Masuk"Mengapa tubuh ini menjadi panas dan tidak bisa dikendalikan?” Napasnya gemetar, kakinya goyah. Di saat ia hampir jatuh, sebuah tangan menahannya. “Tenang. Pegang tanganku! Kau bisa duduk?” Suara itu asing. Tegas. Zayn Velasco pria yang bahkan belum sempat ia kenal namanya, menjadi satu-satunya penopang di tengah kekacauan. “A~aku tidak tahu apa yang terjadi,” bisik Sarah. “Tidak apa-apa,” jawab Zayn. “Aku tidak akan membiarkanmu jatuh.”
Lihat lebih banyakLampu neon club memantul di lantai kaca, musik berdentum sampai rasanya menembus tulang. Sarah Valente berdiri di dekat bar, memegangi gelasnya sambil tersenyum tipis. Malam ini seharusnya pesta biasa, tapi firasat buruk menghantui. Bianca Moretti selalu punya rencana.
Di sudut lain, Bianca menatap Sarah dengan senyum tipis, matanya berkilat licik. Di tangannya, minuman Sarah diam-diam telah dicampur dengan obat perangsang satu langkah kecil, tapi cukup untuk membuat malam ini berubah total.
“Ini baru permulaan,” gumam Bianca pelan, menahan tawa. “Sarah akan hancur… dan Victor… Victor akan menjadi milikku.”
Beberapa menit kemudian, Sarah menyesap minuman itu. Kepalanya terasa berat, pandangannya kabur, dan kakinya tak lagi menahan tubuhnya. Panik merayap saat ia menyadari tubuhnya mulai goyah.
“Tunggu! Pegang aku, jangan jatuh!” suara tegas terdengar di sampingnya.
Sarah menoleh setengah sadar. Di depannya berdiri Zayn Velasco, tinggi, tegap, dan sepenuhnya asing. Tubuhnya masih lemah, sehingga secara naluriah dia bergantung pada Zayn agar tidak jatuh.
“Aku… tidak tahu apa yang terjadi,” suara Sarah gemetar. “Tubuh ini… terasa panas dan tidak bisa dikendalikan.”
Zayn menatapnya serius.
“Tenang dulu. Pegang tanganku! Bisa duduk sebentar?”
Sarah mengangguk pelan. Tubuhnya masih panas dan goyah, tetapi satu-satunya yang menahannya hanyalah Zayn pria asing yang namanya bahkan belum dia ketahui.
“Kamu… siapa?” tanya Sarah, suaranya hampir tersedak.
“Cuma ingin memastikan kau tidak jatuh,” jawab Zayn singkat. “Kau… baik-baik saja?”
Sarah menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.
“Ya… tidak sepenuhnya… Tubuh ini… aneh sekali.”
Di tengah kerumunan club yang gaduh, lampu yang berkelap-kelip, dan musik yang menghentak, keduanya terjebak dalam satu momen kacau. Dua orang asing, saling bergantung dalam situasi yang membingungkan dan menegangkan. Sarah sadar bahwa seseorang telah mencampurkan sesuatu ke dalam minumannya, membuat tubuhnya bereaksi aneh, dan Zayn adalah satu-satunya yang bisa menahan dia sekarang. Dia tidak menyangka bahwa Bianca sahabatnya sendiri tega melakukan ini kepadanya.
Sementara itu, di pojok club, Bianca meneguk minumannya sendiri sambil tersenyum puas. “Tidak ada yang akan menyadari ini,” gumamnya. “Sarah akan tersiksa, dan Victor… hanya masalah waktu sebelum dia menyadari siapa yang pantas menjadi miliknya.” Mata Bianca berkilat, penuh obsesi dan ambisi, sementara malam itu terus berjalan, dan permainan mulai bergerak ke arah yang berbahaya.
"Tidak... ini panas sekali rasanya. Tolong aku!"
