Musuhku Canduku

Musuhku Canduku

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-01-12
Oleh:  Nona Xiao Baru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
5Bab
7Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

"Mengapa tubuh ini menjadi panas dan tidak bisa dikendalikan?” Napasnya gemetar, kakinya goyah. Di saat ia hampir jatuh, sebuah tangan menahannya. “Tenang. Pegang tanganku! Kau bisa duduk?” Suara itu asing. Tegas. Zayn Velasco pria yang bahkan belum sempat ia kenal namanya, menjadi satu-satunya penopang di tengah kekacauan. “A~aku tidak tahu apa yang terjadi,” bisik Sarah. “Tidak apa-apa,” jawab Zayn. “Aku tidak akan membiarkanmu jatuh.”

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1 - Jebakan Malam

Lampu neon club memantul di lantai kaca, musik berdentum sampai rasanya menembus tulang. Sarah Valente berdiri di dekat bar, memegangi gelasnya sambil tersenyum tipis. Malam ini seharusnya pesta biasa, tapi firasat buruk menghantui. Bianca Moretti selalu punya rencana.

Di sudut lain, Bianca menatap Sarah dengan senyum tipis, matanya berkilat licik. Di tangannya, minuman Sarah diam-diam telah dicampur dengan obat perangsang satu langkah kecil, tapi cukup untuk membuat malam ini berubah total.

“Ini baru permulaan,” gumam Bianca pelan, menahan tawa. “Sarah akan hancur… dan Victor… Victor akan menjadi milikku.”

Beberapa menit kemudian, Sarah menyesap minuman itu. Kepalanya terasa berat, pandangannya kabur, dan kakinya tak lagi menahan tubuhnya. Panik merayap saat ia menyadari tubuhnya mulai goyah.

“Tunggu! Pegang aku, jangan jatuh!” suara tegas terdengar di sampingnya.

Sarah menoleh setengah sadar. Di depannya berdiri Zayn Velasco, tinggi, tegap, dan sepenuhnya asing. Tubuhnya masih lemah, sehingga secara naluriah dia bergantung pada Zayn agar tidak jatuh.

“Aku… tidak tahu apa yang terjadi,” suara Sarah gemetar. “Tubuh ini… terasa panas dan tidak bisa dikendalikan.”

Zayn menatapnya serius.

“Tenang dulu. Pegang tanganku! Bisa duduk sebentar?”

Sarah mengangguk pelan. Tubuhnya masih panas dan goyah, tetapi satu-satunya yang menahannya hanyalah Zayn pria asing yang namanya bahkan belum dia ketahui.

“Kamu… siapa?” tanya Sarah, suaranya hampir tersedak.

“Cuma ingin memastikan kau tidak jatuh,” jawab Zayn singkat. “Kau… baik-baik saja?”

Sarah menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.

“Ya… tidak sepenuhnya… Tubuh ini… aneh sekali.”

Di tengah kerumunan club yang gaduh, lampu yang berkelap-kelip, dan musik yang menghentak, keduanya terjebak dalam satu momen kacau. Dua orang asing, saling bergantung dalam situasi yang membingungkan dan menegangkan. Sarah sadar bahwa seseorang telah mencampurkan sesuatu ke dalam minumannya, membuat tubuhnya bereaksi aneh, dan Zayn adalah satu-satunya yang bisa menahan dia sekarang. Dia tidak menyangka bahwa Bianca sahabatnya sendiri tega melakukan ini kepadanya.

Sementara itu, di pojok club, Bianca meneguk minumannya sendiri sambil tersenyum puas. “Tidak ada yang akan menyadari ini,” gumamnya. “Sarah akan tersiksa, dan Victor… hanya masalah waktu sebelum dia menyadari siapa yang pantas menjadi miliknya.” Mata Bianca berkilat, penuh obsesi dan ambisi, sementara malam itu terus berjalan, dan permainan mulai bergerak ke arah yang berbahaya.

"Tidak... ini panas sekali rasanya. Tolong aku!"

Kepalanya terasa berat, pandangan kabur, dan tubuh mulai panas, tak terkendali. Panik mulai merayap, Sarah merasa seolah-olah sedang kehilangan kendali sepenuhnya atas dirinya.

“Aku… tolong…” suara Sarah hampir berbisik. “Tubuhku… panas… dan aku… tidak bisa mengendalikan diri…”

Zayn menatapnya heran, matanya mencerminkan campuran kewaspadaan dan kebingungan.

“Tenang dulu. Pegang aku. Aku akan menahanmu,” katanya, mencoba menstabilkan tubuh Sarah yang bergoyang.

Sarah menggenggam lengan Zayn, tergantung pada pria asing itu, sementara panas dalam tubuhnya semakin tak terkendali. Rasanya membingungkan antara takut, malu, dan ketergantungan total.

“Kamu… kamu benar-benar tidak kenal aku, kan?” gumam Sarah, setengah tersenyum gemetar.

“Benar. Tapi… aku tidak akan membiarkanmu jatuh,” jawab Zayn singkat, tetap menahan tubuhnya.

Di sudut lain, Bianca tersenyum tipis, puas. Obat yang di campurkannya bekerja persis seperti yang direncanakan. Sarah tersiksa, dan setiap detik yang berlalu membuat Morgan yang dia inginkan akan melihat Sarah dalam kondisi rapuh. Bianca terus memotret Sarah dan Zayn sebagai bukti untuk di berikan kepada Victor.

