Share

Bab 4

Author: Daun
Yuda menatapku dengan raut penuh curiga.

“Bukannya sebentar lagi Damar masuk sekolah? Kenapa tiba-tiba mau pulang kampung?”

“Ada kerabat di rumah yang meninggal. Aku mau bawa Damar pulang untuk melayat.”

Yuda tertegun sejenak.

Tanpa bertanya lebih jauh, dia langsung menandatangani surat itu.

“Baiklah. Kalian tinggal lebih lama juga nggak apa-apa. Nggak perlu buru-buru pulang.”

Aku menundukkan kepala, menyembunyikan sudut mataku yang memerah.

“Ya.”

Karena memang … aku tak akan pernah kembali lagi.

Setelah menyimpan surat yang sudah ditandatangani, aku mengantar Yuda sampai ke pintu.

Namun sebelum benar-benar pergi, langkahnya tiba-tiba terhenti, seolah baru teringat sesuatu.

Dia merogoh sakunya, lalu mengeluarkan dua permen bergambar kelinci putih dan menyerahkannya kepadaku.

Aku tertegun sejenak, lalu menerimanya. Permen itu masih menyisakan hangat tubuh Yuda.

Semasa hidup, anakku paling suka permen kelinci putih itu.

“Awalnya ini kubelikan buat anak Salsa, tapi dia nggak suka. Jadi aku buang di rumah sakit,” ucap Yuda menjelaskan.

“Kebetulan masih ada dua di saku. Kasih saja ke Damar. Sayang kalau terbuang.”

Wajahku perlahan memucat.

Aku menatap dua permen di telapak tanganku. Cahaya di mataku perlahan padam, menyisakan kelelahan dan kehampaan yang mendalam.

“Ya.”

Tinggal satu hari lagi.

Hari ketiga, aku pergi sendiri ke krematorium, mengantar anakku untuk perjalanan terakhirnya.

Malam itu, setelah pendaftaran sekolah dasar selesai, Yuda tak ada di rumah. Aku dan Damar duduk di halaman, menikmati angin malam.

Damar bersandar di pangkuanku, menatapku yang sedang menjahitkan tas sekolah untuknya.

“Ma, nanti kalau aku sudah sekolah, aku pasti belajar dengan sungguh-sungguh. Kelak, aku mau mengabdi pada negara, seperti ayah,” ucapnya polos.

“Ma, Mama percaya aku bisa jadi pahlawan besar seperti ayah, ‘kan?”

Aku mengusap kepalanya, wajahku dipenuhi rasa bangga.

“Tentu saja Mama percaya. Damar ‘kan anak Mama yang paling hebat.”

Saat itu, aku sama sekali tak menyangka.

Beberapa hari kemudian, karena Yuda tak mau menolong, anakku harus pergi selamanya.

Bahkan sebelum sempat memulai hari pertamanya di sekolah.

Aku memejamkan mata, membiarkan air mata jatuh begitu saja, membasahi tas sekolah yang kugenggam erat.

Menatap lima huruf yang kujahit dengan tanganku sendiri.

[Damar]

Akhirnya aku tak mampu lagi menahan tangis.

Anakku ….

Kamu baru tujuh tahun.

Baru saja mendaftar di sekolah dasar.

Kamu belum sempat memanggul tas buatan ibu.

Belum sempat menyapa guru dan teman-temanmu.

Belum sempat mengatakan pada ayahmu bahwa mimpimu adalah melindungi negara seperti dirinya .…

Namun kamu pergi begitu saja.

Tanpa tanda.

Tanpa perpisahan.

Meninggalkan ibu sendirian, bertahan hidup di dunia yang begitu kejam ini.

Aku tak tahu sudah berapa lama aku menangis.

Saat petugas menyerahkan kotak abu anakku kepadaku, mataku sudah kering, tak sanggup lagi meneteskan setitik air mata pun.

Aku memasukkan kotak abu itu ke dalam tas sekolahnya, lalu pulang dengan langkah gontai.

Semalaman aku tak tidur.

Aku menjahitkan pakaian baru untuk anakku.

Kususun baju itu rapi, berdampingan dengan kotak abu di dalam tas.

Saat aku hendak menutup ritsleting, suara berat dan magnetis tiba-tiba terdengar dari belakang.

“Apa yang ada di tanganmu?”

Dadaku bergetar hebat.

