Clara terbangun bukan oleh cahaya, melainkan oleh insting purba yang mendeteksi ancaman. Ada suara yang tidak seharusnya ada di sana. Bukan suara langkah kaki perawat yang terukur, bukan pula bunyi ritmis monitor medis yang membosankan. Itu adalah bunyi klik halus, seperti pintu yang dibuka dengan sangat perlahan, mencoba mencuri ruang dari keheningan malam.Mata Clara terbuka lebar, namun ia tetap diam. Lampu kamar telah diredupkan hingga titik terendah. Jam dinding digital menunjukkan pukul 02.17. Terlalu dini untuk pergantian shift perawat, dan terlalu sunyi untuk sebuah kebetulan medis."Siapa di sana?" suaranya serak, nyaris tak terdengar.Tidak ada jawaban. Namun, di balik tirai putih yang membatasi ranjangnya dengan pintu, sebuah bayangan bergerak. Samar, namun nyata. Clara menahan napas, tangannya meraba mencari bel darurat di sisi ranjang. Jarinya menemukan kabelnya, namun saat ia menariknya, tidak ada beban. Kabel itu telah diputus dengan rapi.Detak jantungnya melonjak seket
Read more