Share

Bab 5

Author: Daun
Seiring waktu, Yuda akhirnya mengingat … Damar suka kue persik.

Namun dia tak tahu ….

Damar menderita asma. Makanan kering adalah yang paling dia benci.

Yang dia tunggu bukanlah kue persik, melainkan ayahnya, Yuda, yang selalu kembali dengan selamat.

Hatiku perih, tapi di wajahku tetap terlukis senyum tipis.

“Makasih,” ucapku lembut.

Yuda membalas dengan senyum hangat, lalu kembali berbicara, “Anak Salsa suka banget sama baju Damar, jadi kuberikan saja padanya. Lagi pula, sekarang harga kain nggak mahal, kamu bisa buat lagi untuk Damar. Gimana menurutmu?”

Aku mengangguk pelan. Entah kenapa, hatiku terasa begitu damai.

“Nggak apa-apa,” jawabku.

Yuda tampak terkejut, seolah tak terbiasa melihat ketenanganku.

“Kamu nggak marah?”

Aku menggeleng.

“Nggak.”

“Oh iya, malam ini ulang tahun Damar. Kamu bisa pulang nemenin dia merayakannya?”

Menyadari permintaan itu, Yuda jelas terlihat lega.

Dia tersenyum lebar, bahkan memberi hormat kecil padaku.

“Siap, laksanakan.”

Malam itu, aku menyiapkan satu meja penuh makanan kesukaan Damar.

Aku juga meletakkan foto hitam-putihnya di atas kursi, lalu duduk diam menunggu Yuda pulang.

Orang-orang tua bilang, tujuh hari setelah meninggal, arwah seseorang akan kembali ke dunia … untuk menatap orang-orang yang dicintainya terakhir kali.

Aku berharap malam ini, saat anakku kembali, dia bisa melihatku dan Yuda.

Melihat kami merayakan ulang tahunnya … untuk terakhir kalinya.

Jam di meja berdentang berulang kali.

Sudah pukul sepuluh malam, tapi Yuda masih belum muncul.

Aku tak bisa menunggu lebih lama, dan memutuskan pergi langsung ke markas.

Begitu keluar dari kompleks, mataku menangkap cahaya kembang api di pinggir jalan.

Anakku paling suka melihat kembang api yang meriah.

Namun Yuda selalu sibuk, tak pernah punya waktu untuk menemaninya.

Aku pun menarik napas dalam-dalam, bersiap untuk diam-diam melewati mereka dan pergi.

Baru beberapa langkah, terdengar suara Salsa.

“Yuda, hati-hati ya, jangan sampai apinya kena Devan!”

Dia berdiri di bawah pohon, suaranya manja dan riang.

“Ya!” sahut Yuda, lalu menggesekkan korek api, menyalakan kembang api di tangan anak laki-laki itu.

“Devan, selamat ya! Besok kamu resmi masuk sekolah!”

“Devan, selamat masuk sekolah!” teriak Salsa sembari menutup telinga.

Tawa mereka berpadu dengan letupan kembang api, menggema di sepanjang jalan.

Aku berdiri di balik bayangan, menyaksikan semuanya.

Hatiku hancur berkeping-keping … berkali-kali.

Yuda … apa kamu masih ingat anak kita?

Besok juga hari pertamanya masuk sekolah.

Tapi dia … sudah tak sempat menunggu.

Aku tak ingin mengganggu mereka.

Aku pun berbalik dan pulang dengan langkah sunyi.

Di atas meja, mie panjang umur yang kusiapkan sudah menggumpal, lembek, tak berbentuk.

Aku mengambil satu suapan, menatap ke foto anakku, dan tersenyum.

“Asin sekali .…”

“Lebih asin dari makanan yang Mama makan di rumah sakit hari itu.”

Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan getar di suaraku.

“Damar, selamat ulang tahun.”

“Dan … Mama kangen banget sama kamu.”

Malam itu, Yuda menyalakan kembang api semalaman bersama anak Salsa.

Sementara aku … tetap duduk di samping foto mendiang anakku, menelan semangkuk mie panjang umur hingga habis.

Saat fajar tiba, aku kembali ke kamar untuk mengemasi koper.

