Share

Bab 3

Author: Daun
Mainan yang dia punya, semuanya buatan tangan kakek dan eyangnya.

Pakaiannya pun begitu.

Kalau robek, cukup ditambal, dan bisa dipakai lagi.

Bahkan saat aku mengusulkan membelikannya kaus pelaut, yang hampir semua anak di kompleks punya, dia langsung menggeleng kuat-kuat, seperti gendang kecil.

“Ma, aku masih punya baju. Ayah capek cari uang, aku nggak mau,” katanya polos.

Sampai tahun ini ….

Saat dia akan masuk sekolah dasar. Anakku datang padaku dengan wajah memerah.

“Ma, hari pertama sekolah … boleh nggak aku pakai baju baru? Yang … nggak ada tambalannya?”

Aku tersenyum kecil saat mengingatnya.

Setetes air mata jatuh, membasahi jarum dan benang di tanganku.

Aku cepat-cepat menyekanya, lalu kembali menjahit.

Ini utangku pada anakku.

Aku harus membuatkannya sebaik mungkin.

Pukul delapan malam, Yuda akhirnya pulang.

Dia mengenakan seragam militer. Seragam yang paling disukai anak kami. Namun di tangannya justru tergenggam sebuah tas kain bermotif bunga merah muda.

Begitu melihatku, pria itu melemparkan tas itu begitu saja ke arahku.

“Ini baju-bajunya Salsa selama dirawat di rumah sakit. Tolong malam ini langsung cucikan semuanya.”

“Kulit Salsa sensitif. Dia nggak bisa kerja kasar.”

Aku hampir tertawa getir.

Sungguh ironis. Kenapa dia begitu memanjakan cinta pertamanya?

Sementara aku, istri sahnya, harus menanggung semuanya?

Saat ingin menolak, Yuda kembali berbicara.

“Mana Damar? Nggak di rumah?”

Dia menoleh ke sekeliling rumah yang terlalu sunyi, tampak heran.

Tanganku yang memegang jarum perlahan memucat. Aku sedang mencari alasan untuk mengelak, tapi Yuda sudah lebih dulu memerintah.

“Kalau Damar nggak di rumah, cepat siapkan beberapa bajunya. Aku mau bawa ke Salsa.”

“Dia baru pulang dari Maluk. Baju ganti anaknya kurang. Pinjam dulu punya anak kita.”

Melihatku tak merespon, Yuda mendecak tak sabar dan langsung masuk ke kamar Damar.

Dia membuka lemari dan mengeluarkan semua pakaian yang sudah kususun rapi.

Sambil memilih, alisnya terus berkerut.

“Yang ini kelihatan sudah lama.”

“Bahan yang ini kasar.”

“Yang ini … kenapa tambalannya banyak banget?”

Pakaian-pakaian yang selama ini tak pernah dia pedulikan, kini mendadak penuh cacat di matanya.

Semuanya dianggap tak layak untuk anak Salsa.

Hatiku terasa seperti terkoyak.

Tanpa sadar, aku menyembunyikan pakaian yang belum selesai kujahit ke belakang tubuhku.

Namun gerakanku tetap menarik perhatiannya.

“Kamu buatin Damar baju baru?”

“Sini, biar kulihat.”

Sebelum sempat kucegah, dia sudah merampas pakaian itu dari tanganku dengan kasar.

Ujung jarum menggores telapak tanganku.

Luka tipis memanjang, perihnya menusuk.

Aku menarik napas tajam, tapi tawa Yuda sudah lebih dulu terdengar.

“Bagus banget! Salsa dan anaknya pasti suka!”

“Nggak boleh!”

Aku berteriak, menerjangnya dan mendorongnya sekuat tenaga.

“Ini baju yang kubuat untuk Damar! Kamu nggak boleh ambil!”

Yuda terhuyung. Wajahnya langsung suram.

“Cuma baju doang. Bukan barang berharga juga. Pelit banget jadi orang!”

Aku masih berusaha merebutnya, tapi kesabaran pria itu habis.

Dia mengeluarkan dua lembar uang dari sakunya dan melemparkannya ke lantai.

“Anggap saja aku sudah membelinya! Cepat minggir!”