Kepalanya terasa berat, pandangan kabur, dan tubuh mulai panas, tak terkendali. Panik mulai merayap, Sarah merasa seolah-olah sedang kehilangan kendali sepenuhnya atas dirinya.
“Aku… tolong…” suara Sarah hampir berbisik. “Tubuhku… panas… dan aku… tidak bisa mengendalikan diri…”
Zayn menatapnya heran, matanya mencerminkan campuran kewaspadaan dan kebingungan.
“Tenang dulu. Pegang aku. Aku akan menahanmu,” katanya, mencoba menstabilkan tubuh Sarah yang bergoyang.
Sarah menggenggam lengan Zayn, tergantung pada pria asing itu, sementara panas dalam tubuhnya semakin tak terkendali. Rasanya membingungkan antara takut, malu, dan ketergantungan total.
“Kamu… kamu benar-benar tidak kenal aku, kan?” gumam Sarah, setengah tersenyum gemetar.
“Benar. Tapi… aku tidak akan membiarkanmu jatuh,” jawab Zayn singkat, tetap menahan tubuhnya.
Di sudut lain, Bianca tersenyum tipis, puas. Obat yang di campurkannya bekerja persis seperti yang direncanakan. Sarah tersiksa, dan setiap detik yang berlalu membuat Morgan yang dia inginkan akan melihat Sarah dalam kondisi rapuh. Bianca terus memotret Sarah dan Zayn sebagai bukti untuk di berikan kepada Victor.
Sarah masih bergantung pada Zayn, tubuhnya panas dan goyah. Musik club yang bising dan lampu yang berkedip membuat kepalanya semakin pusing. Setiap napas terasa berat, setiap langkah sulit.
Di samping Zayn, seorang pria berpakaian rapi ajudan Zayn menatap dengan wajah tegang.
“Bos… mungkin kita harus meninggalkannya di sini. Ini… berisiko,” katanya, suara rendah tapi tegas.
Zayn menatap ajudannya, wajah tetap serius.
“Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Tubuhnya lemah, dan dia jelas tidak bisa berjalan sendiri. Aku yang akan membawa dia ke tempat aman,” jawab Zayn singkat.
Ajudan itu mengerutkan dahi.
“Bos, ini bukan hanya soal keselamatan. Dia… asing bagi kita. Siapa tahu ini jebakan?”
Zayn menatap tegas, tanpa ragu.
“Tidak peduli. Aku yang memutuskan. Sekarang bantu aku menuntunnya keluar.”
Sarah merasa tubuhnya semakin panas, gemetar, dan hampir kehilangan keseimbangan.
“Tolong… jangan tinggalkan aku,” bisiknya hampir tersedak. “Aku… tidak bisa mengendalikan diri…”
Zayn mengangguk, menekankan pegangan pada pinggang Sarah untuk menstabilkannya.
“Tenang… aku akan membawamu ke tempat yang aman. Jangan khawatir,” ucapnya lembut, meski nada suaranya masih tegas.
Ajudan Zayn menghela napas, menatap Zayn dengan ekspresi campur aduk marah, cemas, tapi juga tahu bahwa bosnya tidak akan mundur. Mereka berdua perlahan menavigasi kerumunan club, membawa Sarah yang masih lemah dan bergantung penuh pada Zayn.
Di luar club, lampu jalan basah terkena refleksi hujan, tapi bagi Sarah, satu hal terasa jelas, tubuhnya lemah, dunia seakan berputar, dan satu-satunya yang bisa diandalkan hanyalah pria asing ini.
Hujan turun tipis, menimpa aspal dan memantulkan cahaya lampu jalan. Zayn menarik napas panjang ketika membantu Sarah berdiri tegak, meski tubuh gadis itu terus bergetar seperti akan runtuh kapan saja.
“Bertahan sedikit lagi,” ucap Zayn, suaranya rendah namun kuat. Tangan besar itu menstabilkan tubuh Sarah seolah menjadi satu-satunya jangkar dalam badai yang mengacaukan kesadarannya.