Di saat yang sama, Yuda pulang ke rumah.

“Damar, Ayah pulang!”

“Semalam ada tugas mendadak di markas. Ayah nggak sempat kasih kabar. Maaf, Ayah melewatkan ulang tahunmu.”

“Tapi Ayah beliin kamu hadiah ulang tahun. Tas sekolah baru. Cepat coba ....”

Kata-katanya mendadak terhenti.

Tatapan Yuda membeku, tertuju pada foto hitam-putih yang ada di atas kursi.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tanpa Ayah di Hari Terakhir   Bab 12

    Hujan semakin deras. Namun, sosok yang berdiri di depan pintu tetap tak mau pergi.Tangis pilu Yuda bercampur dengan suara hujan, menggema sepanjang malam, tapi hatiku tak melunak sedikit pun.Perasaanku padanya telah lama terkikis habis, seiring kepergian Damar.Beberapa hari berikutnya, Yuda hanya berdiri jauh di luar. Pandangannya tertuju pada altar duka di halaman rumah. Air mata menetes tanpa henti.Meski para tetangga merasa iba dan terus membelanya, aku tetap tak mengizinkannya melangkah mendekat, bahkan setapak pun.“Damar, permintaan terakhirmu .…”“Mama pasti akan menepatinya.”Aku menebang pohon kurma di halaman rumah, lalu membuangnya ke pinggir jalan, tepat di hadapan Yuda.Buah-buah kurma berjatuhan ke tanah, satu per satu.Mata Yuda memerah.Malam itu juga, dia pergi meninggalkan tempat ini.…Enam bulan kemudian.Dari ruang kelas sederhana di desa, terdengar suara anak-anak membaca lantang.“Musim semi datang tanpa terasa, di mana-mana terdengar kicauan burung .…”Yuda

  • Tanpa Ayah di Hari Terakhir   Bab 11

    Di balik pintu, Yuda terduduk bersandar, punggungnya menempel di pintu.Kata-kata Salsa barusan langsung menghapus rasa bersalah yang sempat muncul di hatinya.Dia memegangi kepalanya, sulit menerima kenyataan bahwa selama ini dia berulang kali menyakiti istri dan anaknya … demi wanita seperti itu.Kepalanya tertunduk.Tubuhnya membeku bagai patung, tenggelam sepenuhnya dalam lautan penyesalan yang memenuhi ruangan.Keesokan harinya, Yuda memasukkan daging, beras, dan berbagai bahan makanan yang telah disiapkan ke dalam tas ransel.Dia bersiap pulang ke kampung halaman.Namun tepat saat hendak berangkat, Salsa tiba-tiba berlari menghampirinya.Devan membuat masalah di sekolah.Bocah itu merebut tas baru milik temannya, bahkan mengancam akan memukuli siapa pun yang berani melapor.Di sekolah baru, tak satu pun anak yang mau menuruti kemauannya.Teman-teman sekelas pun mengungkapkan kronologi kejadian satu per satu.Tanpa ragu, pihak sekolah memutuskan Devan harus dijemput orang tuanya.

  • Tanpa Ayah di Hari Terakhir   Bab 10

    Di dalam ruangan yang gelap dan tertutup, Yuda hampir lupa akan waktu.Dia sudah berjanji pada Devan.Demi menjaga harga diri anak itu agar tak diremehkan teman-temannya, dia bersedia berpura-pura menjadi ayahnya dan muncul sebentar di acara pembukaan sekolah.“Yuda, sore ini waktunya Devan daftar ulang. Kamu ‘kan sudah janji mau antar dia ke sekolah.”Yuda mengusap pelipisnya yang berdenyut nyeri.Cahaya matahari menembus celah jendela, jatuh tepat di wajahnya, membuatnya refleks memicingkan mata.Mimpi barusan terlalu indah, hingga membuatnya larut dalam kerinduan.Ketukan di pintu yang memecah keheningan justru membuatnya sedikit kesal.Dia bangkit perlahan, mengusap wajah dengan telapak tangan yang kering, lalu melangkah menuju pintu.Begitu pintu terbuka, tatapannya langsung bertemu dengan mata Salsa yang tampak memelas.“Maaf, Salsa. Aku nggak bisa menemanimu hari ini.”Sorot mata Salsa bergetar, memancarkan kebingungan dan kepolosan.“Ah … tapi hari ini kamu sudah janji sama Dev

