Napas Davian masih memburu saat langkah kakinya bergaung di koridor lantai VVIP Rumah Sakit Medika.Di tangannya, dia menjinjing sebuah kantong kertas berisi cheesecake lembut dari toko kue ternama, sebuah usaha kecil untuk membujuk lidah Viona yang mungkin masih pahit karena obat.Rapat darurat itu selesai lebih cepat dari perkiraan karena Davian memotong semua basa-basi direksi dengan kejam, hanya demi bisa segera kembali ke sisi istrinya.Davian mendorong pintu kamar rawat nomor 305 dengan siku, dengan senyum tipis sudah tersungging di bibirnya, siap melontarkan permintaan maaf kedua.“Viona, aku kem—”Kalimat itu terputus di udara. Senyum di bibir Davian lenyap seketika, digantikan oleh garis rahang yang mengeras.Ruangan itu kosong.Ranjang pasien yang seharusnya ditempati Viona kini rapi, sprei putihnya tegang tanpa kerutan, bantalnya tersusun kaku.Infus tiang berdiri tegak tanpa kantong cairan. Tidak ada tas, tidak ada buket mawar merah yang ia kirimkan pagi tadi, tidak ada ta
最終更新日 : 2026-02-16 続きを読む