it was worth.
"I mean it," Victoria pressed. "This one is important. Don't ruin this for me."
"I understand, Mum."
The line went dead.
I set the phone down and stared at the ceiling for a long moment. A new husband. A new house. A new man to smile for, to be careful around.
I muttered to myself as I rose from the bed. "Another stepfather. Let's hope this one isn't as foolish as the rest."
The others had been easy to read men, who mistook Victoria's beauty for warmth, who never noticed that Victoria was only there for what they could offer, who found some quiet pleasure in mistreating me. I didn't expect this one to be any different. I just hoped he wouldn't be as unkind as the others had been.
I picked up my phone again and dialed Maya.
"She's married again," I said, before Maya could even finish her greeting. "I'm heading to his place today."
"Already?" Maya sighed on the other end. "You okay?"
"I will be." I moved to my closet, pulling out a small worn bag. "It's just another house. Another man to stay invisible around. Another man to call 'dad,' or by his name, if that's what he'd prefer."
"Call me the second you get settled," Maya said. "And Amelia, if it gets bad, you call me first. Promise me."
"I promise." My voice softened. "Thank you, Maya. I don't know what I'd do without you."
"You'd survive," Maya said gently. "You always do. Just be careful today, okay?"
I hung up and turned to my desk, my favorite spot, where I kept the magazine, my little secret, the one only Maya knew about. I picked it up carefully, the way I always did, like it might crumble if I wasn't gentle enough.
Leonardo Moretti stared back at me from the glossy page, jaw set, eyes unreadable even in print. I'd read the article a hundred times. I'd memorized every detail of his face long before I memorized the words.
My fingers traced the line of his jaw, then up along his cheekbone, slow, like I could feel the warmth of real skin instead of cold paper.
I pressed my lips to the magazine, a small, almost embarrassed gesture, and folded it back with careful hands before sliding it deep into my bag, beneath my clothes, where no one would think to look.
‘I wish I could meet you one day,’ I thought.
Then I zipped the bag shut, took one last look around my small room, and left.
The address led me to a penthouse that made my breath catch the moment I stepped out of the car. Glass walls rose toward the sky, catching the afternoon light in sharp, clean lines. I felt uneasy for a moment, double-checking the address on my phone to be sure I was in the right place. Once I was certain, I stepped inside.
A doorman greeted me with practiced politeness and led me up in a private elevator that opened directly into the apartment.
The space inside was vast marble floors, floor-to-ceiling windows, furniture that looked like it cost more than everything I had ever owned combined. I stood in the entryway for a moment, gripping the strap of my bag, that same uneasy feeling settling low in my stomach.
Then I saw him.
He was standing out on the balcony, his back to me, one hand resting on the railing as he looked out over the city. Dark hair graying faintly at the temples, broad shoulders beneath a perfectly tailored shirt, the kind of stillness that suggested a man used to being obeyed rather than questioned.
Something about the shape of him tugged at my memory, but I dismissed it, surely my mind was playing tricks, drawing comparisons where there weren't any.
He must have heard my heels against the marble, because he turned.
And the world stopped.
It was him. The same face from the magazine. The same sharp jaw. The man I had wished to meet my whole life. The man folded away in my bag at this very moment, pressed against my side like a secret I hadn't meant to bring with me.
Leonardo studied me for a moment, something unreadable passing behind his eyes, and then he offered a small, polite smile.
"You must be Amelia." His voice was low, measured, carrying the same quiet authority I remembered even from a photograph. "Victoria told me you'd be arriving today." He extended a hand toward me, unhurried, certain. "Welcome. I suppose that makes me your stepfather now."
My whole body went still.
The bag on my shoulder suddenly felt impossibly heavy. I couldn't believe my ears. My mouth opened, but no sound came out.
He's the man from the magazine. My crush.
He's the man Mum just married.
He's the man I was supposed to hate.
And instead, standing a few feet away from him, alI I could think was that I never wanted to stop looking at his face.
I swallowed hard, forced my frozen lips into the ghost of a smile, and reached out to shake his hand.
The moment our palms touched, something shifted in the air between us, subtle, dangerous, unnamed.
Leonardo's grip lingered a beat longer than it should have. His eyes flickered, just slightly, down to my lips, then back up as if he, too, had felt something he couldn't name and didn't like that he'd felt it.
I still held his hand until the elevator chime sounded behind me.