  • Tanpa Ayah di Hari Terakhir   Bab 9

    “Amanda! Aku tahu aku salah. Tolong … beri aku satu kesempatan lagi.”“Aku benar-benar nggak mau kehilanganmu!”“Ini semua salahku! Aku memang bajingan! Pukul aku, maki aku, apa pun … asalkan kamu jangan pergi.”Yuda, seorang pria yang sangat menjaga harga dirinya. Jarang sekali aku melihatnya merendah seperti ini.Sayangnya, aku tak merasa terharu ataupun iba.Hanya saja … aku merasa sedikit lucu.Aku menghela napas panjang.“Yuda! Surat permohonan cerai sudah aku ajukan. Mulai sekarang, sebaiknya kita berhenti saling ganggu.”“Nggak! Aku nggak mau!”Yuda menggeleng cepat, mati-matian menolak melepaskan tanganku.Aku menatap kesedihannya dengan dingin, tanpa sedikit pun goyah.Dari pengeras suara, terdengar pengumuman.Kereta akan segera berangkat.Aku menoleh ke arah peron, dan melihat Yuda kembali gelisah. Seolah begitu melepas genggamannya, aku benar-benar akan pergi selamanya.Melihatnya terus menghalangiku, tiba-tiba aku mendapatkan ide. Aku menunjuk ke belakangnya dan berteriak

  • Tanpa Ayah di Hari Terakhir   Bab 8

    Aku mengambil koperku, menatap rumah itu untuk terakhir kalinya, lalu berbalik melangkah pergi.Hanya ada satu bus yang menghubungkan kompleks perumahan dengan stasiun.Dulu, ketika kami berangkat, Damar duduk di sampingku.Matanya berbinar, menoleh ke sana kemari penuh rasa ingin tahu.Seperti burung kecil yang riang, tak hentinya berkicau.Kini, perjalanan pulang terasa begitu sunyi.Aku duduk di kursi yang sama seperti saat kami pertama kali datang.Di sampingku, kursi itu kosong.Hanya ada sebuah tas sekolah yang tergeletak di sana.Sopir bus beberapa kali melirikku lewat kaca spion.Akhirnya, dia tak tahan untuk bertanya.“Kamu pulang karena urusan keluarga, ya? Kok anaknya nggak ikut?”Aku menoleh ke tas sekolah di sebelahku, lalu menjawab pelan, “Dia ikut, kok.”Deru mesin bus dan gesekan roda di aspal menelan suaraku.Sopir itu seolah tak mendengar jawabanku dan melanjutkan ucapannya, “Aku sudah bertemu banyak anak, tapi anakmu itu paling berkesan.”“Anak yang ceria, juga mengg

  • Tanpa Ayah di Hari Terakhir   Bab 7

    “Kenapa?”“Aku mati-matian mengejar prestasi militer. Semua itu kulakukan demi memberi kalian kehidupan yang lebih baik. Tapi kenapa … kenapa kalian tetap nggak bahagia?”Aku menggeleng sembari tertawa sinis.“Hidup yang lebih baik? Hidup seperti apa yang menurutmu lebih baik? Pernah kamu tanya aku sama Damar … apa yang sebenarnya kami butuhkan?”Yuda menatapku tajam. Sorot matanya menyimpan emosi yang tak bisa kumengerti.“Aku penuhi semua kebutuhanmu! Baju, makanan, rumah! Aku nggak pernah menelantarkan kalian. Semua kupenuhi! Lalu, apa lagi yang kalian mau?”Bibirku mengerut. Aku mengalihkan pandangan ke luar jendela, menatap langit yang terasa begitu jauh, sejenak melayang dalam pikiranku.“Dulu, aku dan Damar tinggal di desa. Hidup kami serba kekurangan. Bahkan satu roti pun harus dibagi dua. Tapi entah kenapa … kami merasa cukup.”“Hal yang paling disukai Damar waktu itu adalah duduk menemaniku di halaman. Dia memandangi pohon kurma yang kamu tanam di sudut tembok, menghitung sat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status