“Hah?”Mulut Davian terbuka sedikit, rahangnya turun karena rasa tak percaya yang mendalam.Dia menatap Viona dengan mata membelalak, ekspresinya campuran antara bingung, frustrasi, dan ingin tertawa miris.“Marah?” ulang Davian, suaranya naik satu oktaf saking absurdnya tuduhan itu.“Demi Tuhan, Viona! Aku bersumpah aku tidak sedang marah padamu! Kenapa aku harus marah? Kau tidak melakukan kesalahan apa pun! Kau cuma minta es krim!”Davian memukul setir mobil pelan dengan telapak tangannya, mencoba menyalurkan rasa gemasnya.“Aku diam karena aku fokus menyetir, bukan karena aku sedang merencanakan hukuman untukmu!” jelas Davian berapi-api.Viona tidak menatapnya. Ia masih membuang muka ke jendela, bibirnya mengerucut, matanya berkaca-kaca.“Tapi nadamu tadi,” cicit Viona pelan, “Singkat. Dingin. 'Oke'. Itu jawaban orang marah.”Davian memejamkan matanya sejenak, menarik napas panjang melalui hidung, dan menghembuskannya perlahan melalui mulut. Ia harus sabar.Ia sedang berhadapan den
最終更新日 : 2026-02-20 続きを読む