“Amanda, kalau kamu masih berani rebut, aku robek saja baju ini. Biar nggak ada yang bisa pakai!”

Melihat sorot mata Yuda, aku tahu dia tak bercanda.

Aku pun mengepalkan tangan erat-erat.

Ruas jariku memutih.

Setelah lama terdiam, aku berjalan ke meja, membuka laci dan mengeluarkan surat permohonan kremasi jenazah yang sudah kusiapkan.

“Beberapa hari lagi aku mau pulang kampung sama Damar,” kataku dingin.

“Tolong tanda tangani surat pengantar ini.”
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tanpa Ayah di Hari Terakhir   Bab 12

    Hujan semakin deras. Namun, sosok yang berdiri di depan pintu tetap tak mau pergi.Tangis pilu Yuda bercampur dengan suara hujan, menggema sepanjang malam, tapi hatiku tak melunak sedikit pun.Perasaanku padanya telah lama terkikis habis, seiring kepergian Damar.Beberapa hari berikutnya, Yuda hanya berdiri jauh di luar. Pandangannya tertuju pada altar duka di halaman rumah. Air mata menetes tanpa henti.Meski para tetangga merasa iba dan terus membelanya, aku tetap tak mengizinkannya melangkah mendekat, bahkan setapak pun.“Damar, permintaan terakhirmu .…”“Mama pasti akan menepatinya.”Aku menebang pohon kurma di halaman rumah, lalu membuangnya ke pinggir jalan, tepat di hadapan Yuda.Buah-buah kurma berjatuhan ke tanah, satu per satu.Mata Yuda memerah.Malam itu juga, dia pergi meninggalkan tempat ini.…Enam bulan kemudian.Dari ruang kelas sederhana di desa, terdengar suara anak-anak membaca lantang.“Musim semi datang tanpa terasa, di mana-mana terdengar kicauan burung .…”Yuda

  • Tanpa Ayah di Hari Terakhir   Bab 11

    Di balik pintu, Yuda terduduk bersandar, punggungnya menempel di pintu.Kata-kata Salsa barusan langsung menghapus rasa bersalah yang sempat muncul di hatinya.Dia memegangi kepalanya, sulit menerima kenyataan bahwa selama ini dia berulang kali menyakiti istri dan anaknya … demi wanita seperti itu.Kepalanya tertunduk.Tubuhnya membeku bagai patung, tenggelam sepenuhnya dalam lautan penyesalan yang memenuhi ruangan.Keesokan harinya, Yuda memasukkan daging, beras, dan berbagai bahan makanan yang telah disiapkan ke dalam tas ransel.Dia bersiap pulang ke kampung halaman.Namun tepat saat hendak berangkat, Salsa tiba-tiba berlari menghampirinya.Devan membuat masalah di sekolah.Bocah itu merebut tas baru milik temannya, bahkan mengancam akan memukuli siapa pun yang berani melapor.Di sekolah baru, tak satu pun anak yang mau menuruti kemauannya.Teman-teman sekelas pun mengungkapkan kronologi kejadian satu per satu.Tanpa ragu, pihak sekolah memutuskan Devan harus dijemput orang tuanya.

  • Tanpa Ayah di Hari Terakhir   Bab 10

    Di dalam ruangan yang gelap dan tertutup, Yuda hampir lupa akan waktu.Dia sudah berjanji pada Devan.Demi menjaga harga diri anak itu agar tak diremehkan teman-temannya, dia bersedia berpura-pura menjadi ayahnya dan muncul sebentar di acara pembukaan sekolah.“Yuda, sore ini waktunya Devan daftar ulang. Kamu ‘kan sudah janji mau antar dia ke sekolah.”Yuda mengusap pelipisnya yang berdenyut nyeri.Cahaya matahari menembus celah jendela, jatuh tepat di wajahnya, membuatnya refleks memicingkan mata.Mimpi barusan terlalu indah, hingga membuatnya larut dalam kerinduan.Ketukan di pintu yang memecah keheningan justru membuatnya sedikit kesal.Dia bangkit perlahan, mengusap wajah dengan telapak tangan yang kering, lalu melangkah menuju pintu.Begitu pintu terbuka, tatapannya langsung bertemu dengan mata Salsa yang tampak memelas.“Maaf, Salsa. Aku nggak bisa menemanimu hari ini.”Sorot mata Salsa bergetar, memancarkan kebingungan dan kepolosan.“Ah … tapi hari ini kamu sudah janji sama Dev