Pintu ICU tertutup perlahan. Bunyi itu cukup pelan. Terlalu pelan untuk sesuatu yang barusan merenggut separuh dunia Livia. Lampu merah di atas pintu menyala stabil, dingin, seolah tidak peduli pada darah yang masih mengering di tangan wanita itu.Livia berdiri terpaku dengan tubuhnya yang basah. Rambut hitamnya menggumpal di leher dan punggung, gaun gelapnya berat oleh air dan noda merah yang belum sempat ia sadari. Tangannya masih gemetar, jari-jarinya kaku, seolah lupa bagaimana cara melepaskan sesuatu.Sementara di balik pintu itu, Raka bertarung sendirian. Dan ia… tidak bisa ikut menemani pria yang ia cintai. "Duduk, Liv," ucap Maya pada wanita yang tak ingin terlihat rapuh itu.Suara Maya terdengar dekat. Lebih lembut dari biasanya. Namun Livia tetap tidak menoleh. Matanya masih setia menatap lantai putih rumah sakit yang memantulkan cahaya pucat. Pantulan bayangannya terlihat cukup asing. Ia tampak kurus, rapuh, seperti versi dirinya yang belum sempat ia kenali. "Aku baik-bai
"DOR!"Suara tembakan itu memecah dunia. Bukan kerasnya yang paling menyakitkan, tapi sunyi yang menyusul setelahnya. Sunyi yang terlalu cepat. Terlalu kosong.Livia merasa tubuhnya kehilangan berat. Seolah hujan tak lagi jatuh ke tanah, tapi langsung ke dadanya, seolah menghantam jantungnya berkali-kali. Udara tersedak di tenggorokannya. Dunia berputar, lampu helipad melebur jadi garis-garis cahaya yang goyah."Raka!" teriaknya. Nama itu keluar dari mulutnya seperti jeritan yang terlambat. Suaranya pecah di tengah hujan, tenggelam di antara langkah-langkah panik dan teriakan yang tak lagi ia dengar dengan utuh. Ia berlari.Langkahnya terpeleset, sepatu basah menghantam lantai dingin, tapi ia tak peduli. Gaun gelapnya terseret air, rambut hitamnya menempel di wajah pucat yang kini tak lagi menyimpan amarah... hanya ketakutan. Tubuh Raka tergeletak di dekat pintu lorong ICU.Tubuhnya mengeluarkan darah. Terlalu jelas dan bahkan terlalu nyata.Livia berlutut, tangannya gemetar saat me
Hujan masih jatuh, tapi tak lagi terdengar oleh Livia. Dunia seolah menyempit pada satu titik... pria yang berdiri di bawah lampu darurat helipad itu. Tubuhnya tinggi, tegap, bahu lebar dibungkus mantel gelap yang basah. Rambutnya hitam dengan gurat abu tipis di pelipis, wajahnya tegas dengan rahang keras yang dulu sering muncul dalam foto-foto lama… foto yang sudah ia bakar sendiri bertahun-tahun lalu.Matanya. Mata itu tak berubah sama sekali. Hitam, tenang, dan ia terlalu mengenalnya."Livia," panggil pria itu lagi, kali ini suaranya lebih rendah, stabil, seolah mereka hanya bertemu setelah makan malam biasa. "Kamu kelihatan… lebih dewasa."Nafas Livia tercekat. Dadanya naik turun. Air hujan mengalir di sepanjang wajahnya, bercampur dengan sesuatu yang asin... ia tak yakin apakah itu hujan atau ingatan yang bocor begitu saja."Itu nggak mungkin," gumamnya pada dirinya sendiri. Suaranya serak. "Kamu sudah lama mati."Mendengarnya, pria
Hujan turun makin kejam, menghantam atap rumah sakit dan helipad dengan suara keras, seolah langit ikut murka. Angin memutar baling-baling helikopter yang masih melayang rendah, membuat udara bergetar dan rambut Livia berkibar liar di wajahnya. Gaun hitamnya menempel di tubuh ramping itu, memperjelas bahu tegas dan tulang selangka yang kini basah, dingin, tapi tak goyah.Lampu kota di kejauhan padam sebagian.Gelap menjalar seperti penyakit, menelan satu demi satu wilayah. Kekacauan yang ia lepaskan kini hidup, bernapas, dan bergerak.Damar mundur satu langkah. Untuk pertama kalinya, senyum tenangnya retak. Rahangnya mengeras, urat di lehernya menonjol. Pria itu masih berdiri tegap, tapi matanya tak lagi penuh kendali."Kamu gila," katanya, suaranya tenggelam oleh deru angin.Livia berdiri diam. Wajahnya pucat, tapi matanya hitam pekat, berkilat oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari amarah. Keyakinan. Keputusan yang sudah dibuat dan tak
Gelap menelan gudang itu sepenuhnya. Bukan gelap yang damai, melainkan gelap yang bergerak... dipenuhi nafas, langkah samar, dan detak jantung yang terlalu keras untuk disembunyikan. Bau besi tua dan debu makin pekat. Suara listrik mati terdengar seperti desahan terakhir sebelum sesuatu yang lebi
Suara tembakan itu memantul di udara malam, begitu tajam, hingga memecah sunyi yang selama ini dipelihara oleh rumah di atas bukit. Kaca balkon bergetar hebat. Retakan menjalar seperti urat nadi pecah... begitu cepat, liar, dan tak bisa dihentikan.Livia refleks menunduk. Pecahan kaca m
Bau antiseptik bercampur darah basah menyergap hidung, begitu Livia melangkah masuk. Lorong rumah sakit itu terlalu terang, dengan lampu putihnya yang kejam serta memantulkan wajah-wajah tegang, epatu yang berlari, dan genangan air hujan yang menetes dari ujung mantel hitamnya. Gaunnya menempel d
Ledakan itu tidak hanya mengguncang tanah... namun ia juga merobek malam. Gelombang panas menyapu gudang, membuat udara mendesis. Dinding besi bergetar keras, debu runtuh dari langit-langit, dan tubuh-tubuh terhuyung oleh hentakan yang datang terlambat tapi mematikan. Lampu darurat pada
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.