Clara menyadari satu hal sejak fajar menyingsing: hari ini mereka tidak lagi bermain di tepi. Tekanan yang kemarin terasa seperti kabut, kini mulai mengental menjadi dinding yang nyata.Pukul 06.30, ia sudah berdiri di depan cermin, mengikat rambutnya dengan tarikan yang presisi. Wajahnya tenang, namun matanya memancarkan kewaspadaan seorang predator yang tahu sedang dikepung. Ia memilih pakaian sederhana—setelan kerja dengan potongan tajam, tidak mencolok namun memberikan kesan otoritas. Dalam peperangan sunyi, penampilan adalah pernyataan posisi pertama sebelum sepatah kata pun terucap.Arka keluar dari kamarnya sambil mengucek mata, membawa aroma kantuk yang jujur.“Mama,” katanya pelan, “hari ini aku ada kegiatan kelompok.”“Kegiatan apa, Sayang?” tanya Clara, tetap melembutkan suaranya.“Kata Bu Guru, nanti Mama mungkin dipanggil sebentar ke kantor.”Tangan Clara yang sedang merapikan jam tangan berhenti bergerak. Detik itu juga, ia merasakan sensor bahayanya berdenting nyaring. “
Read more