  • Tanpa Ayah di Hari Terakhir   Bab 9

    “Amanda! Aku tahu aku salah. Tolong … beri aku satu kesempatan lagi.”“Aku benar-benar nggak mau kehilanganmu!”“Ini semua salahku! Aku memang bajingan! Pukul aku, maki aku, apa pun … asalkan kamu jangan pergi.”Yuda, seorang pria yang sangat menjaga harga dirinya. Jarang sekali aku melihatnya merendah seperti ini.Sayangnya, aku tak merasa terharu ataupun iba.Hanya saja … aku merasa sedikit lucu.Aku menghela napas panjang.“Yuda! Surat permohonan cerai sudah aku ajukan. Mulai sekarang, sebaiknya kita berhenti saling ganggu.”“Nggak! Aku nggak mau!”Yuda menggeleng cepat, mati-matian menolak melepaskan tanganku.Aku menatap kesedihannya dengan dingin, tanpa sedikit pun goyah.Dari pengeras suara, terdengar pengumuman.Kereta akan segera berangkat.Aku menoleh ke arah peron, dan melihat Yuda kembali gelisah. Seolah begitu melepas genggamannya, aku benar-benar akan pergi selamanya.Melihatnya terus menghalangiku, tiba-tiba aku mendapatkan ide. Aku menunjuk ke belakangnya dan berteriak

  • Tanpa Ayah di Hari Terakhir   Bab 8

    Aku mengambil koperku, menatap rumah itu untuk terakhir kalinya, lalu berbalik melangkah pergi.Hanya ada satu bus yang menghubungkan kompleks perumahan dengan stasiun.Dulu, ketika kami berangkat, Damar duduk di sampingku.Matanya berbinar, menoleh ke sana kemari penuh rasa ingin tahu.Seperti burung kecil yang riang, tak hentinya berkicau.Kini, perjalanan pulang terasa begitu sunyi.Aku duduk di kursi yang sama seperti saat kami pertama kali datang.Di sampingku, kursi itu kosong.Hanya ada sebuah tas sekolah yang tergeletak di sana.Sopir bus beberapa kali melirikku lewat kaca spion.Akhirnya, dia tak tahan untuk bertanya.“Kamu pulang karena urusan keluarga, ya? Kok anaknya nggak ikut?”Aku menoleh ke tas sekolah di sebelahku, lalu menjawab pelan, “Dia ikut, kok.”Deru mesin bus dan gesekan roda di aspal menelan suaraku.Sopir itu seolah tak mendengar jawabanku dan melanjutkan ucapannya, “Aku sudah bertemu banyak anak, tapi anakmu itu paling berkesan.”“Anak yang ceria, juga mengg

  • Tanpa Ayah di Hari Terakhir   Bab 7

    “Kenapa?”“Aku mati-matian mengejar prestasi militer. Semua itu kulakukan demi memberi kalian kehidupan yang lebih baik. Tapi kenapa … kenapa kalian tetap nggak bahagia?”Aku menggeleng sembari tertawa sinis.“Hidup yang lebih baik? Hidup seperti apa yang menurutmu lebih baik? Pernah kamu tanya aku sama Damar … apa yang sebenarnya kami butuhkan?”Yuda menatapku tajam. Sorot matanya menyimpan emosi yang tak bisa kumengerti.“Aku penuhi semua kebutuhanmu! Baju, makanan, rumah! Aku nggak pernah menelantarkan kalian. Semua kupenuhi! Lalu, apa lagi yang kalian mau?”Bibirku mengerut. Aku mengalihkan pandangan ke luar jendela, menatap langit yang terasa begitu jauh, sejenak melayang dalam pikiranku.“Dulu, aku dan Damar tinggal di desa. Hidup kami serba kekurangan. Bahkan satu roti pun harus dibagi dua. Tapi entah kenapa … kami merasa cukup.”“Hal yang paling disukai Damar waktu itu adalah duduk menemaniku di halaman. Dia memandangi pohon kurma yang kamu tanam di sudut tembok, menghitung sat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status