Share

Pelukan Terakhir

Author: Queeny
last update publish date: 2026-02-26 21:19:02

Aku menutup pintu apartemen itu dengan tangan yang sedikit gemetar.

Bukan karena takut. Lebih karena aku belum terbiasa menyebut tempat ini rumah.

Kalimat Raka kembali terngiang di kepala, muncul begitu saja di sela bunyi klik kunci pintu.

"Ini hak kamu, Selira," katanya waktu itu, tanpa nada menggurui.

"Setelah semua yang terjadi, setelah perceraian itu, seharusnya kamu gak keluar dengan tangan kosong. Aku minta maaf karena dulu kamu gak dapat apa yang seharusnya jadi milikmu."

Aku ingat bagai
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Bayangan Jakarta

    Musim gugur mulai menguasai Istanbul.Daun-daun menguning berguguran di sepanjang trotoar. Angin dari Selat Bosphorus bertiup lebih dingin dibanding minggu-minggu sebelumnya.Orang-orang mulai mengenakan mantel yang lebih tebal, sementara aku masih berusaha membiasakan diri dengan cuaca yang sama sekali berbeda dari Jakarta.Sudah hampir satu bulan aku tinggal di kota ini.Rutinitasku nyaris tidak berubah. Sore berangkat bekerja. Malam menjaga supermarket. Dini hari pulang ke apartemen kecil.Pagi tidur dengan mimpi buruk yang selalu sama.Aku mulai hafal wajah para pelanggan tetap. Seorang nela

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Kota Asing

    Minggu pertamaku di Istanbul berlalu tanpa sesuatu yang layak disebut kehidupan.Aku hanya bertahan.Pagi kugunakan untuk tidur beberapa jam. Siang untuk menghafal jalan-jalan di sekitar apartemen. Sore aku berjalan kaki menuju supermarket tempatku bekerja. Malam kuhabiskan berdiri di balik rak-rak barang sampai toko tutup menjelang dini hari.Rutinitas itu terasa membosankan. Namun justru kebosanan itulah yang membuatku tetap hidup.Orang yang terlalu menonjol akan mudah ditemukan.nOrang biasa tidak.Aku sekarang harus menjadi orang biasa.Supermarket tempatku bekerja berada tidak jauh dari kawasan pelabuhan Karakoy. Bangunannya tidak besar, hanya terdiri

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Perempuan Bernama Leyla

    Sudah hampir enam bulan aku tinggal di Istanbul.Aku mulai hafal suara trem yang melintas setiap pagi, aroma roti simit yang dijual di sudut jalan, dan azan yang menggema dari berbagai arah ketika matahari mulai tenggelam.Kota ini perlaan menjadi tempatku bersembunyi, meski tidak pernah benar-bena terasa seperti rumah.Rumah tanpa rasa takut.Sedangkan aku masih terbangun dengan mimpi buruk hampir setiap malam.Aku mengusap wajah kasar yang kini dipenuhi janggut.nKalau bercermin, aku sendiri nyaris tidak mengenali pria yang menatap balik dari balik kaca.Rambutku lebih panjang, kulitku lebih gelap karena sering ke gudang, bahkan mataku terlihat jauh lebih

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Nama Baru

    “Sayın yolcularımız, İstanbul Havalimanı’na iniş yapıyoruz. Lütfen kemerlerinizi bağlayınız.”“Para penumpang yang terhormat, kita akan mendarat di Bandara Istanbul. Mohon kenakan sabuk pengaman Anda.”Suara pilot menggema dari pengeras suara pesawat tepat saat roda mulai turun perlahan.Bahasa Turki itu terdengar asing di telingaku, berat dan cepat, tetapi aku masih menangkap beberapa katanya dari brosur penerbangan yang kubaca sejak tadi.Kami akan mendarat di Istanbul.Aku menatap keluar jendela kecil di samping kursi. Lampu kota terlihat seperti lautan kuning keemasan di tengah gelap malam.Istanbul membentang luas di bawah sana, dipenuhi bangunan rapat, jalan panjang, dan cahaya yang terasa hidup bahkan menjelang dini hari.Orang-orang mulai bersiap. Suara sabuk pengaman dibuka terdengar di sana-sini. Seorang ibu Turki di sampingku membantu anak kecilnya mengenakan jaket tebal sambil berbicara cepat dalam bahasa mereka.Aku tetap diam.Tanganku dingin bukan karena suhu kabin. Rap