Aku panik, buru-buru menghapus air mata dan mengalihkan pembicaraan.

“Kamu sudah pulang? Bukannya harus menemani Salsa?”

Yuda menatapku heran, lalu meletakkan bungkusan kertas minyak di atas meja.

“Mana Damar?”

“Aku belikan dia kue persik kesukaannya.”

Yuda adalah seorang komandan resimen.

Sering pergi menjalankan misi.

Sekali berangkat, biasanya lebih dari setengah bulan.

Dan setiap kali pulang, dia selalu membawa sebungkus kue persik untuk Damar.

Setiap kali aroma kue itu tercium, tak peduli sedang apa, anakku pasti akan berlari keluar dengan wajah penuh kegembiraan … menyambut ayahnya.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tanpa Ayah di Hari Terakhir   Bab 12

    Hujan semakin deras. Namun, sosok yang berdiri di depan pintu tetap tak mau pergi.Tangis pilu Yuda bercampur dengan suara hujan, menggema sepanjang malam, tapi hatiku tak melunak sedikit pun.Perasaanku padanya telah lama terkikis habis, seiring kepergian Damar.Beberapa hari berikutnya, Yuda hanya berdiri jauh di luar. Pandangannya tertuju pada altar duka di halaman rumah. Air mata menetes tanpa henti.Meski para tetangga merasa iba dan terus membelanya, aku tetap tak mengizinkannya melangkah mendekat, bahkan setapak pun.“Damar, permintaan terakhirmu .…”“Mama pasti akan menepatinya.”Aku menebang pohon kurma di halaman rumah, lalu membuangnya ke pinggir jalan, tepat di hadapan Yuda.Buah-buah kurma berjatuhan ke tanah, satu per satu.Mata Yuda memerah.Malam itu juga, dia pergi meninggalkan tempat ini.…Enam bulan kemudian.Dari ruang kelas sederhana di desa, terdengar suara anak-anak membaca lantang.“Musim semi datang tanpa terasa, di mana-mana terdengar kicauan burung .…”Yuda

  • Tanpa Ayah di Hari Terakhir   Bab 11

    Di balik pintu, Yuda terduduk bersandar, punggungnya menempel di pintu.Kata-kata Salsa barusan langsung menghapus rasa bersalah yang sempat muncul di hatinya.Dia memegangi kepalanya, sulit menerima kenyataan bahwa selama ini dia berulang kali menyakiti istri dan anaknya … demi wanita seperti itu.Kepalanya tertunduk.Tubuhnya membeku bagai patung, tenggelam sepenuhnya dalam lautan penyesalan yang memenuhi ruangan.Keesokan harinya, Yuda memasukkan daging, beras, dan berbagai bahan makanan yang telah disiapkan ke dalam tas ransel.Dia bersiap pulang ke kampung halaman.Namun tepat saat hendak berangkat, Salsa tiba-tiba berlari menghampirinya.Devan membuat masalah di sekolah.Bocah itu merebut tas baru milik temannya, bahkan mengancam akan memukuli siapa pun yang berani melapor.Di sekolah baru, tak satu pun anak yang mau menuruti kemauannya.Teman-teman sekelas pun mengungkapkan kronologi kejadian satu per satu.Tanpa ragu, pihak sekolah memutuskan Devan harus dijemput orang tuanya.

  • Tanpa Ayah di Hari Terakhir   Bab 10

    Di dalam ruangan yang gelap dan tertutup, Yuda hampir lupa akan waktu.Dia sudah berjanji pada Devan.Demi menjaga harga diri anak itu agar tak diremehkan teman-temannya, dia bersedia berpura-pura menjadi ayahnya dan muncul sebentar di acara pembukaan sekolah.“Yuda, sore ini waktunya Devan daftar ulang. Kamu ‘kan sudah janji mau antar dia ke sekolah.”Yuda mengusap pelipisnya yang berdenyut nyeri.Cahaya matahari menembus celah jendela, jatuh tepat di wajahnya, membuatnya refleks memicingkan mata.Mimpi barusan terlalu indah, hingga membuatnya larut dalam kerinduan.Ketukan di pintu yang memecah keheningan justru membuatnya sedikit kesal.Dia bangkit perlahan, mengusap wajah dengan telapak tangan yang kering, lalu melangkah menuju pintu.Begitu pintu terbuka, tatapannya langsung bertemu dengan mata Salsa yang tampak memelas.“Maaf, Salsa. Aku nggak bisa menemanimu hari ini.”Sorot mata Salsa bergetar, memancarkan kebingungan dan kepolosan.“Ah … tapi hari ini kamu sudah janji sama Dev

