"Pagi, Mbak," sapa Clara, mencoba menjaga nada suaranya tetap ringan.Resepsionis itu mendongak, namun tangannya tak lagi terjulur untuk mencubit pipi Arka. Ia hanya memberikan senyum kaku yang tidak sampai ke mata."Pagi. Silakan langsung masuk saja, Bu," jawabnya pendek sembari kembali menunduk ke layar komputer.Clara terpaku. Keramahan yang biasa ia terima telah menguap, digantikan oleh kesopanan dingin yang jauh lebih menyakitkan daripada makian.“Bu Clara,” wanita itu berdeham, jemarinya gelisah di atas keyboard. “Kami… kami menerima permintaan pembaruan data wali. Ada instruksi untuk memasukkan nama dari pihak keluarga besar Wijaya sebagai kontak darurat utama.”Darah Clara berdesir dingin, namun wajahnya tetap sedatar telaga. Ia tidak terkejut. Keluarga Wijaya adalah predator yang sabar; mereka tidak akan mendobrak pintu, mereka akan membeli gedungnya dan mengganti kuncinya.“Dokumen saya lengkap, Mbak,” jawab Clara, suaranya rendah namun bergetar oleh otoritas yang tak terbant
Read more