Zein terjatuh lagi ke kasur, wajahnya meringis kesakitan.Jasmine terdiam sejenak, menatap Zein yang masih berusaha bangkit. Tiba-tiba,“Pff—hahaha...” tawanya meledak. “Serius, Zein? Kamu mau mandi sendiri?”Zein menoleh, sorot matanya penuh kekesalan.“Jangan ketawa.”Jasmine terkiki geli. “Lah, bagaimana aku tidak ketawa? Kamu saja belum bisa berdiri.”Zein menyipitkan mata, tidak terima.“Kalau aku jatuh… itu salah kamu.”Jasmine langsung melotot.“Loh, kenapa jadi salah aku?!”“Kamu yang nolak aku.”Jasmine tercekat.“…itu nyambungnya ke mana, sih?!”“Semua nyambung,” jawab Zein cepat, tanpa ragu. Ucapannya memang tidak masuk akal, dan dia sendiri terlihat yakin.Jasmine menatap Zein beberapa detik, lalu menghela napas, menyerah.“…ya ampun, Zein.”Ia menggeleng kecil, tapi tetap mendekat.“Sudah. Sini.” Tangannya meraih lengan Zein. “Aku bantu.”Dengan sedikit susah payah, Jasmine memapah Zein melangkah menuju kamar mandi. Kaki Zein masih berat dan sesekali goyah, tapi kali ini
Read more