Sarah mencoba fokus, tapi dunia di sekitarnya berputar seperti spiral tak berujung. "Ada… sesuatu di minumanku,” ucapnya terputus-putus. “Aku tahu. Ini… bukan sekadar pusing biasa.”
Zayn menatap wajah pucatnya dengan intensitas yang sulit dibaca. “Aku tahu. Itu sebabnya kita harus menjauh dari tempat ini.”
Ajudan Zayn, Bass menatap gelisah ke arah pintu club. “Bos, kita tidak bisa lama-lama di sini. Ada orang yang memperhatikan.”
Zayn mendongak sedikit, matanya menyapu keadaan sekitar. Tepat di seberang jalan, seseorang tampak mengangkat ponsel memotret. Atau mungkin merekam.
Bass pun merasa heran karena tidak biasanya bosnya menaruh perhatian kepada seorang wanita.
Bass mengumpat pelan. “Sial! Bos, itu bukan kebetulan.”
Zayn mengencangkan rahangnya. “Ayo cepat.”
Ia meraih jaketnya, meletakkannya di pundak Sarah yang menggigil. Sarah memejamkan mata, mencoba bernapas perlahan, tapi rasa panas, pusing, dan kepanikan menyatu menjadi satu kekacauan yang membuatnya ingin menyerah begitu saja.
“Aku… sakit…” bisiknya, hampir tidak terdengar.
“Aku tahu,” jawab Zayn, suaranya lebih lembut dari sebelumnya. “Tapi kau akan aman bersamaku. Fokus ke suaraku.”
Sarah menggenggam baju Leon dengan lemah, seolah itu satu-satunya hal yang bisa mencegah jatuh.
Sementara itu…
Di balik jendela gelap sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari club, Bianca tersenyum puas. Ponsel di tangannya terus merekam. Setiap detik yang memperlihatkan Sarah bergantung pada pria asing itu adalah emas.
“Lihat,” gumam Bianca sambil memperbesar video. “Victor… kau harus melihat ini. Kau harus tahu wanita yang akan di jodohkan denganmu ternyata perempuan jalang, bukan seorang putri mafia cantik yang kau banggakan itu.
Sopirnya menoleh. “Nona yakin ini tidak akan berbahaya? Bukankah Nona Sarah adalah sahabat anda? Jika ayah Nona Sarah sampai tahu dia pasti akan marah besar dan menghabisi anda!"
Bianca tertawa pelan. “Tidak ada yang bisa melacak aku. Dan Sarah… dia bahkan tidak akan ingat apa yang terjadi malam ini. Jadi, diamlah!"
Matanya menggelap penuh keyakinan.
“Malam ini adalah awal kehancurannya.”