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Season 4: Selamat Tinggal yang Terlambat

    Pov RendraSore itu Jakarta sedang ramai-ramainya. Langit berwarna jingga kusam, jalanan penuh suara klakson, dan udara terasa berat oleh debu serta sisa panas matahari. Aku berdiri beberapa meter dari minimarket tempat Selira bekerja sambil memasukkan kedua tangan ke saku jaket.Sudah hampir dua puluh menit aku di sana.Dua puluh menit hanya untuk memastikan aku benar-benar siap masuk.Lucu. Aku pernah menghadapi orang bersenjata tanpa rasa takut, pernah duduk satu meja dengan bandar yang bisa membunuh seseorang hanya karena nada bicara yang salah. Namun, sekarang, untuk melangkah masuk menemui satu perempuan saja, lututku terasa lebih lemah dari seharusnya.Aku mengangkat kepala dan melihat pantulan diriku di kaca depan minimarket.Wajahku memang berubah.Lebih kurus. Lebih lelah.Beberapa minggu terakhir hidupku seperti lorong sempit yang perlahan menutup dari segala arah. Setelah sidang itu, semuanya bergerak terlalu cepat. Orang-orang mulai bicara. Nama-nama mulai disebut. Jal

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Tenang Setelah Badai (Ending)

    Mobil melaju pelan di bawah langit yang mulai berubah warna. Senja turun perlahan, menyisakan cahaya keemasan yang memantul di kaca depan. Jalanan di perbatasan itu sepi.Kami sudah menyelesaikan semuanya.Keluarga saksi sudah aman. Identitas baru, tempat tinggal baru, dan pekerjaan baru.Dunia lama mereka perlahan ditinggalkan, meski luka itu jelas tidak akan pernah benar-benar hilang.Aku bersandar di kursi, menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dadaku terasa tidak sesak.Reva duduk di sampingku. Diam seperti biasanya kalau pikirannya sedang penuh. Namun kali ini, diamnya berbeda.Aku meliriknya. “Capek?”Dia menggeleng pelan. “Bukan capek, cuma lagi mikir.”“Mikir apa?”Reva menoleh. Tatapannya tidak lagi setajam biasanya, lebih lembut dan lebih terbuka.“Kita udah sejauh ini ya.”Aku tersenyum tipis. “Iya. Dari yang awalnya hampir saling bunuh tiap briefing.”Dia mendengus kecil. “Itu karena lo nyebelin.”“Sekarang?”Reva tidak langsung jawab. Dia just

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Luka yang Tak Pernah Sembuh

    Aku masih ingat malam itu dengan jelas. Terlalu nyata. Terlalu menyakitkan untuk dilupakan.Hujan turun sejak sore, membasahi atap seng rumah kontrakan kecil kami. Angin berdesir lewat celah jendela yang tak pernah benar-benar rapat. Aku baru saja menidurkan Arsa, setelah ia rewel sejak sore. Dema

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Wajah Dari Masa Lalu

    "Selira... ada tamu."Suara petugas lapas itu terdengar datar, nyaris tanpa emosi. Namun bagiku, kalimat itu seperti palu yang menghantam dada. Tanganku yang sejak tadi memeluk lutut langsung gemetar. Aku mengangkat wajah perlahan, menatap pintu besi yang setengah terbuka.Tamu?Tak pernah ada yan

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Mantan yang Kini Berpihak

    Pagi itu datang tanpa membawa kelegaan apa pun.Cahaya matahari menembus jeruji kecil di dinding sel, jatuh tepat di wajahku yang belum sepenuhnya terjaga. Mataku perih, kepalaku berat. Tubuh ini terasa lengket oleh keringat dan lelah yang tak pernah benar-benar pergi. Malam tadi aku hampir tak t

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Jeruji dan Luka Baru

    Malam di dalam sel tidak pernah benar-benar gelap, tapi juga tidak pernah terang.Lampu neon di langit-langit berkedip pelan, seolah kelelahan menjaga cahaya yang tak pernah benar-benar berguna. Bau pengap bercampur keringat, sabun murahan, dan sesuatu yang apek.Bau putus asa, mungkin.Aku duduk d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status