Hujan turun makin kejam, menghantam atap rumah sakit dan helipad dengan suara keras, seolah langit ikut murka. Angin memutar baling-baling helikopter yang masih melayang rendah, membuat udara bergetar dan rambut Livia berkibar liar di wajahnya. Gaun hitamnya menempel di tubuh ramping itu, memperjelas bahu tegas dan tulang selangka yang kini basah, dingin, tapi tak goyah.Lampu kota di kejauhan padam sebagian.Gelap menjalar seperti penyakit, menelan satu demi satu wilayah. Kekacauan yang ia lepaskan kini hidup, bernapas, dan bergerak.Damar mundur satu langkah. Untuk pertama kalinya, senyum tenangnya retak. Rahangnya mengeras, urat di lehernya menonjol. Pria itu masih berdiri tegap, tapi matanya tak lagi penuh kendali."Kamu gila," katanya, suaranya tenggelam oleh deru angin.Livia berdiri diam. Wajahnya pucat, tapi matanya hitam pekat, berkilat oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari amarah. Keyakinan. Keputusan yang sudah dibuat dan tak
Last Updated : 2026-02-06 Read more