Setelah mandi dan sarapan, Sarah merasa sedikit lebih segar. Ponselnya kini berada di genggamannya, dan rasa cemasnya perlahan kembali muncul. Ia ingin segera pergi dari tempat asing ini.Pria itu berdiri di dekat pintu utama, menatapnya lama.“Kau bisa pergi sekarang,” katanya tenang, suara rendah tapi mantap. “Jangan membuat kesalahan di jalan. Supirku akan mengantarmu."Sarah menelan ludah, hampir tidak percaya.“Kau… benar-benar membiarkanku pulang?” tanyanya, setengah lega tapi masih waspada.Pria itu hanya mengangguk singkat, tidak menambahkan apa pun. Mata gelapnya tetap menatapnya seakan menekankan satu hal, jangan sekali-kali meremehkan bahaya di luar sana.Sarah segera meraih tasnya dan melangkah keluar. Jantungnya masih berdebar, tetapi perasaan lega mulai muncul. Segera ia akan bebas dari mansion misterius ini.Begitu pintu tertutup di belakang Sarah, Bass menatap Zayn dengan mata penuh heran.“Bos… kau benar-benar membiarkan dia pergi begitu saja? Setelah semalam… setelah
Cahaya pagi menyentuh wajah Sarah, membuatnya terbangun perlahan. Kepala Sarah terasa berat, seperti baru bangun dari mimpi yang tidak jelas. Ia mengedip, mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi semalam namun semuanya kabur.Yang ia ingat hanya suara laki-laki… hangat, tenang… seolah menuntunnya keluar dari kegelapan. Wajahnya samar, hampir tidak bisa ia rekam.Begitu sadar sepenuhnya, Sarah tersentak.Ranjang tempat ia tidur bukan miliknya. Ruangan ini… bukan tempat yang ia kenal. Saat dia membuka selimut tidak ada sehelai benangpun yang ia kenakan.“Astaga! Apa... apa yang sudah ku lakukan semalam? Di mana aku…?” bisiknya, panik mulai naik ke dadaa.Ia bangun dengan cepat, hampir tergelincir karena tubuhnya masih lemah. Pandangannya menyapu ruangan mewah itu tirai tebal, perabotan gelap, suasana yang terlalu megah untuk rumah siapa pun yang ia kenal.Dan yang paling membuat napasnya tercekat,Tidak ada seorang pun di sampingnya.Tidak ada pria yang ia dengar semalam.“Siapa di
Bass menurunkan mobil di depan pintu baja ganda fasilitas. Lampu redup memantul di kaca mobil basah hujan.Zayn menahan pinggang Sarah agar ia tidak jatuh ketika keluar dari mobil. Tubuhnya gemetar hebat, napasnya tersengal, dan pandangannya kabur.“Ayo… duduk dulu,” suara Zayn tegas tapi lembut. Sarah menatapnya sebentar, mencoba mengenali wajahnya, tapi hatinya masih penuh kebingungan.Tubuhnya masih terasa panas dan bergetar. “Kalian… siapa? Kenapa… menolongku?” Suaranya pecah dan lemah.Zayn menunduk, matanya serius. “Tenang… tidak ada yang akan menyakitimu di sini. Duduk dulu dan tarik napas pelan.”Bass menutup pintu mobil dan menyandarkannya ke tembok, menatap Zayn. “Setidaknya kita aman di sini. Tidak ada yang bisa masuk.”Sarah menatap keduanya, panik tapi bingung. “Kalian… siapa? Aku harus tahu…”Zayn menatapnya sebentar, wajahnya tetap serius, tanpa ekspresi lebih. “Nama… bukan hal yang penting sekarang. Yang penting kau tetap hidup.”Sarah menelan ludah, tubuhnya lemah. “T
Zayn akhirnya tiba di mobil hitamnya. Bass membuka pintu belakang, namun Sarah tiba-tiba terhuyung, lututnya nyaris menyerah. Zayn refleks meraih tubuhnya sebelum ia jatuh.“Hey, hey… jangan paksakan diri,” kata Zayn, menahan tubuh Sarah agar tetap tegak.Sarah menatap Zayn dengan mata setengah terbuka, suaranya pecah.“Aku takut…”Untuk pertama kalinya, ekspresi Zayn berubah. Keras dan dingin itu luntur, berganti sesuatu yang lebih dalam. Lebih… protektif.“Aku akan mencari tahu siapa yang melakukan ini.”Suaranya rendah, penuh janji yang bahkan Sarah tak yakin mengerti.“Sekarang… masuk ke dalam mobil. Aku akan membawamu ke tempat yang aman. Tempat di mana tidak ada yang bisa menyentuhmu.”Bass menatap Zayn heran. “Bos… kita tidak bisa bawa dia ke safehouse. Itu area paling sensitif.”“Justru karena itu,” potong Zayn tajam. “Tidak ada yang akan menduga aku membawa seorang wanita asing ke sana. Dan dia tidak bisa tetap di luar. Lihat kondisinya.”Bass terdiam. Karena Zayn benar.Sara
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.