  • Tanpa Ayah di Hari Terakhir   Bab 9

    “Amanda! Aku tahu aku salah. Tolong … beri aku satu kesempatan lagi.”“Aku benar-benar nggak mau kehilanganmu!”“Ini semua salahku! Aku memang bajingan! Pukul aku, maki aku, apa pun … asalkan kamu jangan pergi.”Yuda, seorang pria yang sangat menjaga harga dirinya. Jarang sekali aku melihatnya merendah seperti ini.Sayangnya, aku tak merasa terharu ataupun iba.Hanya saja … aku merasa sedikit lucu.Aku menghela napas panjang.“Yuda! Surat permohonan cerai sudah aku ajukan. Mulai sekarang, sebaiknya kita berhenti saling ganggu.”“Nggak! Aku nggak mau!”Yuda menggeleng cepat, mati-matian menolak melepaskan tanganku.Aku menatap kesedihannya dengan dingin, tanpa sedikit pun goyah.Dari pengeras suara, terdengar pengumuman.Kereta akan segera berangkat.Aku menoleh ke arah peron, dan melihat Yuda kembali gelisah. Seolah begitu melepas genggamannya, aku benar-benar akan pergi selamanya.Melihatnya terus menghalangiku, tiba-tiba aku mendapatkan ide. Aku menunjuk ke belakangnya dan berteriak

  • Tanpa Ayah di Hari Terakhir   Bab 8

    Aku mengambil koperku, menatap rumah itu untuk terakhir kalinya, lalu berbalik melangkah pergi.Hanya ada satu bus yang menghubungkan kompleks perumahan dengan stasiun.Dulu, ketika kami berangkat, Damar duduk di sampingku.Matanya berbinar, menoleh ke sana kemari penuh rasa ingin tahu.Seperti burung kecil yang riang, tak hentinya berkicau.Kini, perjalanan pulang terasa begitu sunyi.Aku duduk di kursi yang sama seperti saat kami pertama kali datang.Di sampingku, kursi itu kosong.Hanya ada sebuah tas sekolah yang tergeletak di sana.Sopir bus beberapa kali melirikku lewat kaca spion.Akhirnya, dia tak tahan untuk bertanya.“Kamu pulang karena urusan keluarga, ya? Kok anaknya nggak ikut?”Aku menoleh ke tas sekolah di sebelahku, lalu menjawab pelan, “Dia ikut, kok.”Deru mesin bus dan gesekan roda di aspal menelan suaraku.Sopir itu seolah tak mendengar jawabanku dan melanjutkan ucapannya, “Aku sudah bertemu banyak anak, tapi anakmu itu paling berkesan.”“Anak yang ceria, juga mengg

  • Tanpa Ayah di Hari Terakhir   Bab 7

    “Kenapa?”“Aku mati-matian mengejar prestasi militer. Semua itu kulakukan demi memberi kalian kehidupan yang lebih baik. Tapi kenapa … kenapa kalian tetap nggak bahagia?”Aku menggeleng sembari tertawa sinis.“Hidup yang lebih baik? Hidup seperti apa yang menurutmu lebih baik? Pernah kamu tanya aku sama Damar … apa yang sebenarnya kami butuhkan?”Yuda menatapku tajam. Sorot matanya menyimpan emosi yang tak bisa kumengerti.“Aku penuhi semua kebutuhanmu! Baju, makanan, rumah! Aku nggak pernah menelantarkan kalian. Semua kupenuhi! Lalu, apa lagi yang kalian mau?”Bibirku mengerut. Aku mengalihkan pandangan ke luar jendela, menatap langit yang terasa begitu jauh, sejenak melayang dalam pikiranku.“Dulu, aku dan Damar tinggal di desa. Hidup kami serba kekurangan. Bahkan satu roti pun harus dibagi dua. Tapi entah kenapa … kami merasa cukup.”“Hal yang paling disukai Damar waktu itu adalah duduk menemaniku di halaman. Dia memandangi pohon kurma yang kamu tanam di sudut tembok, menghitung sat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status