Sarah masih bergantung pada Zayn, tubuhnya panas dan goyah. Musik club yang bising dan lampu yang berkedip membuat kepalanya semakin pusing. Setiap napas terasa berat, setiap langkah sulit.

Di samping Zayn, seorang pria berpakaian rapi ajudan Zayn menatap dengan wajah tegang.

“Bos… mungkin kita harus meninggalkannya di sini. Ini… berisiko,” katanya, suara rendah tapi tegas.

Zayn menatap ajudannya, wajah tetap serius.

“Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Tubuhnya lemah, dan dia jelas tidak bisa berjalan sendiri. Aku yang akan membawa dia ke tempat aman,” jawab Zayn singkat.

Ajudan itu mengerutkan dahi.

“Bos, ini bukan hanya soal keselamatan. Dia… asing bagi kita. Siapa tahu ini jebakan?”

Zayn menatap tegas, tanpa ragu.

“Tidak peduli. Aku yang memutuskan. Sekarang bantu aku menuntunnya keluar.”

Sarah merasa tubuhnya semakin panas, gemetar, dan hampir kehilangan keseimbangan.

“Tolong… jangan tinggalkan aku,” bisiknya hampir tersedak. “Aku… tidak bisa mengendalikan diri…”

Zayn mengangguk, menekankan pegangan pada pinggang Sarah untuk menstabilkannya.

“Tenang… aku akan membawamu ke tempat yang aman. Jangan khawatir,” ucapnya lembut, meski nada suaranya masih tegas.

Ajudan Zayn menghela napas, menatap Zayn dengan ekspresi campur aduk marah, cemas, tapi juga tahu bahwa bosnya tidak akan mundur. Mereka berdua perlahan menavigasi kerumunan club, membawa Sarah yang masih lemah dan bergantung penuh pada Zayn.

Di luar club, lampu jalan basah terkena refleksi hujan, tapi bagi Sarah, satu hal terasa jelas, tubuhnya lemah, dunia seakan berputar, dan satu-satunya yang bisa diandalkan hanyalah pria asing ini.

Hujan turun tipis, menimpa aspal dan memantulkan cahaya lampu jalan. Zayn menarik napas panjang ketika membantu Sarah berdiri tegak, meski tubuh gadis itu terus bergetar seperti akan runtuh kapan saja.

“Bertahan sedikit lagi,” ucap Zayn, suaranya rendah namun kuat. Tangan besar itu menstabilkan tubuh Sarah seolah menjadi satu-satunya jangkar dalam badai yang mengacaukan kesadarannya.

Sarah mencoba fokus, tapi dunia di sekitarnya berputar seperti spiral tak berujung. "Ada… sesuatu di minumanku,” ucapnya terputus-putus. “Aku tahu. Ini… bukan sekadar pusing biasa.”

Zayn menatap wajah pucatnya dengan intensitas yang sulit dibaca. “Aku tahu. Itu sebabnya kita harus menjauh dari tempat ini.”

Ajudan Zayn, Bass menatap gelisah ke arah pintu club. “Bos, kita tidak bisa lama-lama di sini. Ada orang yang memperhatikan.”

Zayn mendongak sedikit, matanya menyapu keadaan sekitar. Tepat di seberang jalan, seseorang tampak mengangkat ponsel memotret. Atau mungkin merekam.

Bass pun merasa heran karena tidak biasanya bosnya menaruh perhatian kepada seorang wanita.

Bass mengumpat pelan. “Sial! Bos, itu bukan kebetulan.”

Zayn mengencangkan rahangnya. “Ayo cepat.”

Ia meraih jaketnya, meletakkannya di pundak Sarah yang menggigil. Sarah memejamkan mata, mencoba bernapas perlahan, tapi rasa panas, pusing, dan kepanikan menyatu menjadi satu kekacauan yang membuatnya ingin menyerah begitu saja.

“Aku… sakit…” bisiknya, hampir tidak terdengar.

“Aku tahu,” jawab Zayn, suaranya lebih lembut dari sebelumnya. “Tapi kau akan aman bersamaku. Fokus ke suaraku.”

Sarah menggenggam baju Leon dengan lemah, seolah itu satu-satunya hal yang bisa mencegah jatuh.

Sementara itu…

Di balik jendela gelap sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari club, Bianca tersenyum puas. Ponsel di tangannya terus merekam. Setiap detik yang memperlihatkan Sarah bergantung pada pria asing itu adalah emas.

“Lihat,” gumam Bianca sambil memperbesar video. “Victor… kau harus melihat ini. Kau harus tahu wanita yang akan di jodohkan denganmu ternyata perempuan jalang, bukan seorang putri mafia cantik yang kau banggakan itu.

Sopirnya menoleh. “Nona yakin ini tidak akan berbahaya? Bukankah Nona Sarah adalah sahabat anda? Jika ayah Nona Sarah sampai tahu dia pasti akan marah besar dan menghabisi anda!"

Bianca tertawa pelan. “Tidak ada yang bisa melacak aku. Dan Sarah… dia bahkan tidak akan ingat apa yang terjadi malam ini. Jadi, diamlah!"

Matanya menggelap penuh keyakinan.

“Malam ini adalah awal kehancurannya.”

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
5 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status