Clara pingsan di dapur kecil itu tanpa sempat berpegangan. Tidak ada suara keras. Tidak ada drama. Tubuhnya hanya runtuh perlahan, seolah seluruh pasokan kekuatan yang ia kumpulkan dengan susah payah selama berbulan-bulan pelariannya habis tak bersisa.Gelas air jatuh dari genggamannya, menghantam lantai semen dengan bunyi pecah yang tajam. Air merembes cepat ke segala arah, mengalir di antara serpihan kaca, bercampur dengan butiran keringat dingin yang membasahi pelipisnya. Napasnya pendek, tubuhnya gemetar sejenak, lalu semuanya berubah menjadi kegelapan yang sunyi.Ia terbangun dengan aroma obat yang tajam dan dingin menusuk hidungnya. Lampu neon putih menggantung di langit-langit, cahayanya terasa terlalu agresif bagi matanya yang baru saja kembali dari kegelapan. Clara mengerjap pelan, kepalanya terasa seringan kapas, namun tubuhnya seberat timah.Ia mencoba menggerakkan jari-jarinya yang kaku. Tenggorokannya terasa seperti padang pasir, dadanya sesak, dan perutnya—perutnya terasa
Read more