Sarah menatap ponsel di tangannya, jari-jarinya menekan layar dengan cepat. Matanya masih merah, api kemarahan dan kekecewaan membara di dalamnya. Ia tahu satu hal: ia tidak bisa membiarkan Zayn mengetahui rencananya. Dengan napas berat, ia menghubungi satu nama yang hanya bisa dipercaya: Hansson, sahabat lamanya yang selalu bisa diandalkan. “Hansson… aku butuh bantuanmu. Sekarang,” suaranya tegas, nyaris berbisik. Di ujung sana, Hansson terkejut tapi segera mengerti keseriusan nada Sarah. “Aku di jalan, Sarah. Apa yang terjadi?” “Tolong jangan tanya banyak. Datang ke gerbang depan mansion Velasco. Cepat. Aku harus pergi dari sini sebelum Zayn sadar.” Dengan hati berdebar, Sarah menutup ponselnya. Ia berdiri di depan cermin, menatap refleksinya sendiri perempuan yang dulunya polos, kini dipenuhi tekad yang dingin dan penuh strategi. Malam ini, ia akan pergi dari h
Terakhir Diperbarui : 2026-01-30 Baca selengkapnya