Aku pertama kali melihat Selira di sebuah acara keluarga. Dia diperkenalkan sebagai istri sepupuku, Raka.Seorang tante menyebutnya sambil tersenyum tipis, lalu beralih ke topik lain, seolah perempuan yang berdiri di samping Raka hanyalah pelengkap, bukan pusat dari ikatan yang seharusnya sakral.Bagiku, dunia seakan melambat.Selira berdiri di sana dengan gaun berwarna lembut, tidak mencolok, tidak berusaha mencuri perhatian.Rambutnya disanggul rapi, make-up-nya tipis, nyaris polos. Tapi matanya… matanya menyimpan sesuatu yang tidak bisa disembunyikan oleh riasan mana pun.Kesedihan yang matang.Kesedihan yang sudah terlalu lama hidup.Aku memperhatikan caranya menggenggam tas kecil di tangan, seolah itu satu-satunya pegangan yang membuatnya tetap berdiri.Aku melihat bagaimana ibu Raka menatapnya, tajam, menilai, dingin.Aku mendengar bisik-bisik halus yang sengaja dipelankan, tapi tetap menusuk.Dan yang paling menyebalkan yaitu Raka sendiri. Ia lebih banyak tertawa bersama sepupu
Last Updated : 2026-02-26 Read more