Sebuah nama tak perlu diteriakkan untuk menyerang; ia cukup diselipkan dalam narasi ambigu agar tumbuh liar dalam tafsir publik. Pagi itu, getar ponsel di nakas terasa seperti peringatan badai. Baru saja melepas Arka di daycare, Clara disambut suara serak Maya di telepon.“Jangan buka media sosial dulu, Cla,” peringat Maya. “Ada tulisan baru. Tanpa menyebut nama, mereka membedah hidupmu; apartemen, kantor, hingga cara berpakaianmu secara sistematis.”Udara pagi mendadak mencekik. Meski jantungnya berpacu, Clara menolak berpaling. “Aku perlu tahu seberapa dalam lubang yang mereka gali untukku,” bisiknya. Di balik kemudi, ia membuka tautan itu.Di layar, portal berita milik jaringan Wijaya baru saja meledakkan tajuk yang siap menghakiminya.“Ibu Tunggal, Hak Anak, dan Ego yang Tersembunyi: Di Mana Batas Perlindungan?”Tulisan itu disusun dengan sangat rapi. Nadanaya seolah-olah mengajak diskusi intelektual, namun setiap paragrafnya adalah peluru yang diarahkan tepat ke jantung Clara.“Ap
Read more